Gambar Universal/Perennial-itas Ritus Pengorbanan Hewan

Sejauh yang saya baca dlm buku sejarah agama-agama, ada satu hal menarik yang menjadi ajaran hampir semua agama manusia: ritual pengorbanan hewan. Dari masyarakat kuno sampai tradisi keagamaan modern, praktik itu terus hadir dalam bentuk yang beragam. Pertanyaannya, apa sebenarnya yang sedang dilakukan manusia ketika ia menyembelih hewan “atas nama agama”?

Antropolog E.B. Tylor melihat pengorbanan sebagai bentuk pertukaran simbolik. Manusia memberi kepada yang ilahi dengan harapan memperoleh balasan. Logikanya sederhana: aku memberi agar Engkau memberi. Tetapi Hubert dan Mauss melihatnya lebih jauh dari sekadar transaksi. Bagi mereka, pengorbanan adalah bentuk mediasi antara dunia manusia dan dunia sakral. Hewan yang disembelih menjadi perantara (isthmus/barzakh) bagi dua wilayah yang tak bisa disentuh secara langsung. Melalui ritual itu, manusia mencoba mendekati sesuatu yang berada di luar dirinya.

Van Gennep lalu menambahkan dimensi lain. Pengorbanan adalah bagian dari ritus peralihan. Ada ambang yang dilewati, ada perubahan keadaan, juga ada pemulihan hubungan kosmis. Hewan itu, dalam arti tertentu, melewati ambang tersebut atas nama manusia.

Dalam Islam, qurban memuat semua unsur itu sekaligus. Pertama, ia adalah bentuk penyerahan diri. Kata “Islam” sendiri memang mengandung makna kepasrahan. Tetapi Al-Qur’an juga menolak gagasan bahwa qurban adalah transaksi dengan Tuhan.

“Tdk akan sampai kepada Allah daging-dagingnya dan tidak pula darahnya, melainkan ketakwaan dari kamu”.
(QS. Al-Hajj: 37)

Jadi, yang penting bukan darah atau dagingnya tapi sikap batin di balik tindakan itu. Qurban bukan cara “membeli” rahmat Tuhan tetapi pengakuan bahwa manusia bersedia melepaskan sesuatu yang bernilai demi sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Kedua, qurban adalah ingatan yang terus dihidupkan. Setiap Idul Adha, umat Islam tidak sedang memulai cerita baru. Mereka mengulang kisah Ibrahim. Kisah tentang seorang manusia yang diminta menyerahkan apa yang paling ia cintai, lalu memilih taat. Dalam bahasa Van Gennep, ritual seperti ini adalah pengulangan ritus kosmis. Waktu sehari-hari seakan bertemu kembali dengan waktu sakral. Orang tidak hanya menyembelih hewan, tetapi juga memasuki kembali ingatan keagamaan yang diwariskan lintas generasi. Ia melanjutkan tradisi, kata lain untuk agama.

Ketiga, qurban punya dimensi sosial yang kuat. Daging dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan mereka yang membutuhkan. Di sini ritual tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menyentuh hubungan antarmanusia. Satu tindakan yang sekaligus memuat unsur agama, sosial, dan moral. Kesalehan dalam qurban tidak selesai pada ibadah pribadi, tetapi harus tampak dalam kepedulian sosial.

Jika diperhatikan, ada satu gagasan yang terus muncul dalam berbagai tradisi pengorbanan agama-agama dunia: kehidupan yang bernilai hampir selalu menuntut pengorbanan. Manusia tampaknya terus membawa kesadaran lama, bahwa sesuatu yang penting tidak diperoleh tanpa melepaskan sesuatu yang penting pula.

Dengan begitu, qurban sesungguhnya bukan hanya soal hewan yang disembelih. Ia adalah cara manusia berbicara jujur tentang dirinya sendiri. Tentang apa yang paling ia cintai (beta? harta? takhta? wanita? data?). Tentang apa yang diam-diam menguasai dirinya. Dan tentang seberapa jauh ia bersedia melepaskan semua itu.

Selamat berqurban, bukan hanya dengan menyembelih hewan, tetapi juga (belajar) melepaskan apa yg selama ini diam-diam menjadikan kita tawanan atau korban penipuan atas "diri" kita yang fitri, yang sejati, yang hakiki.