Gambar Kampus Berdampak: Pesan Sekjen Kemenag pada Rapat Kerja UIN Alauddin Makassar.


Malam itu, fisik nyaris mencapai batas toleransi: pinggang kaku, leher tegang, konsentrasi mulai menurun, konsekuensi logis dari maraton Rapat Kerja sejak pagi. 


Namun, kelelahan fisik ternyata tidak serta-merta berbanding lurus dengan surutnya semangat. Ruangan tetap terjaga, bahkan semakin hidup, menanti kehadiran Narasumber penutup hari pertama Bapak Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A.


Kehadiran beliau malam itu melampaui fungsi formal seorang narasumber. Ia menjelma menjadi ruang nostalgia kolektif, temu kangen yang sah secara akademik, sebab beliau adalah produk autentik UIN Alauddin Makassar. 


Bukan sekadar alumnus, melainkan representasi dari perjalanan panjang keilmuan yang berangkat dari ruang-ruang kelas sederhana, tumbuh melalui proses intelektual yang disiplin, dan kini berkontribusi pada pengambilan kebijakan di tingkat nasional.


Keterhubungan itu terasa sejak sapaan awal. Tidak ada jarak hierarkis yang kaku, yang hadir justru nuansa pulang. Beliau berbicara sebagai bagian dari rumah yang sama, berbagi kisah tentang proses, tentang kegigihan yang kerap sunyi, dan tentang pentingnya menjaga integritas di tengah dinamika birokrasi dan perubahan zaman. 


Pengalaman akademik dan profesional yang dipaparkan tidak hadir sebagai kisah sukses yang menggurui, melainkan sebagai pengingat bahwa pencapaian adalah buah dari konsistensi, kesabaran, dan keberanian mengambil tanggung jawab intelektual.


Mahasiswa pun diingatkan untuk berani bermimpi setinggi mungkin. Akademisi tanpa mimpi besar hanya akan sibuk mempertahankan rutinitas, bukan menantang masa depan.


Materi yang disampaikan mengalir tenang, tanpa retorika berlebihan. Dalam ketenangan itulah justru fokus peserta menguat. Kelelahan yang sedari tadi mengendap perlahan tergeser oleh kesadaran baru: bahwa kerja-kerja institusional yang melelahkan ini menemukan maknanya ketika ditautkan dengan visi keilmuan yang jelas, tata kelola yang berintegritas, dan keberpihakan pada masa depan PTKIN yang berdaya saing global dan berdampak.


Perguruan tinggi, tidak bisa lagi puas pada cara berpikir lokal. Benchmarking dengan universitas maju adalah keharusan, bukan kemewahan. 


Sebagai contoh, sistem perekrutan profesor yang kompetitif dan berbasis kuota sudah diterapkan di universitas maju di dunia. Hal ini menjadi pengingat halus sekaligus sindiran elegan: profesor bukan sekadar gelar, tetapi hasil pertarungan gagasan. Arah kebijakan ke depan tidak menutup kemungkinan seperti itu. Pesannya singkat namun tegas: segeralah jadi guru besar, sebelum regulasi lebih cepat dari kesiapan kita. 


Kampus seharusnya menjadi instrumen yang powerful menciptakan sarjana kelas bukan sarjana kertas. Sarjana yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual tetapi juga kecerdasan spiritual dan sosial. Sarjana yang memiliki peran fundamental dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat. 


Sebelum mengakhiri materinya, beliau juga membuka ruang untuk mendengar masukan dari para peserta Rapat Kerja. Beliau menegaskan bahwa sebagai pemimpin tugasnya bukan untuk banyak bicara tetapi untuk lebih banyak mendengar. 


Malam itu, Rapat Kerja terasa disempurnakan. Kehadiran seorang alumnus yang kembali ke almamaternya bukan untuk bernostalgia semata, melainkan untuk menegaskan arah. 


UIN Alauddin Makassar tidak boleh sekadar menjadi ‘pemadam kebakaran’ yang hadir saat masalah muncul, tetapi harus menjadi mercusuar ilmu, inovasi, dan pembentukan cara berpikir preventif yang mencegah masalah sebelum terjadi serta berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa