Keinginan untuk selalu mementingkan diri sendiri, menghendaki orang lain untuk berperilaku seperti yang kita inginkan, dunia diharapkan berjalan seperti apa yang kita atur. Hal seperti inilah yang menyebabkan sehingga kegelisahan dan keresahan berkepanjangan pada diri seseorang.
Keadaan ini dapat dihilangkan dengan jalan melatih diri untuk menyingkirkan keinginan-keinginan ego kita, salah satu di antaranya adalah kebiasaan memberi dan berbagi kepada orang lain. Keengganan untuk berbagi dengan orang lain adalah wujud egoisme. Orang egois adalah orang yang hanya ingin memiliki sesuatu hal untuk dirinya sendiri, tidak pernah berpikir untuk memberi kepada orang lain.
Dalam kehidupan ini tidak ada sesuatu pun yang tidak berakhir. Semua akan berlalu pada waktunya. Kesenangan, kesedihan, kebahagiaan, kemarahan dan kekecewaan, segalanya tidak ada yang abadi dan pasti berganti. Manusia hanya memerlukan kesadaran dan kesabaran untuk melewatinya. Karena itu apa pun yang menimpa dalam kehidupan ini hadapi saja, ambil hikmahnya, karena semua akan berlalu seiring dengan perjalanan waktu.
Memberi dan berbagi terhadap sesama dapat diwujudkan misalnya memberikan sesuatu dalam bentuk harta yang kita cintai. Al-Qur'an menyebutkan “Kamu belum berbuat baik sebelum kamu menginfakkan sebagian dari apa yang kamu cintai” (QS. Ali ‘Imran/2: 92).
Tidak seorang pun di antara kita yang tidak suka uang, tidak seorang pun di antara kita yang tidak senang pada makanan. Tapi uang, makanan yang kita miliki sebagian kita infakkan dengan maksud untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Salah satu wujud konkretnya adalah peduli terhadap sesama makhluk.
Dalam sebuah hadis Qudsi Tuhan berfirman, “Semua makhluk adalah keluargaku. Dan di antara makhluk-makhluk itu yang paling Aku cintai adalah mereka yang paling santun dan sayang kepada hamba-hamba-Ku yang lain, serta senang memenuhi keperluan mereka”.
Searah dengan hadis Qudsi tersebut, Nabi saw. berpesan, ”Semua makhluk adalah anggota keluarga Allah. Dan makhluk yang paling dicintai Allah adalah mereka yang paling berguna bagi seluruh anggota keluarga-Nya serta sering memasukkan rasa bahagia ke dalam hati mereka”.
Jika seseorang tersenyum ketika berjumpa dengan saudara, karib-kerabat, tetangga, mitra kerja, Allah akan menghitung senyumnya itu sebagai kebaikan. Kalau seseorang menyingkirkan rasa sedih, kecewa di hati saudaranya yang lain, tindakan seperti itu juga dihitung sebagai kebaikan. Memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang lain pun dipandang sebagai suatu kebaikan. Segala bentuk penghikmatan dan kepedulian kita terhadap sesama manusia, dihitung Tuhan sebagai sedekah.
Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah saw. berkata, “Ada orang yang Allah berikan harta kepadanya, supaya membagi-bagikan harta tersebut kepada hamba-hamba Allah yang lain. Dan kalau ia tidak membagi-bagikannya, Allah akan mengambil harta itu dan dipindahkan kepada orang lain yang bisa membagi-bagikan hartanya kepada sesama manusia”.
Karena itu kita semua berkeinginan untuk menjadi cerek yang siap mengisi cangkir-cangkir yang menunggu untuk diisi. Kita bermohon agar Tuhan tidak melelahkan kita dalam mencari rezeki, namun melelahkan kita dalam membagi-bagikan rezeki-Nya kepada sesama.
Dalam kajian tasawuf sering terungkap bahwa jalan menuju Tuhan sebanyak napas para pencari Tuhan. Maksudnya untuk mendekati Tuhan banyak jalan yang dapat ditempuh, tapi jalan pintas menuju kepada-Nya adalah peduli terhadap sesama dengan cara memasukkan kebahagiaan ke dalam hati sesama manusia.
Berbahagialah mereka yang senantiasa membiasakan diri untuk memberi dan berbagi dengan yang lain, karena pada saat menyodorkan pemberian dan berbagi dengan orang lain ketika itu juga Allah mengangkat penyakit dari dalam hati seseorang, penyakit yang dimaksud adalah: kikir, dengki, iri hati dan egois. (*)