Peringatan Isra’ Mi’raj di UIN Alauddin pada siang itu berada pada fase kritis: ruangan sudah penuh, namun narasumber utama secara faktual belum tampak. Mata peserta mulai berat, dan sebagian pikiran mereka sudah terlebih dahulu isra’ ke warung kopi terdekat.


Pak Rektor dengan insting akademik sekaligus entertainer mengambil alih panggung.

“Baik,” katanya sambil mengangkat lembaran uang merah, “kita isi kekosongan acara dengan kuis. Hadiahnya cash.”


Seisi ruangan mendadak segar. Uang seratus ribuan punya daya kejut epistemik yang tak dimiliki slide PowerPoint, terutama bagi ibu-ibu di barisan depan.


Pertanyaan pertama, hadiahnya 100 ribu rupiah ujar Pak Rektor, “hanya boleh dijawab oleh peserta yang tidak berlabel ustaz. Tapi anda bukan jadi penonton melainkan jadi jurinya,” tambahnya sambil tersenyum. 

Tawa pecah.


“Dalam perjalanan Mi’raj, sebutkan salah satu fenomena yang Nabi lihat dan apa hikmahnya.”


Tangan-tangan langsung teracung, Panitia menunjuk satu peserta tercepat.


“Fenomena orang menanam lalu seketika tumbuh dan dipanen, hikmahnya seperti itulah pahala sedekah.”


“Mantap. Benar,” kata Pak Rektor singkat. Uang berpindah tangan dengan cepat, secepat pahala sedekah. Tepuk tangan membahana.


Pertanyaan ini bekerja pada level cara berpikir kausal-religius. Ia mengajarkan bahwa hubungan sebab-akibat dalam agama tidak selalu tunduk pada logika linear dunia.


Lanjut, pertanyaan kedua” peristiwa isra’ mi’raj adalah perjalanan fisik dan/atau rohani? 


Salah satu peserta mengacungkan tangan dan menjawab dengan penuh keyakinan. “Perjalanan fisik dan rohani, fisik yaitu kecepatan cahaya dan burak sedangkan rohani yaitu sholat lima waktu. 


Mantap, 100 rb buat anda. Tepuk tangan pun bergemuruh.


Pertanyaan ini yang diuji bukan hafalan, melainkan cara berpikir integratif. Pertanyaan ini mengkritik kebiasaan berpikir dikotomis: seolah iman dan sains harus saling meniadakan. 


Pertanyaan Ketiga, “Sekarang khusus sayap kiri,” kata Pak Rektor sambil melirik. “Tadi masih belum terlihat aktivitas intelektual, karena tidak ada yang mengangkat tangan.”


“Kapan peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi?”

Seorang petugas keamanan berdiri tegap.

“Siap, Pak Rektor. Tanggal 27 Rajab dalam kalender Hijriah, tahun ke 10 kenabian sekitar tahun 620 Masehi.”


“Benar.”

Seratus ribu kembali berpindah tangan. Ruangan makin bersemangat.


Pertanyaan ini contoh cara berpikir historis-hafalan. Ia penting, tetapi sering disalahpahami sebagai puncak pengetahuan. Kita merasa religius karena tahu tanggal, merasa alim karena hafal momentum. Padahal, pengetahuan kronologis hanya bermakna sejauh ia membuka ruang refleksi.


Pertanyaan Keempat, “Hadiahnya saya naikkan. Dua lembar uang merah,” ujar Pak Rektor.


“Pertanyaannya: Mengapa pada peringatan Maulid Nabi ada simbol telur, sedangkan pada Isra’ Mi’raj tidak?” Ustaz boleh ikut menjawab, lanjutnya. 


Ruangan mendadak senyap. Bahkan para ustaz ikut berpikir keras. Ini bukan soal hafalan, ini soal cara membaca makna dan simbol.


Seorang peserta berlabel ustaz, bergelar profesor, mengangkat tangan.

