Makassar, 8 Agustus 2026. Dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Alauddin Makassar, Andi Halimah dan Hamsiah Djafar, menjadi pemakalah dalam Seminar Internasional Perkumpulan Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia (IKAPROBSI) yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) secara daring, Sabtu (8/8/2026).
Seminar internasional tersebut dilaksanakan secara luring dan daring dan menjadi forum akademik bagi para dosen, peneliti, serta pemerhati pendidikan bahasa untuk mempresentasikan hasil penelitian dan mendiskusikan berbagai isu mutakhir dalam pengembangan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kaitannya dengan teknologi informasi dan kecerdasan buatan.
Dalam kegiatan tersebut, Andi Halimah dan Hamsiah Djafar mempresentasikan artikel berjudul “Persepsi Calon Guru terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbantuan Kecerdasan Buatan (AI): Kajian Technology Acceptance Model (TAM), Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT), dan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK).”
Mengkaji Persepsi Calon Guru terhadap AI
Penelitian yang dipresentasikan menggunakan mahasiswa Program Studi PGMI sebagai responden, dengan pertimbangan bahwa mahasiswa PGMI merupakan calon guru madrasah ibtidaiyah atau pendidikan dasar yang akan menghadapi perkembangan teknologi dalam praktik pembelajaran. Penelitian tersebut mengkaji bagaimana persepsi calon guru terhadap penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Kajian dilakukan dengan memadukan tiga kerangka teori, yaitu TAM, UTAUT, dan TPACK.
Data penelitian dikumpulkan melalui Google Form dengan instrumen sebanyak 46 item pernyataan menggunakan skala Likert lima poin. Instrumen tersebut digunakan untuk mengukur sembilan dimensi yang berkaitan dengan penerimaan dan kesiapan mahasiswa dalam menggunakan AI untuk mendukung pembelajaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sembilan dimensi berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi. Temuan ini memperlihatkan bahwa mahasiswa PGMI memiliki persepsi yang positif terhadap integrasi AI dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Efektivitas Pembelajaran Menjadi Dimensi Tertinggi
Berdasarkan hasil analisis, efektivitas pembelajaran menjadi dimensi dengan skor rata-rata tertinggi, yakni 4,30. Selanjutnya, etika penggunaan AI memperoleh skor 4,28, kesiapan menggunakan AI 4,24, kreativitas 4,21, dan intensi perilaku 4,20. Adapun dimensi kemanfaatan yang dirasakan memperoleh skor 4,09, motivasi belajar 3,93, kemudahan penggunaan 3,92, dan kepercayaan terhadap AI 3,80.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya memandang AI sebagai teknologi yang dapat digunakan dalam pembelajaran, tetapi juga melihat potensinya dalam meningkatkan efektivitas dan kreativitas pembelajaran. Tingginya skor pada aspek etika penggunaan AI juga menjadi temuan penting. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran mahasiswa bahwa penggunaan AI dalam pendidikan perlu dilakukan secara bertanggung jawab. AI tidak semestinya digunakan secara bebas tanpa mempertimbangkan keakuratan informasi, orisinalitas karya, tanggung jawab akademik, dan kepentingan peserta didik.
Memperkuat Kompetensi Calon Guru
Temuan penelitian tersebut memberikan implikasi bagi pengembangan kompetensi calon guru. Tingginya penerimaan terhadap AI perlu diikuti dengan kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi secara tepat dalam proses pembelajaran.
Dalam perspektif TPACK, kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan seiring dengan penguasaan pedagogi dan materi pembelajaran. Dengan demikian, calon guru tidak hanya dituntut mengetahui cara menggunakan AI, tetapi juga mampu menentukan teknologi yang sesuai, tujuan penggunaannya, strategi pembelajaran yang tepat, serta cara mengevaluasi hasil yang dihasilkan AI.
Bagi Program Studi PGMI, hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu pijakan untuk memperkuat literasi AI mahasiswa dan mengembangkan pembelajaran yang responsif terhadap transformasi digital.

Kontribusi Akademik UIN Alauddin Makassar
Keikutsertaan Andi Halimah dan Hamsiah Djafar sebagai pemakalah dalam Seminar Internasional IKAPROBSI menjadi bagian dari kontribusi akademik dosen UIN Alauddin Makassar dalam merespons perkembangan teknologi dan pendidikan bahasa.
Presentasi penelitian tersebut sekaligus memperluas ruang diseminasi hasil penelitian tentang calon guru madrasah ibtidaiyah dalam menghadapi era kecerdasan buatan. Kajian ini menunjukkan bahwa calon guru memiliki modal penerimaan yang kuat terhadap AI, tetapi penerimaan tersebut perlu diarahkan menjadi kompetensi profesional yang kritis, kreatif, pedagogis, dan etis.
Melalui forum akademik seperti Seminar Internasional IKAPROBSI, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti sebagai temuan akademik, tetapi dapat menjadi bahan refleksi dan pengembangan inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi maupun pendidikan dasar.
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa kesiapan calon guru menghadapi era AI bukan hanya persoalan mampu menggunakan teknologi, melainkan kemampuan mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan konten pembelajaran untuk menghadirkan pembelajaran Bahasa Indonesia yang efektif, kreatif, dan bermakna bagi peserta didik.