Pagi menjelang siang, suasana Aula SD Inpres Maroanging, Desa Tonasa, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, tampak berbeda dari biasanya. Puluhan guru duduk berkelompok dengan gunting, lem, karton warna-warni, spidol, dan aneka gambar yang tersusun rapi di atas meja. Sesekali terdengar gelak tawa ketika mereka saling menunjukkan hasil karya masing-masing. Tidak ada wajah lelah, yang tampak justru semangat belajar yang seolah mengembalikan mereka menjadi peserta didik.
Sebanyak 24 guru dari lima MI dan SD se-Desa Tonasa mengikuti pelatihan pembuatan Media Kartu Kata Bergambar dengan Metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) serta Media Ular Tangga Edukatif pada Selasa (4/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Bina Desa, sebuah bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh Dosen dan Mahasiswa Program Studi PGMI, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Alauddin Makassar.
Di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan, pelatihan ini justru mengingatkan bahwa media pembelajaran sederhana tetap memiliki kekuatan besar apabila dirancang secara kreatif dan digunakan dengan pendekatan pedagogis yang tepat.
Narasumber kegiatan, Dr. Hj. Andi Halimah, M.Pd, mengajak para guru untuk melihat media pembelajaran bukan sekadar alat bantu mengajar, melainkan jembatan yang menghubungkan pengalaman belajar siswa dengan dunia nyata.
Dalam pelatihan tersebut, para guru tidak hanya memperoleh penjelasan teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam proses merancang dan membuat media pembelajaran. Mereka memotong gambar, menyusun kartu kata, memilih warna, hingga mendiskusikan cara terbaik agar media tersebut mampu menarik perhatian peserta didik.
Media kartu kata bergambar yang dikembangkan menggunakan metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) dirancang untuk membantu siswa kelas awal belajar membaca secara bertahap. Pembelajaran dimulai dari kalimat utuh, kemudian diuraikan menjadi kata, suku kata, hingga huruf sebelum akhirnya disusun kembali menjadi satu kesatuan yang bermakna. Pendekatan ini menjadikan proses membaca lebih alami karena siswa belajar melalui konteks yang dekat dengan kehidupan mereka.
Sementara itu, media Ular Tangga Edukatif diperkenalkan sebagai alternatif pembelajaran aktif bagi siswa kelas tinggi. Berbeda dengan permainan ular tangga biasa, setiap kotak pada media ini berisi pertanyaan, tantangan, atau tugas yang dapat disesuaikan dengan berbagai mata pelajaran, mulai dari Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, hingga Pendidikan Pancasila. Dengan demikian, belajar tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang membosankan, tetapi menjadi pengalaman yang menyenangkan dan penuh interaksi.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan. Hampir tidak ada kursi yang kosong ketika sesi praktik dimulai. Para guru saling bertukar ide, berdiskusi, bahkan berlomba menghasilkan media yang paling menarik. Semangat kolaboratif tersebut menunjukkan bahwa guru sesungguhnya memiliki kreativitas tinggi apabila diberi ruang untuk berkembang.
Sejumlah peserta mengaku pelatihan ini memberikan pengalaman baru sekaligus menyegarkan kembali pengetahuan yang telah dimiliki. Mereka menilai materi yang diberikan sangat aplikatif karena dapat langsung diterapkan di ruang kelas tanpa memerlukan biaya besar. Bahan-bahan yang digunakan pun mudah diperoleh di lingkungan sekitar sekolah.
"Pelatihan seperti ini sangat kami butuhkan. Selain menambah keterampilan membuat media pembelajaran, kami juga kembali diingatkan bahwa pembelajaran yang menyenangkan tidak selalu bergantung pada teknologi yang mahal. Kreativitas guru adalah kunci utama," ungkap salah seorang peserta.

Menurut Dr. Hj. Andi Halimah, guru memiliki peran strategis dalam menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Oleh karena itu, media pembelajaran harus mampu membangun rasa ingin tahu, memotivasi siswa untuk belajar, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang bermakna.
"Anak-anak belajar lebih baik ketika mereka dapat melihat, memegang, bermain, dan berinteraksi langsung dengan media yang digunakan. Guru yang kreatif akan mampu mengubah benda-benda sederhana menjadi sumber belajar yang luar biasa," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa metode SAS masih sangat relevan diterapkan pada pembelajaran membaca permulaan karena membantu siswa memahami hubungan antara bunyi, simbol, dan makna secara sistematis. Dipadukan dengan media kartu kata bergambar, metode tersebut mampu menciptakan suasana belajar yang lebih konkret, komunikatif, dan menyenangkan.
Pelaksanaan program Bina Desa ini sekaligus menjadi wujud nyata implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, dosen tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun kemitraan dengan sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar di daerah.
Bagi Program Studi PGMI FTK UIN Alauddin Makassar, penguatan kompetensi guru merupakan investasi jangka panjang bagi peningkatan mutu pendidikan. Guru yang terus belajar akan melahirkan pembelajaran yang lebih inovatif, sedangkan siswa yang memperoleh pengalaman belajar berkualitas akan tumbuh menjadi generasi yang memiliki kemampuan literasi, berpikir kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Menjelang berakhirnya pelatihan, setiap kelompok guru mempresentasikan media yang telah mereka hasilkan. Berbagai desain kartu kata bergambar dan papan ular tangga edukatif memenuhi ruangan. Tepuk tangan mengiringi setiap presentasi, disertai saling memberi masukan untuk penyempurnaan media.
Hari itu, para guru pulang bukan hanya membawa hasil karya berupa kartu kata dan papan permainan edukatif. Mereka membawa semangat baru, ide-ide kreatif, dan keyakinan bahwa pembelajaran yang bermakna dapat dimulai dari media sederhana yang dibuat dengan hati.
Di tengah berbagai tantangan dunia pendidikan, kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah-langkah kecil. Dari sebuah aula sekolah di Desa Tonasa, inovasi pembelajaran lahir melalui tangan-tangan guru yang tidak pernah berhenti belajar demi masa depan anak-anak Indonesia.