Dalam perspektif kesehatan masyarakat, pendekatan preventif jauh lebih rasional dibandingkan kuratif. Sederhananya: lebih baik mencegah daripada mengobati. Ironisnya, prinsip sederhana ini justru sering diabaikan, baik oleh individu maupun oleh negara.
Hidup sehat memang tidak murah, tetapi jauh lebih mahal biaya sakit. Bukan hanya uang, tetapi waktu, produktivitas, dan martabat hidup. Karena itu, jangan sakit. Apalagi jika Anda masyarakat miskin.
Pepatah bijak mengatakan sediakan payung sebelum hujan. Namun praktik sosial kita lebih akrab dengan versi modifikasinya: sediakan obat setelah kehujanan. Kita seolah perlu jatuh sakit terlebih dahulu agar bisa merasakan nikmatnya sehat. Padahal sehat itu bukan hadiah, melainkan hasil dari kebiasaan dan sistem yang benar.
Ketika musim hujan datang, yang berulang bukanlah kenangan, melainkan genangan. Di situlah Aedes aegypti berpesta. Musim hujan berubah menjadi musim DBD. Rumah sakit penuh, IGD sesak, dokter dan perawat bekerja di ambang kelelahan. Asuransi? Lumayan sibuk, bahkan bisa dibilang “untung”. Masyarakat? Jelas buntung.
DBD hanyalah satu contoh. Setiap hari kita hidup berdampingan dengan risiko kesehatan yang sebenarnya bisa dicegah: Hipertensi karena pola makan tinggi garam dan minim edukasi gizi, ISPA pada anak karena lingkungan padat dan sanitasi buruk, dan stunting yang terus diwariskan karena pencegahan kalah cepat dari seremoni.
Lucunya, anggaran preventif baru turun setelah ada korban. Ketika kasus muncul, barulah sanitasi digencarkan, fogging dilakukan, spanduk dipasang. Analogi klasiknya: hujan sudah deras, orang sudah basah kuyup, barulah sibuk mencari payung. Terlihat lucu, tapi ini bukan komedi, ini tragedi tahunan yang kita ulang dengan penuh kesadaran.
Di titik inilah kritik perlu diarahkan pada pemerintah. Negara masih terlalu gemar mengelola akibat, bukan menghilangkan sebab. Preventif sering diposisikan sebagai pengeluaran, bukan investasi. Padahal setiap rupiah untuk pencegahan jauh lebih murah daripada membiayai komplikasi. ini bukan opini, tetapi konsensus ilmu kesehatan masyarakat.
Pemerintah rajin memotong pita gedung rumah sakit, tetapi lamban memperbaiki drainase. Bangga dengan teknologi medis mahal, tetapi abai pada edukasi kesehatan dasar. Sehat belum dianggap prestasi, sakit baru dianggap urgensi.
Kita perlu bertanya jujur: mengapa sakit selalu kita anggap takdir, bukan kegagalan sistem? Mengapa sehat dianggap bonus, bukan hak dasar? Refleksi ini penting agar kita berhenti menyalahkan cuaca, nyamuk, atau nasib, lalu mulai melihat struktur yang lalai.
Jika masyarakat terus sakit, apakah itu benar-benar kebetulan? Atau justru hasil dari kebijakan yang tidak berpihak pada pencegahan? Mungkin negara tidak kekurangan anggaran, hanya kekurangan keberanian untuk memprioritaskan hal yang tidak terlihat hasilnya secara instan.
Dalam logika kebijakan kita, nyamuk tampaknya lebih disiplin daripada manusia. Ia tahu musim, tahu tempat berkembang biak, dan konsisten menjalankan tugasnya. Sementara manusia yang mengaku rasional, baru bergerak setelah grafik kasus naik dan media mulai ribut. Nyamuk bekerja preventif untuk kelangsungan hidupnya; kita bekerja reaktif untuk menyelamatkan muka.
Preventif bukan soal menunggu sakit lalu sibuk, melainkan cara berpikir: berpikir panjang, berpikir sistemik, dan berpikir waras. Sebab negara yang sehat bukan negara dengan rumah sakit terbesar, melainkan negara yang warganya jarang masuk rumah sakit. Dan itu, sayangnya, belum menjadi indikator keberhasilan yang benar-benar kita kejar.
Alat AksesVisi