Gambar Zero-sum Game Belief: Sukses dengan Menjatuhkan Orang Lain

Di banyak ruang kehidupan hari ini—politik, bisnis, akademik, bahkan relasi sosial—kita menyaksikan satu keyakinan yang bekerja diam-diam namun sangat menentukan arah perilaku. Keyakinan itu adalah anggapan bahwa hidup merupakan arena rebutan yang sempit; bahwa kemenangan hanya mungkin diraih jika orang lain tersingkir; bahwa untuk naik, harus ada yang dijatuhkan.

Inilah mentalitas zero-sum game belief—sebuah cara pandang yang tampak rasional, kompetitif, bahkan “realistis”, tetapi diam-diam menggerogoti nurani, merusak keadilan sosial, dan mengeringkan makna spiritual kehidupan.

Secara sederhana, zero-sum game belief adalah keyakinan bahwa total “kemenangan” dalam hidup bersifat tetap. Jika seseorang menang, yang lain pasti kalah. Jika aku naik, kamu harus turun. Jika aku sukses, berarti ada yang harus gagal. Dalam paradigma ini, kolaborasi dipandang sebagai kelemahan, empati dianggap hambatan, dan keberhasilan orang lain dibaca sebagai ancaman. Ia tumbuh subur di tengah sistem yang menuhankan ranking, angka, jabatan, dan pengakuan publik, tetapi miskin kedalaman makna.

Padahal, keyakinan ini bukan hanya keliru secara sosial, tetapi juga rapuh secara moral dan spiritual. Ia melahirkan ilusi kesuksesan—tampak menang di luar, tetapi kalah di dalam. Sebab keberhasilan yang dibangun di atas kejatuhan orang lain selalu menyisakan luka: luka pada mereka yang dijatuhkan, dan luka pada jiwa yang menjatuhkan.

Al-Qur’an sejak awal telah membongkar ilusi ini dengan bahasa yang tenang namun tegas. Allah tidak membangun kehidupan di atas logika saling meniadakan, melainkan saling menguatkan:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)

Ayat ini bukan sekadar seruan etika, tetapi koreksi mendasar terhadap paradigma hidup. Bahwa kemajuan sejati lahir dari sinergi, bukan sabotase; dari kolaborasi, bukan eliminasi.

Zero-sum belief membuat kompetisi kehilangan nurani. Ia mendorong manusia melihat sesama bukan sebagai mitra kemanusiaan, melainkan sebagai rintangan. Padahal Nabi Muhammad SAW justru mengajarkan standar iman yang membalik logika tersebut:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini jarang dibaca dalam konteks sistem sosial dan ekonomi, padahal di sanalah relevansinya sangat tajam. Ia menegaskan bahwa iman bukan hanya urusan ritual, tetapi juga cara memandang keberhasilan: apakah kita sanggup bahagia tanpa harus melihat orang lain terluka?

Dalam sejarah Islam, kita menemukan contoh indah paradigma non-zero-sum pada kaum Anshar. Al-Qur’an memuji mereka bukan karena kekuatan ekonomi, melainkan keluhuran jiwa:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga dalam kesulitan.”
(QS. Al-Hasyr: 9)

Ini adalah antitesis paling nyata dari zero-sum belief. Dalam logika dunia yang sempit, berbagi berarti berkurang. Dalam logika iman, memberi justru memperluas makna hidup.

Ali bin Abi Thalib RA pernah mengingatkan dengan kalimat yang tajam namun relevan sepanjang zaman:

قِيمَةُ كُلِّ امْرِئٍ مَا يُحْسِنُهُ
“Nilai setiap orang ditentukan oleh kebaikan yang ia hadirkan.”

Bukan oleh siapa yang ia kalahkan, bukan oleh siapa yang ia singkirkan, melainkan oleh seberapa banyak kehidupan menjadi lebih baik karena kehadirannya.

Zero-sum belief membuat manusia sibuk menang sendiri, tetapi lupa bertanya: menang untuk apa, dan dengan harga apa? Ia melahirkan kecemasan permanen. Jika hidup dipandang sebagai perebutan, maka tidak ada rasa aman—bahkan ketika seseorang berada di puncak. Selalu ada ketakutan untuk disalip, dijatuhkan, atau digantikan.

Imam Al-Ghazali melihat akar masalah ini bukan semata pada sistem, tetapi pada penyakit hati:

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ
“Cinta berlebihan kepada dunia adalah pangkal segala kesalahan.”

Ketika dunia dipersempit menjadi trofi, manusia akan rela mengorbankan nilai, etika, bahkan kemanusiaan demi mempertahankannya.

Tulisan ini tidak sedang mengharamkan kompetisi. Islam tidak menolak berlomba. Tetapi Islam menolak perlombaan yang kehilangan adab dan tujuan. Berlomba dalam kebaikan bukan berarti menyingkirkan orang lain, melainkan mempercepat langkah diri sendiri tanpa menjegal sesama.

Maka pertanyaan reflektif yang perlu kita ajukan bukan lagi, “Bagaimana aku menang?” melainkan, “Apakah kemenanganku membuat kehidupan lebih bermakna, lebih adil, dan lebih manusiawi?”

Di titik inilah zero-sum belief perlu direposisi—bukan hanya sebagai kesalahan logika, tetapi sebagai krisis nurani. Sebab bangsa, institusi, dan individu yang dibangun di atas paradigma “menang sendiri” mungkin tampak kuat dari luar, tetapi rapuh dari dalam.

Dan barangkali, kesuksesan tertinggi bukanlah ketika kita berdiri sendirian di puncak, melainkan ketika kita sampai sambil memastikan tidak ada yang sengaja kita dorong jatuh di sepanjang jalan.

Wallahu A‘lam Bish-Shawab
✍️ Munawir Kamaluddin