TOKOH dan pelaku perjuangan di medan perang yang melakukan perlawanan pisik disebut sebagai pahlawan. Dahulu kepahlawanan para pejuang senantiasa dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa heroik membela tanah air untuk merebut kemerdekaan. Berkat perjuangan para pahlawan, sehingga kemerdekaan hari ini dapat kita nikmati. Perjuangan mereka merebut kemerdekaan, sedang perjuangan kita adalah mengisi kemerdekaan.
Peradaban dan kemerdekaan adalah dua hal yang saling terkait antara satu dengan lainnya. Karena peradaban tidak mungkin terbangun tanpa kemerdekaan. Mengisi kemerdekaan tentu dengan membangun peradaban. Ungkapan lama mengatakan “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Menghargai pahlawan adalah salah satu sikap dalam menegakkan nilai-nilai peradaban.
Dalam merebut kemerdekaan, perjuangan para pahlawan mengangkat senjata dengan cucuran air mata dan darah, perjuangan kita sekarang ini dengan mengerahkan pikiran dan tenaga dalam membangun peradaban sesuai tuntutan profesi. Karena profesionalisme merupakan ciri masyarakat yang beradab. Misalnya profesi guru, untuk membangun sebuah bangsa selalu berawal dari sikap mengutamakan pendidikan, lalu menghargai dan memuliakan guru.
Tradisi di lingkungan pesantren, tidak ada santri yang berani melawan kiai atau gurunya karena siapa saja yang berani melawan guru ilmunya tidak akan bermanfaat. Demikian itu salah satu doktrin dan etika yang tumbuh dan dipelihara di lingkungan pesantren sehingga hubungan guru dan murid senantiasa berjalan sangat santun dan penuh hormat. Meskipun setelah tamat, seorang santri meraih titel kesarjanaan bahkan telah menjadi profesor, ketika bertemu dengan guru atau kiainya akan tetap menempatkan diri sebagai santri atau murid.
Sikap santun dan hormat secara tulus mulai menipis di dunia pendidikan kita sekarang ini. Padahal, berkat jasa guru sehingga kita menjadi terpelajar, dapat membedakan baik dan buruk, terpuji maupun tercela. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana nasib generasi kita tanpa adanya lembaga pendidikan yang dikelola dan diasuh oleh guru yang bekerja dengan penuh cinta kasih dan profesional.
Perilaku hormat dan menghargai guru, harus ditanamkan sejak dini kepada anak dan generasi kita. Karena sikap demikian akan membentuk kepribadiannya di masa depan. Mengajari mereka menjalani hidup mulia dan memuliakan sesama, pada gilirannya akan melahirkan generasi yang pandai menghargai dan memuliakan guru yang telah membukakan jendela peradaban dunia.
Guru sebagai pahlawan peradaban harus merasa bahagia dengan profesinya, kebahagiaan guru tidak ditentukan oleh bagus dan indahnya gedung sekolah, bukan pula disebabkan oleh gaji yang dinaikkan melalui sertifikasi. Kebahagiaan itu muncul ketika menyaksikan anak didiknya sukses menjalani hidup secara mulia, kemudian anak didiknya itu berkata semua kesuksesan ini berkata jasa guruku.
Menjalani profesi sebagai guru, tidak hanya dituntut untuk memberikan ilmu sesuai dengan keahlian dan tuntutan kurikulum. Tapi selain profesionalisme, guru juga dituntut untuk mengajar dengan cinta kasih. Guru yang mengajar dengan hati akan didengar oleh murid dengan hati. Guru yang mengajar dengan cinta kasih akan dicintai dan dikasihi oleh murid. Guru yang pandai menghargai murid akan dihargai oleh murid.
Suasana yang membahagiakan terwujud jika seluruh aktivitas dilaksanakan secara profesional dan santun, karena apa saja kegiatan atau profesi yang dilakukan tidak bersumber dari hati dan nurani akan melahirkan sikap terpaksa cenderung tidak profesional dan asal jadi. Ajaran agama menuntun bahwa semua orang rugi kecuali yang beramal, semua orang yang beramal celaka kecuali yang ikhlas. Semoga guru sebagai pahlawan peradaban merasa bahagia dan bangga dengan profesinya, dan senantiasa mengajar dengan hati dan cinta kasih. (*)
Alat AksesVisi