Muktamar V Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, bukan sekadar agenda lima tahunan organisasi. Dengan tema “Memantapkan Persatuan dan Kolaborasi Menuju Indonesia Berkah”, muktamar ini hadir ketika bangsa membutuhkan energi yang mampu merawat persatuan di tengah keberagaman dan dinamika sosial yang semakin kompleks.
Wahdah Islamiyah kini memiliki jaringan yang luas di berbagai daerah. Karena itu, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana memperbesar organisasi, tetapi bagaimana menjadikan kebesaran itu sebagai kekuatan kemaslahatan bagi bangsa. Muktamar harus menjadi ruang untuk mengubah modal organisasi menjadi modal sosial, pendidikan yang mencerdaskan, dakwah yang menyejukkan, ekonomi yang memberdayakan, kaderisasi yang melahirkan pemimpin berintegritas, dan pelayanan sosial yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Tema persatuan dan kolaborasi menjadi penting karena persatuan tidak berarti menyeragamkan perbedaan. Persatuan berarti mampu menemukan tujuan bersama di tengah perbedaan. Kolaborasi pun bukan kehilangan identitas, tetapi menyatukan kekuatan untuk menghadirkan manfaat yang lebih besar.
Al-Qur’an mengingatkan:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2).
Ayat ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia hari ini. bangsa tidak membutuhkan lebih banyak sekat, tetapi lebih banyak jembatan.
Menariknya, rangkaian Muktamar juga telah diarahkan pada kegiatan yang menyentuh masyarakat berupa kesehatan, donor darah, UMKM, layanan sosial, seminar, serta penguatan guru Al-Qur’an. Bahkan panitia menargetkan sekitar 2.700 peserta dan menjadikan pengukuhan 10.000 guru ngaji sebagai salah satu agenda penting.
Inilah wajah organisasi keagamaan yang relevan dengan zaman, tidak hanya berbicara tentang umat, tetapi bekerja bersama umat; tidak hanya membangun lembaga, tetapi membangun manusia.
Karena itu, Muktamar V semestinya melahirkan legacy yang lebih besar daripada sekadar keputusan internal, gagasan strategis dan program terukur yang dapat ikut menjawab persoalan bangsa. Dakwah perlu semakin adaptif terhadap era digital, pendidikan harus menghasilkan manusia berilmu sekaligus berkarakter, ekonomi umat harus bergerak menuju kemandirian, kader harus dipersiapkan menjadi pemimpin profesional, dan kerja sama dengan pemerintah, ormas, akademisi, dunia usaha, serta masyarakat sipil perlu diperluas.
Wahdah Islamiyah dapat mengambil posisi sebagai mitra strategis bangsa, yakni tetap memiliki prinsip dan identitas, tetapi terbuka bekerja sama dalam kebaikan, kritis ketika diperlukan, namun tetap konstruktif dan solutif.
Di tengah polarisasi dan kecenderungan masyarakat mudah terpecah, dakwah yang santun dan wasathiyah menjadi semakin penting. Wahdah sendiri menegaskan pentingnya dakwah yang moderat, persatuan, dan kolaborasi sebagai jalan menuju Indonesia yang berkah.
Sebab Indonesia Emas tidak cukup dibangun dengan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, dan teknologi. Indonesia Emas membutuhkan manusia emas, yakni cerdas pikirannya, bersih hatinya, kuat integritasnya, matang spiritualitasnya, dan luas kepeduliannya.
Di sinilah Wahdah Islamiyah memiliki panggilan sejarah.
Semoga Muktamar V melahirkan kepemimpinan yang visioner, kader yang kompeten, gagasan yang berani, dan kolaborasi yang melampaui sekat-sekat organisasi. Semoga dari Jakarta lahir keputusan yang tidak berhenti di ruang sidang, tetapi bergerak menjadi amal nyata di tengah masyarakat.
Sebab ukuran kebesaran organisasi bukan hanya seberapa luas jaringannya, tetapi seberapa luas manfaatnya. Bukan seberapa banyak yang mengikutinya, tetapi seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadirannya.
Maka, Muktamar V hendaknya menjadi momentum dari konsolidasi menuju kontribusi, dari program menuju dampak, dan dari kebesaran organisasi menuju kemaslahatan bangsa.
Persatuan memberi kita kekuatan.
Kolaborasi memperluas daya.
Integritas menjaga arah.
Dan kemaslahatan menjadi tujuan.
Semoga Wahdah Islamiyah terus menjadi salah satu pilar moral, sosial, intelektual, dan spiritual bangsa, menguatkan umat, merawat persatuan, memperluas kolaborasi, dan ikut menyiapkan generasi terbaik menuju Indonesia Emas yang maju, adil, bermartabat, dan berintegritas.
MK