Sebuah percakapan di whatsapp:
Bu Carlota: "Bu, sudah tahu belum?"
Bu Esmeralda: "Belum. Ada apa?"
Bu Carlota: "Bilqis, putrinya Bu Tamara... hamil, lho."
Bu Esmeralda: "Astaghfirullah... yang benar?"
Bu Carlota: "Iya, Bu. Coba saja lihat perutnya. Makin besar."
Bu Esmeralda: "Serius?"
Bu Carlota: "Serius. Orang-orang juga sudah banyak cerita."
Bu Esmeralda: "Siapa yang cerita?"
Bu Carlota: "Anak-anak di kampus."
Bu Esmeralda: "Anak-anak tahu dari mana?"
Bu Carlota: "Ya pasti dengar dari orang-orang juga, Bu."
Bu Esmeralda: "Kalau sudah satu kampus yang cerita, berarti ada benarnya dong."
Bu Carlota: "Nah itu dia. Mana sekarang dia jarang ikut kegiatan."
Bu Esmeralda: "Iya ya... saya juga perhatikan begitu."
Bu Carlota: "Jalannya juga pelan-pelan."
Bu Esmeralda: "Benar juga."
Bu Carlota: "Makanya saya bilang, pasti ada sesuatu."
Bu Esmeralda: "Kasihan Bu Tamara kalau benar begitu."
Bu Carlota: "Makanya. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya, Bu."
Bu Esmeralda: "Tenang. Saya tidak akan cerita ke siapa-siapa."
Beberapa menit kemudian muncul tulisan: "Forwarded many times."
Begitulah cara gosip bekerja. Ia tidak pernah mengaku sebagai gosip. Ia menyamar sebagai kepedulian, menyamar sebagai informasi, menyamar sebagai keprihatinan. Padahal sesungguhnya hanyalah prasangka yang sedang mencari penonton.
Di era media sosial seperti sekarang, kita semakin terbiasa berkomunikasi melalui layar. Jempol lebih aktif daripada lisan. Pesan lebih cepat daripada klarifikasi. Asumsi lebih mudah diterima daripada kebenaran.
Dulu, untuk menggunjing seseorang, orang harus berkumpul di teras rumah. Sekarang cukup sebuah foto, sebuah status, sebuah tangkapan layar, atau sebuah pesan singkat. Lalu cerita itu berkelana dari grup ke grup, dari satu ponsel ke ribuan ponsel.
Mata menatap gawai. Melihat kehidupan orang lain. Melihat wajah-wajah yang tersenyum, pencapaian, kebahagiaan, dan sesuatu yang sebenarnya hanya potongan kecil dari kehidupan seseorang. Lalu hati mulai menebak-nebak, mulai berprasangka, mulai mengarang cerita.
Dan akhirnya , lahirlah gibah.
Hari ini banyak orang hidup dalam ketakutan. Bukan takut miskin. Bukan takut gagal. Tetapi takut menjadi bahan pembicaraan. Takut dijadikan topik. Takut dijadikan konsumsi grup WhatsApp. Takut namanya berkeliling dari satu ponsel ke ponsel lain.
*****
Jika itu sedang terjadi pada dirimu, tarik napas panjang. Lalu berpikir.
Mengapa aku menjadi tren topik?
Apakah cerita itu benar?
Kalaupun benar, apakah semua orang berhak membicarakannya?
Dan jika itu tidak benar, siapa yang akan mengembalikan nama baik yang telah rusak?
Tarik napas lagi. Lebih dalam.
Lalu tanyakan pada dirimu:
Apakah cerita buruk mereka benar-benar merugikanku?
Siapa yang sebenarnya untung?
Siapa yang sebenarnya rugi?
******
Orang yang digibahi mungkin terluka. Tetapi pelaku gibah sedang mengurangi pahala yang ia kumpulkan. Orang yang digibahi mungkin menangis semalam. Tetapi pelaku gibah harus mempertanggungjawabkan setiap huruf yang ia ketik. Orang yang digibahi mungkin kehilangan ketenangan sesaat. Tetapi pelaku gibah bisa kehilangan jauh lebih banyak di akhirat.
Allah ﷻ berfirman:
"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya." (QS. Al-Hujurat: 12)
*****
Waktu terus berjalan. Cerita tentang Bilqis semakin berkembang. Setiap orang menambahkan bumbu. Setiap orang merasa memiliki informasi baru. Setiap orang merasa menjadi sumber yang paling terpercaya. Padahal tidak seorang pun pernah bertanya kepada Bilqis. Tidak seorang pun pernah bertanya kepada Bu Tamara. Karena bagi para penggosip profesional, fakta sering kali tidak semenarik dugaan.
