Ada saat-saat di mana bumi menjadi terlalu bising bagi jiwa. Saat manusia saling bersinggungan bukan karena perbedaan besar, melainkan ego yang tidak pernah selesai belajar merendah.
Ketika itu, manusia butuh menengadah(bukan untuk lari dari kenyataan),tetapi untuk mengingat bahwa kehidupan di bawah langit ini selalu terikat kepada Sang Pemilik Langit.
Isra’ Mi’raj datang tidak hanya sebagai kisah mukjizat, melainkan sebagai pesan transenden yang membungkus inti peradaban, bahwa harmoni manusia hanya akan kokoh bila dibangun di atas fondasi langit(di atas kesadaran bahwa Allah-lah penentu segala sesuatu), pengatur perjalanan waktu, penggenggam sejarah, dan penguasa takdir. Allah berfirman:
وَاللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
“Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.”(QS. Ibrahim: 27).
Maka harmoni bukan sekadar perpaduan suara yang tidak bertentangan, melainkan sikap hidup yang menyerah penuh pada kehendak Allah, bahwa segala sesuatu bergerak karena izin-Nya, dan hanya akan menemukan seimbang bila manusia menempatkan-Nya sebagai pusat arah.
Isra’ Mi’raj terjadi bukan di tengah sorak kemenangan, melainkan dalam keheningan malam(waktu ketika jiwa paling jujur), dan dunia berhenti berteriak tentang ambisi dan hiruk pikuknya. Allah berfirman:
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
“Sesungguhnya ibadah malam itu lebih tepat (untuk khusyuk) dan lebih berkesan.”(QS. Al-Muzzammil: 6).
Malam menjadi simbol kesehatan jiwa, keteduhan batin, waktu di mana manusia melepas ego dan kembali menjadi hamba.
Bahwa perjalanan spiritual sejati bukan disertai tepuk tangan manusia, melainkan langkah-langkah sunyi yang diketahui hanya oleh Allah.
Dan sungguh mengagumkan bahwa perjalanan Nabi SAW. dilakukan dari masjid ke masjid (dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha), seakan Allah ingin berkata kepada manusia,
“Peradabanmu harus dimulai dari tempat sujudmu.”
Masjid menjadi simbol persatuan, ruang di mana status sosial diluruhkan, di mana kesetaraan bukan slogan, melainkan napas setiap rakaat. Sebagaimana shalat adalah jantung Isra’ Mi’raj,Allah memerintahkan ibadah paling fundamental itu di langit, menandakan bahwa kehidupan hanya teratur bila bergerak mengikuti ritme langit.
Rasulullah SAW. Telah bersabda:
وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Dijadikan penyejuk pandanganku dalam shalat.”(HR. An-Nasa’i).
Shalat pun mengajarkan harmoni dalam gerak, dimana dimulai dengan takbiratul ihram(menyatakan kebesaran Allah), bahwa semua persoalan menjadi kecil di hadapan-Nya, dan ditutup dengan salam (kepada kanan dan kiri), seakan menegaskan bahwa spiritualitas sejati selalu turun menjadi perdamaian sosial.
Dimulai dengan Allah, diakhiri dengan manusia. Dari langit menuju bumi, dari sujud menuju pelukan persaudaraan.
Isra’ Mi’raj juga mengajarkan bahwa mendekat kepada Allah tidak berarti menjauh dari manusia. Rasulullah SAW. tidak tinggal di langit meski pintu keabadian terbuka.
Beliau Rasulullah SAW. kembali turun menjejak bumi, mengelola luka, membangun umat, mengajar akhlak. Ini membawa pesan dalam bahwa
Menggapai Allah itu mulia, tetapi berbagi cahaya-Nya kepada manusia jauh lebih agung.
Sebab apa gunanya spiritualitas tinggi bila membiarkan dunia di sekitar tenggelam dalam pertengkaran, kebencian dan perpecahan?
Harmoni berbasis langit menuntut kita memelihara kedamaian keluarga, kelembutan masyarakat, dan persaudaraan bangsa.Bukan hanya pada sesama muslim, tetapi juga kepada siapa pun yang berbagi bumi ini. Allah berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan berkatalah kepada seluruh manusia dengan perkataan yang baik.”(QS. Al-Baqarah: 83).
Perhatikan kata al-nas, yang berarti seluruh manusia ( bersifat umum), bukqn hanya yang sepaham, bukan hanya yang seagama, bukan hanya yang sejalan.
Harmoni berbasis langit tidak pernah mengenal sekat sempit. Sebab dakwah yang paling luhur bukan teriakan kebenaran,tetapi keindahan akhlak yang merangkul.
Maka Isra’ Mi’raj adalah ajakan untuk menata dunia dengan tangan yang disinari langit, kita mendirikan shalat bukan sekadar memenuhi beban kewajiban, tetapi supaya hati kita tunduk kepada Allah,dan tangan kita terulur kepada manusia.
Karena setiap sujud adalah janji,
janji untuk tidak mendahulukan ego atas kemaslahatan, janji untuk mendahulukan cinta atas kebencian,
janji untuk mengusung persaudaraan di atas perpecahan.
Dan setiap salam adalah ikrar sosial, bahwa kita tidak akan menjadi sumber kegelisahan bagi siapa pun dan dimana pun.
Pada akhirnya, Isra’ Mi’raj menegaskan bahwa jalan pulang menuju Allah selalu dimulai dari bumi tempat manusia berpijak, tetapi akan menemukan arti sesungguhnya
ketika harmoni dunia disusun mengikuti keseimbangan langit.
Perjalanan Nabi SAW membelah malam,adalah undangan agar manusia keluar dari gelap perpecahan dan menjemput fajar harmoni.
Langit menawarkan panduan,
dan bumi menunggu pelaksanaannya. Semoga kita menjadi umat yang shalatnya menembus langit, akhlaknya meneduhkan bumi,
dan kehidupannya menjadi saksi bahwa harmoni paling kokoh adalah harmoni yang digantungkan pada Allah.
Karana nilai dan missi paling substansial dari Isra’ Mi’raj adalah sejauh apa ruh terbang menuju langit, ia tetap harus kembali untuk menerangi pijakan bumi.
Sebab kemuliaan spiritual bukan dinikmati sendirian, melainkan untuk dibagikan hingga dunia merasakan damainya cahaya Tuhan Yang Maha Pengasih.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab
Alat AksesVisi