Dalam keseharian di ruang belajar, sering kali pendidik terjebak pada format besar kurikulum sehingga melupakan elemen paling mendasar: komunikasi kecil. Padahal, sapaan hangat, apresiasi tulus, atau teguran lembut berbasis empati merupakan instrumen evaluasi diri bagi pendidik untuk melihat sejauh mana mereka telah menghadirkan "Oase" bagi peserta didik. Muhammad Ilyas Ismail memandang bahwa komunikasi semacam ini bukan sekadar teknik bicara, melainkan manifestasi dari Ruhul Mudarris (Jiwa Pendidik).