Seorang Dosen masuk ke kelas dengan senyum misterius. Ia menatap mahasiswa dan bertanya:
“Bagaimana cara memasukkan seekor jerapah ke dalam kulkas?”
Sejenak, kelas itu sunyi. Mahasiswa berpikir keras. Mereka membayangkan jerapah yang tinggi menjulang, dan kulkas rumah yang mungil. Dalam kepala mereka, itu adalah kontradiksi yang mustahil, dan mereka mencoba menalar sesuai “logika akal sehat”.
Namun dosen hanya tersenyum dan berkata:
“Caranya sederhana. Buka pintu kulkas, lalu giring jerapah itu masuk.”
Beberapa mahasiswa tersenyum kikuk, tapi seorang mahasiswa tetap skeptis:
“Pak, itu tidak make sense. Jerapah terlalu besar untuk kulkas!”
Dosen tertawa pelan, lalu menjawab:
“Analisis Anda benar jika Anda membandingkan dengan kulkas di rumah sendiri. Jangankan jerapah, ikan tuna pun akan terasa sempit. Masalahnya bukan pada jerapah atau kulkasnya, tapi pola pikir Anda sendiri.”
Ia berhenti sejenak, menatap seluruh kelas, dan menambahkan:
“Kulkas bukan sekadar kotak dingin. Fungsi kulkas adalah menyimpan. Jika kita berpikir dalam konteks fungsinya, maka Gudang pendingin di Samara, Rusia, bisa menampung 16.400 ton makanan. Jangankan seekor, satu keluarga jerapah sekalipun bisa masuk tanpa kesulitan.”
Jadi, seringkali kita gagal berpikir ‘make sense’ karena terperangkap oleh batasan imajinasi sendiri. Kita menilai dunia bukan sebagaimana adanya, tapi sebagaimana kita membayangkannya terbatas oleh asumsi lama.
Terkadang yang tampak mustahil hanyalah refleksi dari ketakutan kita untuk membayangkan kemungkinan yang lebih besar.
Hidup ini terlalu besar untuk dikecilkan oleh logika yang sempit. Jangan biarkan ukuran kulkas rumah Anda menentukan seberapa luas Anda bisa berpikir.
Alat AksesVisi