“Saya tidak tertarik pada hadiahnya”, katanya pelan, “tetapi pada pertanyaannya.”

Ia berhenti sejenak, memberi jeda filosofis.


“Maulid memperingati kelahiran Nabi dalam konteks sosial-historis, maka simbolnya biologis: telur, kehidupan. Sedangkan Isra’ Mi’raj adalah peristiwa spiritual-transenden, melampaui simbol material. Karena itu ia tidak butuh telur.”


Tepuk tangan panjang. Sepertinya jawaban tersebut memukau peserta. 


“Baik,” kata Pak Rektor, “karena Pak Profesor tidak tertarik hadiah, maka hadiahnya saya berikan ke sayap kiri.”

Sayap kiri pun bergemuruh. Posisi duduk ternyata menentukan pendapatan. 


Pertanyaan ini menguji cara berpikir simbolik. Ia memaksa peserta keluar dari nalar literal dan masuk ke wilayah makna. Bahwa simbol bukan sekadar ornamen budaya, melainkan bahasa kesadaran kolektif.


“Nah,” kata Pak Rektor sambil mengangkat lima lembar uang merah, “pertanyaan terakhir. Hadiahnya lima ratus ribu.”


“Berapa jarak yang ditempuh Nabi secara keseluruhan dalam peristiwa Mi’raj?”


Ruangan membeku. Tidak ada tangan. Tidak ada suara. Hanya kening berkerut dan tatapan saling curiga.


Ini bukan lagi soal Isra’ Mi’raj. Ini soal cara berpikir.

Seorang peserta akhirnya mengangkat tangan.


“Jaraknya jauh, tidak bisa diukur.”


Pak Rektor tersenyum.

“Di zaman modern ini, kita punya sains, fisika, matematika, dan AI. Coba buka Hp-Nya Cari jawabannya.”


Beberapa selang kemudian:

“Pak Rektor, informasinya Burak bergerak secepat cahaya, 300.000 km/detik. Tapi jaraknya tetap tidak diketahui dengan pasti.”


“Baik,” kata Pak Rektor. “Mana ahli matematika? Mana ahli fisika? Silakan dihitung.” 


Ketika semua sibuk menghitung, seorang ustaz yang juga salah satu pembicara dalam acara tersebut mengangkat tangan.


“Izin ikut menjawab, Pak Rektor.”

“Silakan.” 

“Jawaban saya pasti benar,” katanya yakin.

“Jarak dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha sama persis dengan jarak dari Sidratul Muntaha ke Masjidil Aqsa.”


Ruangan meledak oleh tawa.

“Itu jawaban khas ustaz,” kata Pak Rektor sambil tertawa. 


“Baik. Karena tidak ada yang bisa menjawab secara pasti, maka hadiah saya simpan, metodologinya silakan direnungkan.”


Semua bertepuk tangan keras penuh bahagia, terutama yang berhasil mendapatkan uang merah. 


Dengan demikian, kuis Pak Rektor tidak dapat dibaca sekadar sebagai selingan acara seremonial, melainkan sebagai perangkat pedagogis yang secara halus mendemonstrasikan transformasi cara berpikir. Dari hafalan faktual, integrasi iman dan rasio, pembacaan simbolik, hingga pengakuan atas batas metodologis pengetahuan. 


Isra’ Mi’raj, dalam kerangka ini, tidak lagi dipahami sebagai persoalan jarak dan kecepatan, tetapi sebagai latihan intelektual untuk menyadari bahwa puncak rasionalitas justru ditandai oleh kemampuan berhenti mengklaim kepastian. 


Dengan demikian, pertanyaan paling ilmiah dari peristiwa Isra’ Mi’raj bukan jarak perjalanan, melainkan: apakah cara berpikir kita masih di bumi, atau sudah berani menembus ketinggian kesadaran? Inilah titik refleksi paling mendasar dan hadiah paling besar dari kuis sederhana itu bukan uang, tetapi cara pandang yang ikut terangkat.