Sore itu, seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun diantar kedua orang tuanya ke ruang praktikku. Wajah keduanya menyimpan kecemasan yang sulit disembunyikan. Sementara si anak, dengan wajah polosnya, menatapku lekat , tenang, seolah belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.
“Halo, Nak,” sapaku lembut.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Belum sempat ia menjawab, ibunya lebih dulu menyela, suaranya sedikit bergetar.
“Iya, dok… ini anak saya sakit perut. Sudah hampir satu bulan.”
“Sebelah mana sakitnya?”
“Kiri, dok.”
Aku memintanya berbaring. Tubuh kecil itu tampak tegang saat tanganku mulai melakukan palpasi. Ketika kusentuh area tertentu, ia meringis pelan. Rasa nyeri itu nyata.
Pemeriksaan berlanjut. Aku letakkan probe usg di abdomennya. Dan di sanalah aku menemukan, sebuah massa tumor di area ovarium.
Kista ovarium. Gadis usia 10 tahun.
Kista ovarium pada dewasa semakin sering muncul belakangan ini. Namun pada anak sangat jarang.
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Orang tuanya saling berpandangan, seakan mencari jawaban dari satu sama lain.
Dalam beberapa tahun terakhir, kasus seperti ini memang semakin sering kutemui. Data menunjukkan adanya peningkatan kejadian kista ovarium pada anak dan remaja dalam satu dekade terakhir. Tidak selalu berbahaya, tidak selalu memerlukan tindakan besar. Tapi tetap saja, ia adalah tanda bahwa ada sesuatu dalam keseimbangan tubuh yang terganggu.
Aku mengalihkan pembicaraan ke hal yang sering kali luput diperhatikan.
“Bagaimana pola makannya, Bu?”
Ibunya tampak ragu sejenak.
“Anu, dok… dia suka sekali makan junk food. Hampir semua jenis.”
Aku mengangguk pelan.
“ ibu tidak membatasi jajannya?”
Pertanyaan itu tidak kujatuhkan sebagai tudingan. Lebih seperti pintu yang kubuka perlahan.
Ia menunduk.
“Kami sibuk kerja, dok… jadi kalau dia minta sesuatu, ya kami turuti saja. Biar dia senang.”
Kalimat yang sederhana. Tapi aku sudah terlalu sering mendengarnya.
Ada keyakinan yang diam-diam hidup di banyak orang tua, bahwa mengabulkan semua keinginan anak adalah bentuk kasih sayang terbaik. Padahal, sering kali justru di situlah awal dari masalah dimulai.
“Pak, Bu…” kataku pelan, berusaha memilih kata yang tidak melukai, tapi juga tidak membiarkan mereka pulang tanpa pemahaman baru.
“Anak seusia ini belum bisa menentukan mana yang baik untuk tubuhnya. Mereka hanya tahu mana yang enak, mana yang menyenangkan. Di sinilah peran orang tua menjadi penting.”
Mereka mulai benar-benar mendengarkan.
“Makanan seperti junk food itu tinggi gula, lemak jenuh, dan bahan tambahan yang kalau dikonsumsi terus-menerus bisa mempengaruhi keseimbangan hormon. Pada anak yang tubuhnya masih berkembang, efeknya bisa lebih besar. Salah satunya, bisa memicu gangguan seperti kista.”
Aku tidak mengatakan bahwa itu satu-satunya penyebab. Dunia medis tidak sesederhana itu. Tapi pola hidup tetap punya peran yang tidak bisa diabaikan.
Aku menoleh ke anak itu, mencoba mengembalikan suasana menjadi lebih ringan.
“Kamu suka ayam goreng? Burger? Mie instan? Bakso? Sosis? Minuman instan? ” sambil aku tersenyum dan mengedipkan mata ke anak itu
Alat AksesVisi