Keluarga Besar Pondok Pesantren Darud Da'wah wal-Irsyad (DDI) menggelar acara tasyakuran milad ke-83 tahun Anregurutta Prof. Dr. KH. M. Faried Wajedy, Lc, MA pada tanggal 22 Juni 2026. Dalam acara penamatan santri dan Milad ke-40 tahun Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar, Sabtu, 20 Juni 2026, beliau memberikan tauziyah kepada para santri, guru, pengurus dan orang tua santri, disebut-kan usianya sudah menginjak 83 tahun, tepatnya beliau lahir di Pasau Barru, 22 Juni 1943. Pendi-dikan Sekolah Rakyat 1955, SMP-DDI 1959-1960, SGA-DDI 1960-1961. Kemudian Ibtidaiyyah-DDI 1959, Tsanawiyah-DDI 1963, Aliyah-DDI 1967. Meraih gelar sarjana muda pada Fakultas Syariah DDI Addariyah Mangkoso Barru 1970. Melanju-tkan Pendidikan ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Meraih gelar Le di Universitas Al-Azhar pada Fakultas Syariah dan selesai tahun 1982. Meraih magister (S2) di Darul Ulum Universitas Kairo. Selain itu, Anregurutta Prof. Dr. KH. M. Faried Wajedy, Lc, MA juga tercatat salah satu pimpinan pesantren paling lama, yakni 41 tahun menjalankan amanah sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Darud Da'wah wal-Irsyad Mangkoso, menggantikan ayahnya, AGH. Amberi Said, tercatat sejak 6 Agustus 1985.
Saat memberikan tauziyah di Pesantren An-Na-hdlah, beliau merespon 4 lulusanya diterima di Al-Azhar, lalu ulas pengalamannya kuliah di Universitas Al-Azhar, Mesir, mulai raih Lc hingga magister. AGH. Faried Wajedy kisahkan belajar di Mesir selama 14 tahun, hingga pengabdiannya sebagai Pimpinan Pesantren DDI Mangkoso Barru. Pada kesempatan yang sama, beliau mengisahkan perjuangannya membesarkan DDI Mangkoso, salah-satunya melalui mimpi. Dalam mimpinya mendapat petunjuk untuk mengembangkan DDI Mangkoso, harus membangun di lokasi lain sebab pesantren berada di perkampu-ngan menyulitkan mengembangkan fasilitas karena lokasi terbatas. Esoknya, atas petunjuk mimpinya, langsung menemui Bupati Barru dan akhirnya AGH. Faried Wajedy diminta oleh bupati mencari lokasi strategis yang statusnya aset pemerintah.
Akhirnya menemukan lokasi di atas bukit Ton-ronge. Lokasi tersebut dikhususkan untuk putra. Sementara putri menemputi pondok lama, namun seiring bertambahnya jumlah peminat, lalu gurut-ta kembali menemui Bupati Barru, meski bupati berganti tetapi komitmennya sama. Gurutta diminta mencari lokasi bestatus lahan milik pemerintah, lalu didapatkan lokasi strategis khusus untuk putri, juga berada di atas bukit, jaraknya. Ikhtiar AGH. Faried Wajedy mengembangkan DDI Mangkoso membuahkan hasil, termasuk membangun pergu-ruan tinggi. Gurutta menjalankan amanah sebagai Pimpinan Pesantren DDI Mangkoso sejak tahun 1985. Pernah menjabat Dekan Fakultas Syariah IAI-DDI Addariyah Mangkoso tahun 1985-1994. Ketua MUI Barru sejak 1986 hingga kini. Pada usia 83 tahun, tetap aktif ceramah dan penga-jian pada sejumlah daerah hingga ke Papua.(*)