Aku adalah ibu dari 4 anak. Sebagai emak2, Ada fase dalam hidup seorang ibu, ketika ia merasa paling pintar di rumahnya.
Merasa bisa memasak, mencuci, membersihkan, ke pasar, mengatur jadwal, mengobati luka, bahkan… mencukur rambut anaknya sendiri.
Waktu itu masa Covid. Semua serba terbatas. Tukang cukur sulit, keluar rumah pun waswas. Saai itu rambut anak lelakiku mulai gondrong. Sebagai mama yang percaya diri berlebihan, aku pun berinisiatif menajdi tukang cukur dadakan.
Kubeli alat cukur. Lengkap.Kusiapkan “perlengkapan tempur”.Kubuka YouTube.Kutonton teknik fade, undercut, potong rapi bagian samping.Oke. Mama siap!“Hadi, ayo nak. Mama cukur ya.”
Ia datang. Duduk tenang. Wajahnya pasrah seperti pasien yang siap diobati dokter. Hanya saja bedanya, pasien ini membelakangi dokternya, eh tukang cukurnya. Aku berdiri di belakangnya dengan keyakinan setinggi langit.
Dua menit kemudian… (pasti sahabat pembaca tahu yang bakalan terjadi , kan?)
Tokka’.
Pitak.
Tidak rata.
Dan tidak bisa diselamatkan.
Tanganku mulai dingin. Jantung berdebar. Napasku agak cepat. Ini seperti gejala2 syok. Syok et causa salah cukur.
Aku tahu ini bukan model Korea. Ini bukan tren. Ini tragedi!
Alat AksesVisi