Gambar Hujan yang Mengurung Hari

Sejak subuh, langit seperti lupa cara berhenti menangis.
Rintik turun perlahan di awal pagi,
Lalu menjelma deras dan melambat
Yang memukul atap rumah tanpa jeda.

Jalan-jalan basah oleh kesunyian.
Warung membuka pintu setengah hati.
Motor-motor diam di teras,
Seolah ikut menyerah
Pada cuaca yang tak mau berdamai.

Di Makassar,
Air menggenang di sudut gang dan halaman.
Di Maros, Gowa, Bone, hingga Bulukumba,
Awan menggulung hitam
Seperti kabar duka yang berjalan pelan.

Orang-orang menatap hujan dari balik jendela.
Ada yang menunda berangkat kerja.
Ada anak-anak yang membatalkan sekolah.
Ada pedagang kecil, yang hanya bisa menghitung sepi
Di antara bunyi air yang jatuh tiada henti.

Hari ini,  di Kotaku Makassar
Sulawesi Selatan seperti dikurung langitnya sendiri.
Rumah-rumah menjadi penjara kecil
Bagi langkah yang ingin pergi.

Waktu terasa lambat,
Dan dingin menyusup
Hingga ke dalam hati.

Kadang hujan memang bukan sekadar air.
Ia adalah kenangan yang jatuh satu-satu.
Tentang rindu yang tak sempat pulang.
Tentang harapan yang tertahan di depan pintu.

Tentang hidup
Yang sesekali dipaksa diam
Agar manusia belajar mendengar
Sunyi dalam dirinya sendiri.

Dan sampai petang hingga malam ini,
Hujan masih saja turun.
Seakan langit Sulawesi Selatan
Belum selesai bercerita tentang luka.

BMKG mengingatkan
Angin kencang dan hujat lebat mengancam
Namun warga tetap waspada
Karena yakin "Badai Pasti Berlalu"