Di panggung stand-up, kalimat “Menurut pendapat saya…” bisa menjadi perisai ajaib: mengkritik tanpa risiko, menyinggung tanpa konsekuensi. Komika Pandji memakainya dan aksinya menjadi viral di Indonesia.
Dengan dalih subjektivitas, kritik disulap jadi tawa, sindiran naik kelas jadi refleksi, dan potensi laporan hukum menguap sebelum sempat disusun.
Akademisi tidak punya kemewahan itu. Mengatakan, “Menurut pendapat saya, membakar sampah itu pencemaran lingkungan”, tanpa pengukuran dan membandingkan dengan Baku Mutu Lingkungan, adalah kecerobohan metodologis.
Membakar sampah bukan secara langsung dapat dikatakan terjadi pencemaran lingkungan melainkan faktanya baru terdapat sumber pencemaran yang menghasilkan zat pencemar.
Pencemaran lingkungan baru terjadi ketika zat pencemar, misalnya karbon monoksida diukur dan hasilnya melebihi Baku Mutu Lingkungan yang telah ditetapkan.
Menyebutnya pencemaran tanpa data dan analisis mendalam bukan hanya keliru secara ilmiah, tapi juga mengkhianati integritas akademik.
Lingkungan pada dasarnya memiliki daya tampung terhadap zat pencemar. Analoginya seperti gelas yang mampu menampung air. Menjadi masalah ketika air melebihi kapasitas gelas sehingga air menjadi tumpah.
Seberapa sering kita, sebagai akademisi, tergoda menarik kesimpulan berdasarkan opini pribadi, bukan data?
Berapa banyak publikasi yang lahir dari interpretasi cepat, formalitas statistik, dan narasi yang terdengar “ilmiah” tapi sebenarnya kosong metodologi?
Di titik itu, kita tidak berbeda dengan komentator media sosial yang asal bunyi, hanya bedanya, kita mengenakan jubah akademik. Jubah itu tidak menutupi kesalahan logika, kesalahan metodologis, atau fakta yang diabaikan.
Ilmu pengetahuan menuntut ketelitian, kesabaran, dan keberanian untuk menunda kesimpulan. Akademisi sejati bukan yang paling vokal, tetapi yang paling berhati-hati; yang berani berkata, “Belum cukup data”, meski semua pihak menunggu jawaban instan.
Mengedepankan opini pribadi di tempat yang seharusnya berbicara fakta bukan hanya cacat akademik; itu adalah pelanggaran terhadap misi pengetahuan itu sendiri.
Dalam dunia akademik, fakta tidak peduli seberapa percaya diri kita berkata “Menurut pendapat saya…”.
Fakta menunggu pengukuran, pembuktian, dan analisis kritis. Jika kita tergoda menutupi kekurangan data dengan opini, kita bukan hanya menipu pembaca; kita menipu diri sendiri, dan menodai ilmu pengetahuan yang seharusnya kita bela.
Alat AksesVisi