Dua atau tiga hari sebelum memasuki lebaran, beranda FB saya dihiasi perang narasi dan pengaruh terkait klaim kebenaran tunggal dalam menetapkan waktu lebaran idul Fitri. Kondisi ini biasa terjadi jika potensi perbedaan penetapan sangat terbuka. Syukur jika lebaran bersamaan, dan tetap merayakan perbedaan jika hari berbeda.
Ramadhan memang selalu membawa dua rasa yang berkelindan, harap dan haru. Harap karena sebentar lagi kita merayakan kemenangan, haru karena belum tentu kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya. Namun, di antara suasana batin itu, ada satu “tradisi tahunan” yang hampir selalu hadir yaitu perbedaan penetapan hari raya.
Sebagian mungkin akan ber-Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026. Sebagian yang lain mungkin pada Sabtu, 21 Maret 2026. Perbedaan ini seringkali memantik perdebatan, bahkan yang lebih menyedihkan, mengikis ukhuwah. Padahal, jika kita mau jujur dan sedikit menenangkan ego, perbedaan ini bukan soal benar atau salah secara mutlak, melainkan hasil dari ijtihad, usaha sungguh-sungguh para ulama dalam membaca tanda-tanda alam dan dalil syar’i.
Di titik ini, saya ingin menegaskan bahwa Idul Fitri bukan tentang tanggal, tetapi tentang transformasi. Ia bukan sekadar Jumat atau Sabtu, tetapi tentang apakah kita benar-benar kembali kepada fitrah, menjadi manusia yang otentik, jujur pada nurani, dan lembut dalam memperlakukan sesama.
Fitrah itu tidak pernah bising. Ia tenang. Ia tidak suka bertengkar hanya karena perbedaan metode hisab atau rukyat. Ia justru tumbuh dalam sikap saling menghormati, saling memahami, dan saling memberi ruang.
Bayangkan, jika Ramadhan yang kita jalani selama 29 atau 30 hari ini justru berujung pada perdebatan yang keras, saling menyindir, bahkan merendahkan pilihan orang lain, lalu di mana letak keberhasilan puasa kita? Bukankah puasa itu sendiri melatih kita untuk menahan, bukan hanya lapar dan dahaga, tetapi juga amarah dan keinginan untuk selalu merasa paling benar?
Perbedaan, dalam perspektif yang lebih dewasa, bukanlah ancaman. Ia adalah cermin. Ia menguji sejauh mana kita bisa berdiri teguh pada keyakinan, sekaligus tetap merangkul orang lain yang berbeda. Di sinilah kualitas keberagamaan seseorang diuji, bukan pada keseragaman, tetapi pada kemampuan merawat kebersamaan di tengah keragaman.
Ukhuwah tidak dibangun dari kesamaan mutlak, tetapi dari kesadaran bahwa kita semua sedang berjalan menuju Tuhan yang sama, meskipun dengan langkah dan cara yang mungkin berbeda.
Maka, jika nanti kita merayakan Idul Fitri di hari yang berbeda, jangan biarkan hati kita juga ikut terpisah. Jangan sampai perbedaan tanggal melahirkan jarak batin. Justru sebaliknya, jadikan momen ini sebagai latihan kedewasaan spiritual bahwa iman yang matang tidak mudah goyah hanya karena perbedaan teknis.
Karena pada akhirnya, kemenangan sejati di hari raya bukanlah siapa yang lebih dulu bertakbir, tetapi siapa yang lebih dulu kembali menjadi manusia yang lapang dadanya, jernih pikirannya, dan hangat sikapnya.
Perbedaan bukan jurang, melainkan jembatan menuju kedewasaan iman. Idul Fitri tidak diukur dari tanggal, tetapi dari sejauh mana hati kembali jernih. Saat kita mampu menghormati tanpa menghakimi, di situlah fitrah menemukan jalannya. Ukhuwah tumbuh bukan dari keseragaman, melainkan dari kelapangan jiwa menerima keberagaman sebagai rahmat yang mempersatukan langkah menuju Tuhan.
Sungguminasa 29 Ramadhan 1447 H
Alat AksesVisi