Gambar Comparison is The Thief of Joy


Sore itu, ruang praktik terasa seperti tempat Allah menitipkan cerita. Cerita yang penuh hikmah. 


Perempuan pertama berusia 33 tahun. Ny. Sulis namanya. Datang seorang diri. Masuk ke ruangan praktikku membawa cerita.

Empat anak telah lahir dari rahimnya, dengan jarak yang nyaris tak memberinya jeda.

 Setiap tahun sangat produktif. Melahirkan. 

Tubuhnya masih tampak kuat, tetapi matanya menyimpan letih yang dalam. Lelah. Cemas. 

Ia duduk lama sebelum berbicara.

Tangannya saling menggenggam, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh.

“Dok… saya hamil lagi, hamil ke 5 ” katanya pelan.

“Saya takut. Saya tidak sanggup. Anak saya masih kecil2. Yang paling besar masih TK. Saya bingung dok. Tolong digugurkan saja kandungan saya Dok. Tolong saya Dokter”

Kehamilan ini tidak datang sebagai kabar bahagia.

Ia datang sebagai kecemasan.... tentang biaya, tenaga, waktu, dan rasa lelah yang tak pernah selesai.

Ia merasa gagal menjadi ibu yang kuat. Ibu yang waras. 

Ia lupa bahwa di luar sana ada perempuan yang menunggu hamil bertahun-tahun,

sementara ia justru ingin berhenti.

Dalam diamnya, ia selalu bertanya:

“Ya Allah, sampai kapan aku harus kuat?”


***


Tak lama berselang, perempuan kedua masuk ke ruangan praktik. Ia duduk di kursi yang sama. Namanya Ny. Tati. Usia 39 tahun.

Ini adalah kehamilan keenamnya. 

"Dokter, saya tespek 1 pekan lalu. Tetapi semalam, ada darah keluar ".... 


10 tahun pernikahan, enam kali harapan tumbuh, enam kali pula harus rela melepaskan. Keguguran. Berulang kali.

Hari itu, layar USG kembali sunyi.

Tidak ada detak jantung.

Tidak ada kehidupan yang sempat diperjuangkan lebih lama. Abortus habitualis.


Ia menangis pelan. Membasuh air matanya. Saya menggenggam tangannya dengan erat... 

“Dok… saya ingin seperti perempuan lain,” ucapnya lirih.

“saya ingin capek mengurus anak seperti ibu2 lainnya di luar sana. Saya mau merasakan menyusui dan begadang setiap malam.”

Ia tidak menginginkan hidup yang mudah.

Ia hanya ingin diberi kesempatan untuk diuji dengan cara yang lain.


***

Dua perempuan.

Dua rahim.

Dua jalan hidup yang tampak bertolak belakang,

namun sama-sama berat untuk dijalani.

Yang satu merasa hidupnya penuh sampai sesak.

Yang lain merasa hidupnya kosong meski telah lama menunggu.


Dan di antara mereka, ada satu musuh yang sama: 

"perbandingan". Membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain.


Perbandingan yang membuat seseorang lupa bahwa amanah adalah tanda kepercayaan....

Perbandingan yang membuat seseorang lupa bahwa penundaan bukanlah penolakan....

Membandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupan diri sendiri adalah bencana. Sumber penderitaan. 


Di sanalah kebahagiaan perlahan hilang.

Bukan karena Allah tidak adil,

tetapi karena hati kurang syukur. Kurang menikmati apa yang sudah Allah berikan. Fokus kepada apa yang belum dimiliki.


Sibuk menimbang hidup orang lain. Sibuk menghitung nikmat orang lain sehingga lupa menghitung nikmat yang ada padanya.


Allah tidak pernah keliru dalam memberi,

dan tidak pernah lalai dalam menahan.


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.

Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.

Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)


Ada rahim yang diuji dengan berlimpah amanah.

Ada rahim yang dimuliakan dengan kesabaran menunggu.

Tidak ada yang lebih dicintai.

Tidak ada yang dianaktirikan.

Hanya cara Allah mendidik jiwa dengan cara  yang berbeda2...


Hari itu saya belajar,

bahwa tidak semua kehamilan adalah kabar gembira,

dan tidak semua keguguran adalah akhir dari harapan.

Keduanya adalah bahasa Allah

untuk mengajar manusia tentang ikhlas, sabar, dan percaya.


Mungkin rasa bahagia  tidak lahir dari hidup yang sempurna,

tetapi....

dari hati yang berhenti membandingkan, dari hati yang selalu bersyukur

Dan pada hati yang ikhlas dalam menerima takdir Allah.


Ya Allah,

jika Engkau beri kami amanah yang banyak,

kuatkan pundak dan lembutkan hati kami.

Dan jika Engkau ajarkan kami menunggu,

jangan biarkan harapan itu mati.

Ajari kami percaya,

bahwa cara-Mu selalu lebih bijak,

meski tidak selalu mudah dipahami.


Sore itu, 

saya pulang membawa satu hikmah berharga....

Bahwa perbandingan atau membanding2kan memang pencuri kebahagiaan

"Comparison is the thief of joy"  (Theodore Roosevelt)