Gambar Hargai Keragaman

Sejak dahulu sampai sekarang pesan dasar agama yang berkaitan dengan moral spiritual sifatnya simpel, tidak berubah dan universal. Jika prinsip ini dijaga bersama, hubungan antar manusia dan antar pemeluk agama berjalan lebih baik. Konflik sosial senantiasa muncul karena perselisihan dalam menafsirkan dan melaksanakan prinsip keadilan ekonomi dan politik.

Perkembangan peradaban manusia secara historis terlihat bahwa fondasi awal yang dibangun para nabi adalah landasan moral-spiritual. Hal ini dipandang selesai dengan berakhirnya kenabian. Evolusi kematangan dan otonomi manusia dipercayakan Tuhan kepada manusia untuk membangun peradaban di muka bumi berlandaskan warisan luhur para nabi, namun tanpa intervensi mereka.

Kehadiran agama di dunia untuk menjadi penuntun dalam menapaki kehidupan agar mampu melihat terangnya cahaya kesadaran di sana, bukan untuk menjerumuskan manusia ke ruang dan waktu yang diliputi gelapnya pemahaman. Agama adalah jalan digunakan untuk mendekati Tuhan yang penuh cinta kasih, bukan untuk menjauhi-Nya menuju ke dunia yang dipenuhi amarah dan kebencian.

Pesan orang bijak, Jika dengan pemahaman agama manusia benar-benar mencintai-Ku, cintailah semua makhluk yang Kuciptakan dengan penuh kasih sayang. Jika manusia ingin menjaga-Ku, maka jagalah semua ciptaan-Ku dengan penuh cinta dan keikhlasan. Mulailah merasakan bahwa semua itu adalah bagian dari diri kalian sendiri. Akhiri permusuhan atas nama agama, karena Tuhan menciptakan berbagai jalan untuk menghormati keberagaman kalian dalam memilih.

Sikap saling menghargai satu sama lain dan menjunjung tinggi tata krama dalam berbeda pendapat itulah yang hilang saat ini. Kini perbedaan seolah menjadi musuh bersama, dan harus diberangus dan disingkirkan jauh-jauh dari kehidupan. Masyarakat yang semakin egois dan temperamental, sangat mudah terprovokasi, dan hanya melihat kebenaran secara hitam putih, seakan-akan perbedaan menjadi monster yang menakutkan.

Perbedaan selalu diidentikkan dengan perpecahan. Kebenaran hanya dirasa miliknya, keluarganya, golongannya, agamanya, partainya, etnisnya. Banyak orang lupa bahwa perbedaan adalah bunga-bunga kehidupan. Tidak ada lagi akselerasi peningkatan peradaban kemanusiaan yang ditata dari tumpukan anak tangga perbedaan pemikiran sebagai akibat aneka produk budaya.

Tidak terkecuali pemimpin agama sekali pun hari ini kerap bertengkar. Bersatunya hanya sebatas dalam ucapan. Di sinilah dibutuhkan sikap keberagamaan yang sejuk dengan jalan saling memahami dan saling menghargai, sehingga diperlukan ketulusan dalam berucap dan bersikap. Jangan sampai agama hanya dijadikan alat untuk meraih kepentingan-kepentingan sesaat, yang pada gilirannya hanya mendatangkan kerugian bagi umat secara lebih luas.

Sebagai umat beragama, apa pun agama yang dianut dan paham keagamaannya, kita semua malu ketika agama justru menjadi sumber dan beban masalah bagi kehidupan berbangsa dan kemanusiaan, bukan sebagai penyejuk dan penyubur kehidupan dan peradaban.

Orang boleh saja berkata, bahwa ajaran agama mesti benar, yang salah adalah umatnya atau pengikutnya dalam memahami ajaran agamanya. Tapi dampak dan wujud baik atau buruk ajaran agama apa pun namanya akan tampak oleh pemeluknya dan orang-orang yang mengusung label agama itu. mirip dengan iklan obat yang kita saksikan di televisi, bagaimana pun muluk dan indahnya iklan tersebut, orang akan menghargai dan membeli setelah membuktikan kemanjuran obat yang dimaksud.

Meski agama berasal dari dunia sakral, setelah masuk pada wilayah profan dan menyejarah ke lingkungan manusia, maka baik-buruk sebuah agama akan dilihat dari fungsi dan dampaknya, apakah benar-benar menjadi obat penawar dan air penyejuk ataukah menjadi sumber konflik dan peperangan. Karena itu sebagai pengikut para nabi dan rasul pasti mewarisi prinsip akhlak mulia dan kesantunan dalam kehidupan beragama. (*)