Salah satu ketentuan yang sering kali kita temui dalam kehidupan adalah hukum resiprositas. Jika Anda memandang orang dengan senyum, maka orang tersebut akan memelukmu. Jika Anda mencaci maki orang lain, maka orang tersebut akan menceritakan kejelekanmu. Kehidupan kita diatur dengan hukum seperti ini, sebagian orang menyebutnya dengan sebab-akibat. Ada juga yang menyebutnya dengan sunnatullah.
Ketika kita menyaksikan betapa terik dan ganasnya matahari menyinari bumi, pada waktu yang sama laut, danau, hutan dan gunung-gunung menguapkan air ke langit yang akan mengubah awan menjadi mendung yang kemudian berproses menjadi hujan menyebabkan bumi menjadi subur.
Bandingkan dengan gurun pasir yang jarang memberi air ke langit, maka gurun pun jarang menerima hujan. Sesederhana itulah hukum yang mengatur kehidupan kita. Semakin sering kita memberi, semakin sering pula kita akan menerima. Semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula kita akan menerima. Hanya saja sangat disayangkan, karena kita sering ingin menerima yang banyak, namun kita sangat sedikit atau jarang memberi.
Alam semesta diatur dengan satu hukum yang disebut dengan resiprositas. Kalau Anda berbuat baik kepada orang lain, akan ada orang lain yang dikirim Allah untuk berbuat baik kepada Anda. Kalau Anda menolong orang lain, Allah pun akan menolong Anda dengan cara mengirim tangan-tangan lain atas kehendak-Nya untuk menolong Anda. Inilah ajaran moral dalam Al-Qur'an “Adakah balasan atas kebaikan selain kebaikan juga” (QS. Ar-Rahman/55 : 60).
Orang-orang modern menyebutnya dengan reciprocity atau hukum aksi-reaksi atau dengan sebutan lainnya. Ihsan artinya berbuat baik. Kalau kita berbuat baik, maka akan ada makhluk Allah yang akan berbuat baik kepada kita, bahkan balasan kebaikan yang Allah berikan selalu melebihi dari kebaikan yang kita kerjakan. Apa yang kita berikan kepada orang lain, itu pula yang akan kita terima dalam kehidupan ini. Tentu tidak dalam kuantitas melainkan dalam kualitas rasa.
Tidak sedikit di antara kita yang suka memberi kepada orang lain, tapi keinginan baik seperti itu sering kali terhalang dengan pikiran bahwa kita belum cukup pantas untuk memberi. Boleh jadi karena kita masih merasa belum memiliki kelebihan atau belum memiliki modal yang cukup untuk senantiasa memberi. Padahal melakukan satu kebaikan kecil akan setara manfaatnya dengan tidak melakukan keburukan besar bagi kehidupan di dunia.
Untuk melakukan kebajikan yang mendatangkan manfaat bagi orang lain tidak harus dengan harta yang banyak, ilmu yang tinggi, atau tenaga yang kuat. Orang bijak mengajarkan bahwa kebaikan itu mudah, misalnya kalau Anda tidak mampu menghargai orang lain, setidaknya Anda tidak ikut mencemooh.
Jika Anda tidak dapat memuji orang lain, setidaknya Anda tidak mencaci-maki. Bila Anda tidak dapat membersihkan, setidaknya Anda jangan mengotori. Bila Anda tidak dapat memelihara sesuatu, sebaiknya Anda tidak ikut merusak. Maksudnya dengan tidak melakukan keburukan yang kecil, sudah cukup mendatangkan kebaikan yang besar bagi kehidupan.
Alkisah, ketika Qarun sudah menjadi orang yang sangat kaya, sehingga untuk memikul kunci brankasnya saja memerlukan sekelompok orang yang kuat untuk memikulnya. Kemudian Nabi Musa dikirim Allah untuk memberi peringatan kepada Qarun.
Isi peringatan itu adalah “Wahai Qarun berbuat baiklah kamu sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, bagikan rezeki yang banyak itu sebagaimana Allah telah memberikan rezeki yang banyak kepadamu” “Berbuat baiklah kamu sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu” ( QS. Al-Qhasash/28:77 ). Namun, Qarun mengingkari peringatan Tuhan maka harta yang melimpah tidak dapat menolongnya. (*)
Alat AksesVisi