Gambar Gerbang Peradaban

Perguruan tinggi atau pendidikan tinggi pada dasarnya merupakan sebuah institusi sosial yang menjadi bagian integral dari masyarakat. Sebagai sebuah institusi sosial, fungsi pendidikannya secara ideal menjadi fungsi budaya untuk melestarikan dan mengembangkan sistem nilai masyarakatnya.

Ada tiga istilah yang sering dikaitkan dengan perguruan tinggi. Pertama, sarjana diartikan sebagai orang yang lulus dari perguruan tinggi dengan membawa gelar. Jumlahnya banyak, karena setiap tahun perguruan tinggi memproduksi sarjana. Kedua, ilmuwan ialah orang yang mendalami ilmunya, kemudian mengembangkan ilmunya, baik dengan pengamatan maupun dengan analisisnya sendiri.

Di antara sekian banyak sarjana, hanya beberapa orang saja yang kemudian berkembang menjadi ilmuwan. Sebagian besar terbenam dalam kegiatan rutin, dan menjadi tukang-tukang profesional.

Ketiga, intelektual bukanlah sarjana yang hanya menunjukkan kelompok orang yang sudah melewati pendidikan tinggi dan memperoleh gelar sarjana. Mereka juga bukan sekadar ilmuwan yang mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian. Mereka adalah kelompok orang yang merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang, menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah.

Meskipun demikian, Azyumardi Azra mengemukakan bahwa kaum intelektual bukan semata-mata lahir dari lembaga formal (terutama perguruan tinggi), tetapi bisa saja seorang intelektual muncul karena belajar dan mengembangkan pikiran sendiri. Tidaklah aneh, jika banyak kaum intelektual bukan merupakan produk pendidikan formal, tetapi mereka belajar dan mengembangkan pikiran mereka sendiri (autodidak) sehingga mencapai kemampuan pemikiran dan perilaku intelektual.

Tradisi intelektual mengandung makna yang beragam, Nurcholis Majid memaknainya sebagai kekayaan dan kesuburan intelektual yang pengembangannya memerlukan waktu yang panjang melalui proses akumulasi pengalaman masa lampau. Sedangkan George A. Theodorson mengemukakan bahwa kaum intelektual adalah anggota masyarakat yang mengabdikan dirinya pada pengembangan ide-ide orisinal dan terkait dalam pencarian pemikiran-pemikiran kreatif.

Tersebut dalam riwayat bahwa Abdullah bin Abbas seorang sahabat Nabi, lebih populer dengan sebutan Ibnu Abbas hidup dari tahun 619-688 H. Dikenal dengan ilmunya yang sangat luas dan mendalam sehingga banyak hadis sahih yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas. Selain cerdas, Ibnu Abbas juga dikenal sebagai salah seorang sahabat Nabi yang istikamah dalam ibadah dan amal. Di malam hari kerap terjaga untuk melakukan salat dan zikir.

Suatu ketika seseorang yang mengagumi Ibnu Abbas bertanya, Bagaimana engkau mendapatkan ilmu? Ibnu Abbas menjawab sembari tersenyum, saudaraku sungguh saya mendapatkan ilmu dengan lisan yang selalu bertanya, hati yang selalu berpikir, dan tubuh yang tidak kenal lelah. Lisan yang selalu bertanya, dalam realitas sehari-hari hal ini menunjukkan bahwa dengan bertanya menjadi sarana atau jalan menuju ilmu pengetahuan. Pesan Nabi bahwa “ilmu itu ibarat peti perbendaharaan yang sangat berharga dan kuncinya adalah bertanya. Banyaklah bertanya semoga Allah merahmati kamu. Dalam bertanya ada empat yang akan diberi pahala, yakni yang bertanya, yang mengajar, yang mendengarkan, dan yang menggemarinya”.

Hati yang selalu berpikir menunjukkan bahwa aktivitas berpikir sebagai bukti dan penanda bahwa hati kita hidup. Hidupnya hati adalah berkat bertambahnya ilmu, dan hati yang mati karena ketiadaan ilmu. Sehatnya hati berkat keyakinan, sakitnya hati karena keraguan, tidurnya hati akibat kelalaian, dan bangunnya hati karena zikir yang dilakukan. Setelah melalui lisan dan hati, maka badan harus senantiasa semangat, jangan sampai badan diliputi rasa malas karena tidak ada prestasi yang datang secara tiba-tiba, semuanya membutuhkan proses yang sungguh-sungguh tidak mudah lelah membaca, mengamati, meneliti, mencoba dan mencipta. (*)