Beberapa bulan kemudian sebuah pesan masuk.
Bu Carlota: "Bu..."
Bu Esmeralda: "Iya, Bu?"
Bu Carlota: "Sudah dengar kabar Bilqis?"
Bu Esmeralda: "Yang kemarin itu?"
Bu Carlota: "Iya."
Bu Esmeralda: "Kenapa?"
Bu Carlota: "Dia masuk rumah sakit."
Bu Esmeralda: "Loh?"
Bu Carlota: "Katanya habis operasi."
Bu Esmeralda: "pasti operasi caesar kan? Perempuan atau laki2 anaknya Bu?
Bu Carlota: "bukan bayi. Tapi Tumor."
Bu Esmeralda: "Tumor?"
Bu Carlota: "Iya, Bu."
Bu Esmeralda: "Tumor apa?"
Bu Carlota: "Dokter bilang kanker ovarium."
Lama sekali tanda "mengetik..." muncul. Lalu hilang. Muncul lagi. Lalu hilang.
Tidak ada yang tahu harus berkata apa.
Sebab tiba-tiba mereka sadar.
Perut yang selama ini mereka jadikan bahan cerita bukan karena kehamilan. Melainkan karena penyakit yang sedang diperjuangkan seorang perempuan. Saat Bilqis berjuang melawan rasa sakit, orang-orang justru menambah sakitnya dengan prasangka.
*****
Betapa sering manusia merasa dirinya mengetahui segalanya. Mirip seperti seorang peramal.
Padahal hanya melihat sekilas, mendengar sepotong, lalu menyimpulkan seluruh cerita. Bisa jadi orang yang kita sangka sedang berbuat aib justru sedang berjuang mempertahankan hidupnya.
Dan bisa jadi, pada hari ketika semua rahasia dibuka oleh Allah, yang paling malu bukanlah orang yang digibahi. Melainkan orang-orang yang menikmati membicarakannya (karena bergosip itu nikmat bagi para penikmat gosip)
Karena ternyata Bilqis tidak pernah hamil. Tetapi banyak orang telah melahirkan dosa dari setiap pesan yang mereka kirimkan. Dan jejaknya masih tersimpan. Di layar. Di memori.
Dan yang paling berat, di catatan amal!
Lalu bagaimana dengan Bilqis?
Ia mungkin harus menanggung rasa sakit karena penyakitnya. Ia mungkin juga harus menanggung luka karena prasangka manusia. Namun setiap kata yang tidak benar tentang dirinya akan dimintai pertanggungjawaban.
Setiap gibah yang diarahkan kepadanya akan dicatat.
Setiap fitnah yang disebarkan tentangnya tidak akan hilang begitu saja. Karena Allah adalah Dzat Yang Maha Adil.
Maka ketika orang-orang sibuk mengirim pesan tentang Bilqis ke grup-grup WhatsApp, boleh jadi Bilqis sedang menerima sesuatu yang jauh lebih berharga daripada perhatian manusia: doa dari orang-orang yang tulus, kesabaran yang meninggikan derajatnya, dan keadilan yang Allah janjikan bagi setiap hamba yang dizalimi.
Sebab pada akhirnya, tidak semua transfer terjadi melalui rekening bank. Ada pula "transfer" yang terjadi melalui catatan amal. Ketika seseorang mengambil kehormatan saudaranya dengan gibah dan fitnah, ia sedang mempertaruhkan pahala yang telah ia kumpulkan. Dan ketika seseorang bersabar atas kezaliman yang menimpanya, Allah tidak pernah menyia-nyiakan balasannya.
Maka mungkin, saat para penggosip sibuk mengirim pesan, Bilqis justru sedang menerima begitu banyak "transfer" ke rekening akhiratnya. Sedangkan mereka tidak menyadari bahwa saldo amal mereka perlahan berkurang.
Sebelum jari kita menekan tombol "kirim", semoga kita sempat bertanya kepada diri sendiri:
"Apakah ini fakta, atau hanya prasangka?"
"Apakah ini bermanfaat, atau hanya memuaskan rasa ingin tahu?"
"Apakah aku siap mempertanggungjawabkan pesan ini di hadapan Allah?"
Semoga menjadi pengingat bagi kita semua.