Gambar Ya’juj & Ma’juj: Dalam Diri Manusia

Dalam tradisi Islam, kisah Ya'juj dan Ma'juj selalu memunculkan rasa ingin tahu sekaligus kegelisahan. Al-Qur’an menggambarkan mereka sebagai kaum yang membuat kerusakan besar di bumi, sehingga suatu kaum memohon perlindungan kepada seorang raja saleh bernama Dhul-Qarnayn. Ia kemudian membangun sebuah dinding kokoh dari besi dan tembaga untuk menahan serbuan mereka. Kisah ini disebut dalam Surah Al-Kahfi dan menjadi salah satu misteri besar dalam diskursus keislaman tentang masa depan umat manusia.

Namun kisah Ya’juj dan Ma’juj tidak hanya berbicara tentang makhluk atau bangsa yang tersembunyi di suatu tempat di bumi. Ia juga mengandung pesan yang lebih dalam tentang peradaban manusia.

Sejumlah cendekiawan Muslim mencoba memahami kisah ini dari sudut pandang sejarah. Sejarawan besar Ibn Khaldun berpendapat bahwa banyak kisah dalam kitab suci berkaitan dengan realitas sosial dan sejarah umat manusia. Dalam perspektif ini, Ya’juj dan Ma’juj mungkin merujuk pada bangsa-bangsa nomaden yang pernah menyerbu wilayah-wilayah peradaban besar di masa lalu.

Beberapa peneliti bahkan mengaitkannya dengan bangsa-bangsa dari kawasan utara Eurasia yang pernah melakukan invasi besar-besaran. Namun dalam tradisi Islam, kisah ini tidak berhenti pada penjelasan sejarah. Ia juga memiliki dimensi eskatologis—yakni berkaitan dengan peristiwa menjelang hari kiamat.

Karena itu, bagi banyak pemikir Muslim, kisah Ya’juj dan Ma’juj dapat dibaca sebagai peringatan bahwa peradaban manusia selalu berada di antara dua kekuatan: pembangunan dan kehancuran.

Dalam literatur tafsir klasik, para ulama menegaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah manusia nyata. Mufasir besar Ibn Kathir menjelaskan bahwa mereka adalah keturunan Adam yang jumlahnya sangat banyak dan akan keluar menjelang kiamat.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad  SAW disebutkan bahwa setelah turunnya Isa ibn Maryam, Ya’juj dan Ma’juj akan keluar dan membuat kerusakan besar di bumi. Tidak ada kekuatan manusia yang mampu menahan mereka. Pada akhirnya Allah sendiri yang membinasakan mereka dengan cara yang tidak terduga.

Para ulama memandang kisah ini sebagai pengingat bahwa kekuatan manusia memiliki batas. Ketika kerusakan sudah melampaui kemampuan manusia untuk mengatasinya, maka pertolongan ilahi akan datang.

Para sufi sering memandang kisah ini dengan pendekatan simbolik. Bagi mereka, Ya’juj dan Ma’juj bukan hanya bangsa di luar sana, tetapi juga potensi kerusakan dalam diri manusia. Sufi besar Jalaluddin Rumi pernah mengisahkan sebuah perumpamaan. Seorang murid bertanya kepada gurunya, “Di mana dinding yang menahan Ya’juj dan Ma’juj itu?”.

Sang guru menjawab, “Dinding itu adalah kesadaranmu. Ketika kesadaran runtuh, maka nafsu akan keluar seperti Ya’juj dan Ma’juj yang menghancurkan kehidupanmu.” Dalam tafsir spiritual ini, dinding yang dibangun oleh Dhul-Qarnayn adalah simbol disiplin rohani: iman, pengendalian diri, dan kebijaksanaan.

Di tengah hiruk pikuk dunia modern yang penuh kemajuan teknologi, kisah Ya’juj dan Ma’juj terasa semakin relevan. Kerusakan lingkungan, peperangan, keserakahan ekonomi, dan krisis moral sering kali tampak seperti “gelombang Ya’juj dan Ma’juj” yang datang dari berbagai arah.

Kisah ini mengajarkan bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh kekuatan materi, tetapi juga oleh nilai-nilai moral dan spiritual. Tanpa itu, dinding peradaban bisa runtuh kapan saja.

Pada akhirnya, pesan terpenting dari kisah ini adalah kewaspadaan. Manusia harus terus membangun “dinding” keadilan, ilmu, dan iman agar dunia tidak dikuasai oleh kekuatan-kekuatan yang merusak. Sebab bisa jadi, Ya’juj dan Ma’juj bukan hanya tentang masa depan—tetapi juga cermin bagi keadaan manusia hari ini.

Allah A’lam
Makassar, 06 Maret 2026