Gambar Kesalehan Polesan

Pergaulan hidup di lingkungan mana pun selalu tampil dengan wajah ganda. Di satu sisi ada yang tampil sangat bersahaja apa adanya, pada sisi lainnya senantiasa disertai dengan tambahan atau pelengkap agar tampak memiliki nilai lebih dari yang lain.

Tambahan atau pelengkap yang dimaksud biasa disebut dengan aksesoris, agar tampil dengan lebih meyakinkan misalnya: cincin, gelang, anting, tas, dan handpone terbaru. Atau dari sikap penampilan, berjalan dengan posisi tegak, dada sedikit dibusungkan, pandangan mata lurus ke depan, memiliki berbagai jenis kartu kredit agar terkesan sebagai eksekutif muda yang sukses.

Demikian halnya dengan sikap keberagamaan kita, mereka yang meletakkan kesalehan pada segi-segi lahiriah. Ketika kemuliaan diletakkan pada pelaksanaan ajaran agama secara harfiah terhadap teks-teks syariat. Sebagian umat Islam saat ini lebih mudah diajak zikir bersama, umrah bareng-bareng dari pada diajak untuk peduli terhadap sesama misalnya pengentasan kemiskinan.

Padahal Rasulullah saw. diutus bukan hanya mengajari kita zikir dan doa saja, melainkan beliau diutus untuk mengajari kita amar makruf nahi munkar (mengajak pada kebajikan dan mencegah kepada kemungkaran), menjelaskan kepada kita halal dan haram, dan yang sering dilupakan umat Islam adalah tugas untuk membebaskan dari belenggu yang menindas mereka.

Misi Kenabian yang harus dilanjutkan umat Islam adalah memperbaiki masyarakat setelah terlebih dahulu memperbaiki diri. Memberi petunjuk setelah mendapat petunjuk, bukan menjadi orang yang rusak dan merusak masyarakat. Karena itu, model keberagamaan masyarakat ada dua. Pertama, yang merasa puas hanya dengan melaksanakan ajaran agama sesuai teks-teks saja, yang lebih mementingkan kemasan dari pada isi, atau mereka yang merasa puas pada tataran kulit dari pada hakikatnya.

Jalaluddin Rumi mengajari kita sebuah cerita yang berisi parodi atau sebuah sindiran yang sangat halus. Dahulu ada seorang muazin bersuara jelek di sebuah negeri yang minoritas Muslim.

Orang sudah menasihatinya untuk tidak memanggil orang salat dengan azan yang suaranya buruk, khawatir dapat membawa dampak negatif dalam kehidupan masyarakat yang tidak paham dengan azan karena mayoritas bukan Muslim. Namun, muazin itu bersikap keras untuk mengumandangkan azan karena menurutnya melaksanakan sesuatu yang diperintahkan agama.

Beberapa waktu kemudian, seorang laki-laki datang membawa jubah, lilin, dan manisan ke tempat suara azan itu dikumandangkan dan berkata: “Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada yang mengumandangkan azan dengan suara buruk itu, karena selama ini saya sangat khawatir terhadap putriku yang cantik dan berakhlak mulia yang bermaksud menikah dengan seorang muslim sejati”.

Suara azan itu masuk ke rumah kediaman kami dan didengar oleh putriku, dia bertanya: “Suara apa yang tidak enak ini? Suara ini mengganggu telingaku, belum pernah saya mendengar suara sejelek itu dari rumah-rumah ibadah? Bapaknya menjelaskan, itulah suara azan yang memanggil umat Islam untuk beribadah. Setelah mendengar penjelasan dari bapaknya dan semakin diyakinkan oleh kakaknya bahwa itulah suara azan, wajah putri itu tiba-tiba berubah pucat dia berkata: saya tidak akan memeluk Islam, suara itu tidak mendatangkan ketenangan melainkan terganggu dengan kegelisahan.

Jalaluddin Rumi mengajari kita tentang azan yang dilantunkan dengan suara buruk, dapat menghalangi orang masuk Islam. Dari cerita tersebut kita tahu keberagamaan yang dimaksudkan untuk membawa orang pada agama berubah menjadi sesuatu yang menghalangi orang untuk memasuki agama.

Nasihat Jalaluddin Rumi melalui cerita itu. “keimanan kamu wahai Muslim, hanyalah kemunafikan dan kepalsuan. Seperti ajakan tentang azan, alih-alih membawa orang ke jalan yang lurus, malah mencegah orang dari jalan kebenaran”. Keberagamaan yang dibutuhkan adalah keberagamaan yang tulus, keberagamaan yang menekankan pentingnya memelihara lahiriah agama dengan tidak melupakan segi batiniah dan tujuan keberagamaan itu. (*)