Nilai kemanusiaan merupakan ajaran universal dan menjadi pesan umum seluruh agama di dunia. Namun, kita segera berhadapan dengan kesulitan untuk menampilkan wajah kemanusiaan agama-agama di era global saat ini, karena pertikaian panjang justru datang dari para pemeluk agama baik intern dan antar kelompok-kelompok agama, pada skala lokal maupun global. Lalu di mana peran ajaran agama?
Umat Islam secara teologis sering kali terinspirasi dari pesan Nabi Muhammad saw. bahwa “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari padanya”. Namun, pada kenyataannya yang banyak miskin, bodoh, dan terbelakang adalah umat Islam. Kemudian secara apologi dikatakan bahwa yang salah bukanlah ajaran agamanya, tapi pemahaman umat terhadap ajaran agamanya.
Jawaban seperti ini tidak boleh dibiarkan, karena ketinggian dan kebenaran ajaran agama harus terlihat dan terukur pada praktik kehidupan penganutnya. Bukankah ajaran agama diturunkan Tuhan untuk menjadi petunjuk dan pedoman hidup bagi kehidupan manusia? Kalau tidak demikian lalu untuk apa agama berikut Rasul dan kitab suci yang sarat dengan ajaran-ajaran moral dihadirkan.
Keterbelakangan umat Islam secara fisik terjadi di mana-mana pada negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim apalagi pada negara yang minoritas, karena kebanyakan mereka berada di bawah garis kemiskinan serta kondisi mental yang tidak sehat dalam merespons arus modernitas.
Hadirnya berbagai kelompok gerakan Islam yang ingin mengembalikan zaman keemasan Islam seperti pada masa Rasulullah dan para ulama salaf dalam bentuk pemahaman ajaran agama yang sangat formalistis, merupakan penyebab kesempurnaan ajaran Islam tentang kemanusiaan semakin jauh dari kenyataan. Hal ini terlihat sangat nyata dalam praktik kehidupan penganutnya.
Islam yang diajarkan oleh Muhammad saw. sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, hal ini ditegaskan dalam Alquran: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna” (QS. Al-Isra’/17: 70).
Hal ini merupakan dasar yang berkaitan dengan jaminan Islam terhadap persoalan kemanusiaan. Siapa pun dia, harus dihormati hak-haknya tanpa dibatasi oleh perbedaan warna kulit, suku, agama, profesi dan sebagainya. Semua manusia memiliki hak hidup, hak berbicara, hak berpendapat, hak berekspresi dan hak-hak lainnya. Asal tahu saja bahwa semua hak yang dimiliki manusia adalah anugerah Allah yang tidak boleh digunakan pada hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan-Nya.
Ajaran yang dibawa Muhammad saw. memiliki keberpihakan terhadap kaum lemah, marginal dan teraniaya, sama pentingnya dengan ajaran-ajaran yang berkaitan dengan ibadah ritual. Bahkan Alquran berulang kali menyebut bahwa mereka yang hanya puas dengan ibadah ritualnya, tapi tidak memiliki kepedulian terhadap fakir miskin dan orang teraniaya sebagai pendusta-pendusta agama.
Hiruk-pikuk perhatian umat Islam dalam melaksanakan ibadah haji, dan bolak-balik antara Mekkah dan Madinah dalam ibadah umrah yang telah berulang-ulang mereka lakukan, lebih mendapat prioritas dari pada menoleh sejenak untuk peduli terhadap kemiskinan global, kebodohan massal dan tatanan sosial yang sangat jauh dari harapan.
Padahal predikat haji mabrur (yang baik dan diterima) oleh Allah, dan salat yang khusyuk hanyalah yang dilakukan atas dasar takwa. Salah satu yang dapat menjadi bukti adalah sekembalinya dari ibadah haji, selepas melakukan salat, tidak lupa untuk menyucikan hati, pikiran, perbuatan dan hartanya serta memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan universal terhadap sesama manusia. (*)
Alat AksesVisi