Gambar Etos Berbangsa

Belajar pada pengalaman bangsa Jepang dalam perang dunia II, hancurnya Hirosima dan Nagasaki dijadikan tekad dan momentum untuk bangkit melawan Barat, bukan dengan perjuangan pisik melainkan dalam wujud ledakan produksi teknologi otomotif dan elektronika sangat kompetitif sehingga menjadi bangsa yang diperhitungkan dalam percaturan global, hal yang sama juga dilakukan Jerman, China, Korea Selatan, dan Malaysia.

Konsolidasi yang dilakukan adalah melakukan perbaikan yang spektakuler di bidang pendidikan, investasi modal nasional, memperkuat riset teknologi, dan menegakkan supremasi hukum. Demikian pula dengan tradisi kerja keras dan disiplin tinggi membuat bangsa Jepang semakin percaya diri di hadapan bangsa Barat yang mulai tampak kelabakan. Kemajuan yang dicapai oleh bangsa Jepang di antaranya adalah adanya ke teladan dari para pemimpin mereka.

Sejak bangsa ini bertekad membangun negara dalam bentuk republik, rakyatnya mesti siap dan sadar untuk menerima kenyataan bahwa tekad yang telah dicanangkan sejak proklamasi kemerdekaan merupakan agenda sejarah di masa depan untuk diraih tahap demi tahap.

Dari segi geografis dan demografis Indonesia ibarat sebuah perahu besar yang penumpangnya begitu padat dan beragam, Jika semua kekuatan sosial mampu membangun sinergi dengan menempatkan visi dan agenda utama bangsa sebagai acuan pokok, bukan dengan sikap acuh tak acuh, apatis dan lari dari tanggung jawab sosial. Hal ini dapat menjadi momentum dan tonggak bangsa ini untuk meraih tujuan yang telah dicanangkan oleh para pendiri bangsa Indonesia.

Sikap pesimisme yang selama ini menjangkiti masyarakat, sehingga hampir-hampir tidak mampu mengapresiasi dengan cerdas potensi yang ada dan tidak dimiliki bangsa lain berupa potensi alam, flora, fauna, laut dan budaya yang disebabkan oleh sejarah kolonialisme yang begitu panjang menyebabkan rakyat dan bangsa Indonesia merasa rendah diri dan tidak mampu menegakkan kepala untuk menatap dan berkompetisi untuk meraih kemajuan sebagaimana negara-negara maju lainnya.

Komaruddin Hidayat menulis bahwa di tengah suasana pesimisme yang menjangkiti bangsa ini, mari kita membangun optimisme berbangsa dengan kekuatan gagasan, integritas, dan kesediaan untuk berkorban demi rakyat. Indonesia yang kita impikan adalah sebuah cita-cita moral, politik, dan peradaban yang masih jauh berada di depan bukannya warisan masa lalu yang sudah jadi dan selesai.

Saat ini sangat urgen untuk menemukan kembali semangat kebersamaan untuk membangun bangsa yang mampu bersinergi dalam rumah besar yang bernama Indonesia. Beragam aspirasi yang muncul baik dari parpol, organisasi masyarakat, sekelompok aktivis yang senantiasa memuji kehebatan demokrasi yang berkembang di Amerika Serikat dan negara lainnya, mereka bersemangat meniru namun melupakan esensi dari demokrasi itu sendiri dan berhenti pada ornamen luarnya saja berupa kebebasan berserikat, demonstrasi dan berbagai gejala yang bermuara pada melemahnya rasa keindonesiaan yang tidak menutup kemungkinan semakin melemahkan posisi Indonesia dalam percaturan negara ASEAN dan dunia.

Ke depan agenda besar untuk membangun pendidikan dan ekonomi rakyat merupakan pilar bangsa tidak boleh terlupakan. Mari kita temukan kembali serta memegang teguh komitmen serta cita-cita luhur lagi mulia mengapa negara Indonesia ini diperjuangkan, kemudian diproklamasikan dengan ongkos dan pengorbanan yang tidak bisa ditakar dengan materi.

Kita ganti tradisi kekerasan dan kemalasan menjadi kedamaian, kerja keras dan kecerdasan sebagai etika dan etos berbangsa dan bernegara. Kita semua secara sadar mesti terlibat dalam proses mewujudkan Indonesia sebagai rumah peradaban, sekaligus sebagai identitas dan jati diri. Semoga dengan spirit kebersamaan kita sinergikan semua elemen masyarakat, birokrasi pemerintah, dan lembaga pendidikan menjadi penopang agar bangsa Indonesia dapat berjalan kukuh dan mantap. (*)