Selama Ramadan umat Islam melakukan tahapan-tahapan pembersihan, penyucian, dan pembebasan rohani melalui metode puasa yang diakhiri dengan Idulfitri.
Puasa merupakan proses penyucian ke dalam diri pelakunya, dan mengharapkan ampunan serta rahmat Allah. Sementara peleburan kesalahan terhadap sesama manusia hanya dapat dilakukan dengan metode maaf-memaafkan.
Dalam Islam, memaafkan adalah sikap dan perbuatan yang sangat terpuji tanpa menunggu orang lain mengulurkan tangan memohon maaf. Meskipun demikian diharapkan dalam pergaulan sosial terjadi hubungan timbal balik sehingga melahirkan kesadaran untuk memohon maaf dan memaafkan antara seseorang dengan lainnya.
Menurut Al-Qur'an, setiap dosa atau kesalahan adalah kezaliman. Dalam kehidupan ini kezaliman itu ada tiga macam, yaitu: Pertama, kezaliman yang tidak akan diampuni Allah. Kedua, Kezaliman yang akan diampuni Allah. Ketiga, Kezaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah.
Kezaliman yang tidak akan diampuni Allah adalah kemusyrikan. Kezaliman yang akan diampuni Allah adalah kezaliman manusia terhadap Tuhan-Nya. Sedangkan kezaliman yang tidak dibiarkan Allah adalah kezaliman di antara sesama manusia. Allah akan menuntut balas di antara sesama hamba-Nya.
Kalau Anda pernah melalaikan salat, pernah mengabaikan perintah Allah atau pernah melakukan maksiat kepada-Nya, insyaallah puasamu, salat malammu, bacaan Al-Qur'an-mu akan menurunkan ampunan dari Allah. Karena kelalaian dan dosa yang Anda lakukan merupakan bentuk kezaliman kepada Allah.
Allah yang Maha Kasih dan Mahasayang akan mengampuni dosa-dosamu seluruhnya. Puasa Ramadan, zikir-zikirmu, doa-doamu, salat malammu akan menghapus dosa dan kesalahanmu ibarat air yang membersihkan pakaian putih dari kotoran.
Namun bila Anda pernah menyakiti hati kedua orang tuamu, tetanggamu, karib kerabatmu, teman sejawatmu, pegawai atau karyawanmu, maka puasa dan salat malammu tidak akan menghapus kesalahan-kesalahanmu. Bahkan dosa-dosa itu akan menghapus semua pahala salat malam dan puasamu.
Diriwayatkan bahwa seorang perempuan yang senantiasa puasa di siang hari Ramadan dan salat pada malam harinya, namun perempuan itu menyakiti hati tetangganya dengan ucapan-ucapannya. Rasulullah berkata pendek: “perempuan itu di neraka”. Karena menyakiti hati seseorang adalah kezaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah. Rasulullah diutus tidak hanya untuk mengajarkan zikir dan doa saja, tapi untuk menyempurnakan akhlak dan karakter manusia.
Belajar pada apa saja yang diciptakan Tuhan dalam kehidupan, seperti matahari yang senantiasa menyinari bumi tanpa peduli apakah manusia mau berterima kasih atau tidak. Demikian pula dengan hukum alam yang mengatur kehidupan misalnya seberapa banyak engkau memberi, sebanyak itu pula engkau akan menerima.
Sesering apa pun engkau memberi, sesering itu pula engkau akan menerima. Jika engkau menatap orang dengan senyum, maka niscaya orang itu akan memelukmu. Jika engkau mencaci maki sesamamu, niscaya mereka akan menceritakan kejelekanmu.
Seharusnya logika maaf-memaafkan berjalan seperti itu, kalau kita berharap Allah mengampuni kesalahan dan dosa kita. Seyogianya kita pun memaafkan orang lain tanpa syarat. Sangat disayangkan dalam kehidupan ini, kita sering kali lupa pada kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, namun begitu sulitnya untuk melupakan kesalahan orang lain kepada kita.
Padahal Allah sendiri menyediakan sifat-sifat pemaafnya seperti At-Tawwab (Maha Menerima Taubat), Al-Afuwwu (Maha Memaafkan), Al-Ghafur dan Al-Ghaffar (Maha Mengampuni). Bagaimana mungkin manusia memiliki sifat untuk tidak memaafkan sesamanya.
Karena itu memaafkan harus dilakukan tanpa syarat sebagai implementasi sifat-sifat Tuhan yang Maha Kasih dan tak pilih kasih. Semoga dengan merayakan Idulfitri kita termasuk orang yang senantiasa memaafkan orang lain tanpa syarat dan menjadi kontrak hidup sepanjang zaman. (*)
Alat AksesVisi