Tulisan Prof Barsihannor tentang taklimat Presiden Prabowo di Istana Negara bukan laporan kegiatan, melainkan potret momen ketika negara mencoba berpikir keras dan mengajak akademisi ikut berpikir, bukan sekadar mengamati. 


Antrean panjang, hujan, dan pemeriksaan berlapis menjadi pedagogi kekuasaan yang sunyi: bahkan profesor dengan gelar panjang tetap harus antre. Mohon Maaf, di gerbang istana, H-index tidak berlaku.


Refleksi eskatologis yang muncul dari pengalaman ini justru menunjukkan kedewasaan intelektual. Kekuasaan dibaca bukan sebagai sesuatu yang harus disembah atau dicurigai berlebihan, tetapi direnungkan. 


Jalur khusus undangan adalah metafora sosial paling jujur: prestasi penting, tapi kenalan sering lebih penting. Kabar baiknya, akhirat tidak mengenal Protokoler Negara. 


Taklimat Presiden sendiri terasa lebih sebagai kuliah kebangsaan ketimbang pidato politik. Tiga model statecraft : ideologi, ekonomi, dan survival, disampaikan bukan sebagai jargon akademik, melainkan sebagai cara berpikir strategis. Di sinilah “penaklukan ide” bekerja: bukan dengan paksaan, melainkan dengan narasi besar tentang keberanian negara berpikir jauh ke depan.


Ketika perguruan tinggi disebut sebagai the brain of the country, itu bukan sekadar pujian, melainkan peringatan. Otak yang hanya sibuk mengurus akreditasi, ranking sinta, dan laporan kinerja, tetapi absen dari perdebatan ideologis bangsa, sedang mengalami penyusutan intelektual. Kita rajin mengukur mutu, tapi pelit mengukur keberanian berpikir.


Momen dialog singkat antara Presiden dan Rektor UIN Alauddin tentang Kampung Haji di Mekkah justru menjadi titik simbolik yang penting. Ia menandai bahwa negara masih mengakui dimensi keagamaan bukan sebagai beban, tetapi sebagai aset geopolitik dan kultural. 


Kalimat “ini bukan sekadar taklimat, ini penaklukan ide” memang terdengar provokatif, tetapi justru di situlah kejujurannya. Sebagai akademisi, pertanyaannya kita berada di mana? apakah kita ikut menulis ide-ide yang menaklukkan itu, atau sekadar menjadi audiens yang sibuk bertepuk tangan. 


Tulisan ini, pada akhirnya, mengingatkan kita bahwa Istana Negara bukan hanya pusat kekuasaan, tetapi juga ruang dialektika. Ketika negara mau berbicara dengan bahasa ide, dan akademisi mau mendengar tanpa kehilangan daya kritis, maka yang terjadi bukan kooptasi, melainkan kemungkinan kolaborasi cara berpikir yang saling menguji, bukan saling menundukkan.


Bangsa ini tidak kekurangan kritik. Ia kekurangan keberanian intelektual. Dan mungkin, itulah pesan paling keras yang disampaikan tanpa perlu berteriak