Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa datang ke ruang kerja saya menyerahkan draf skripsi. Rapi, argumentatif, referensinya lengkap. Tapi begitu saya tanya balik satu-dua pertanyaan sederhana tentang argumennya sendiri, ia tergagap, mengaku tak sepenuhnya paham bagian mana yang sebenarnya ia tulis sendiri. Belum lagi, saya pernah mengajar dia sejak tahun pertama kuliah di prodi saya. Saya pernah membaca paper-paper yang dia tulis sebagai tugas mandiri. Juga tulisan esai menjawab soal-soal UTS dan UAS.
Jelas, terdapat perbedaan besar dari segi kerapian format dan kualitas isi antara tulisan-tulisan yang disebut terakhir dengan skripsi dia yang kini di depan saya. Apakah dia telah mengalami transformasi penting secara akademik sehingga kini dia dapat menulis dengan baik dan argumentatif. Saya ragu tentang itu. Saya malah menduga, sebagian besar tulisan itu lahir dari bantuan AI, bukan dari pergulatannya sendiri dengan persoalan yang ia bahas.
Kejadian yang bukan cuma sekali seperti itu mengusik saya untuk kembali memikirkan pertanyaan yang belakangan makin sering muncul di sejumlah kampus terkemuka di negara-negara maju: ketika mesin semakin pintar, apa sebenarnya yang harus tetap kita pertahankan dari kemanusiaan kita?
AI kini bukan sekadar alat mencari informasi. Ia bisa menjelaskan, menerjemahkan, menyusun argumen, bahkan menulis nyaris seperti manusia. Ini perubahan yang lebih besar daripada sekadar kemunculan teknologi baru: AI sedang mengubah cara kita berelasi dengan pengetahuan itu sendiri.
Dulu, ketika tidak tahu sesuatu, kita bertanya pada guru, membuka buku atau ensiklopedia, atau menyusuri rak perpustakaan, dengan segala kesabaran yang dituntutnya. Internet lalu membuat informasi jauh lebih mudah dijangkau: cari lewat Google. Kini AI melangkah lebih jauh lagi: bukan hanya menemukan informasi, tapi langsung mengolahnya jadi sesuatu yang siap pakai, siap tempel.
Bagi dunia kampus, pertanyaannya jadi tidak sederhana. Kalau mesin bisa membantu mengerjakan begitu banyak pekerjaan intelektual, sebetulnya apa yang sedang kita pelajari di universitas?
Saya tidak buru-buru mau bilang, mahasiswa saya tadi "tidak belajar apa-apa." Soalnya bukan semata pada dipakai-tidaknya AI, melainkan apa yang terjadi selama prosesnya. Apakah ia memahami argumennya sendiri? Bergulat dengan persoalan yang ia bahas? Sanggup mempertanggungjawabkan kesimpulannya di depan orang lain, bukan di depan mesin?
Di sinilah bedanya produk akademik dan proses pendidikan. Paper bagus belum tentu tanda pemahaman yang bagus. Nilai tinggi belum tentu cermin kedalaman berpikir. Gelar sarjana, bahkan gelar doktor sekalipun, tak otomatis menandakan kedewasaan intelektual. Atau seperti pernah dikatakan oleh Rocky Gerung, "Ijazah itu tanda anda pernah sekolah, bukan tanda anda pernah berpikir".
Maka, ketika AI kian sanggup membantu kita mengetahui dan menghasilkan sesuatu, kemampuan yang justru makin penting adalah judgment, daya menimbang. Kita sendiri yang mesti menentukan informasi mana yang benar, argumen mana yang masuk akal, dan tindakan mana yang pantas dilakukan. Itu pekerjaan yang tak bisa didelegasikan sepenuhnya ke mesin.
Persoalan ini sebenarnya jauh lebih tua daripada AI. Dalam tradisi keilmuan Islam, ada kerangka lama yang menurut saya justru makin relevan hari ini: tanzil, tafaqquh, dan tajassud. Pengetahuan turun kepada kita (tanzil), lalu perlu dipahami sungguh-sungguh (tafaqquh), sebelum akhirnya menjelma jadi sikap dan tindakan keseharian (tajazzud). Pengetahuan baru menjadi ilmu ketika ia membentuk cara kita berpikir dan menjalani hidup, bukan sekadar tersimpan rapi sebagai data di kepala atau di layar.
AI bisa membantu tahap pertama, bahkan sedikit tahap kedua. Tapi tahap ketiga, bagaimana pengetahuan menjelma jadi karakter (seperti kejujuran), tetap saja pekerjaan manusia, dan hanya bisa ditempuh lewat pergulatan panjang, bukan jalan pintas semalam.
Karena itu, peran dosen pun mesti dilihat ulang. Zaman ketika otoritas dosen cukup ditopang oleh "lebih banyak tahu" sudah lewat. Ketika informasi ada dalam genggaman semua orang, otoritas keilmuan makin ditentukan oleh kedalaman pemahaman, pengalaman, judgment, integritas, dan keteladanan, bukan lagi sekadar penguasaan informasi di atas kertas.
Mahasiswa pun perlu didorong tumbuh jadi lebih dari sekadar pengguna AI yang cekatan. Mereka harus tetap dilatih berpikir, menilai, memilih, dan, ini yang sering dilupakan, bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Termasuk jujur dan bertanggung jawab atas apa yang mereka serahkan sebagai karya.
Pada akhirnya, inilah yang perlu terus kita bicarakan ketika bicara "peradaban digital". Masyarakat yang lebih cepat, lebih produktif, dan lebih terkoneksi, belum tentu jadi masyarakat yang lebih manusiawi dan bijaksana. Teknologi maju, tidak dengan sendirinya membuat peradaban ikut maju. Keduanya bisa berjalan berlainan arah tanpa kita sadari.
Maka, ketika AI kian pintar menjawab pertanyaan kita, tugas pendidikan justru bergeser: membantu kita menentukan pertanyaan mana yang benar-benar penting untuk diajukan, dan berani duduk lama dengan pertanyaan itu.
Sebab, masa depan peradaban kita, pada akhirnya, sangat bergantung pada manusia macam apa yang kita bentuk, ketika mesin sudah jadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Tantangan terbesar era AI barangkali bukan membuat mesin makin menyerupai manusia, melainkan memastikan kita sendiri tidak kehilangan kemanusiaan, sedikit demi sedikit, tanpa pernah benar-benar menyadarinya.