Tulisan saya hari ini terinspirasi oleh unggahan youtube yang saya dapatkan di salah satu WA Group. Saya simak video itu berulang kali, saya share dan akhirnya saya putuskan untuk mengulasnya.
Tahun 2016 menjadi titik balik yang tidak pernah dibayangkan oleh Rozi, S.Pi, M.Biotech, dosen Departemen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Hari itu seharusnya menjadi hari biasa dalam aktivitas akademiknya. Bersama sang istri, ia sedang mencari ikan gurami sebagai bagian dari kebutuhan sampel penelitian. Namun takdir menghadirkan skenario yang sama sekali berbeda. Sebuah mobil menabrak mereka dengan keras. Kecelakaan tragis itu mengubah seluruh arah hidupnya dalam hitungan detik.
Istrinya meninggal dunia di tempat. Sementara Rozi mengalami luka berat dan koma. Ketika sadar, kenyataan pahit telah menunggunya. Kaki yang mengalami cedera parah tidak dapat diselamatkan. Infeksi bakteri terus menyebar ke jaringan lain sehingga tim medis harus mengambil keputusan yang sangat berat yaitu amputasi.
Tak terbayangkan, dalam waktu yang hampir bersamaan, Rozi kehilangan dua hal sekaligus. Ia kehilangan pendamping hidup yang dicintainya dan kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Lebih berat lagi, ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia juga harus merawat anaknya yang masih bayia. Bayi yang seharusnya tumbuh dalam pelukan ayah dan ibu, kini hanya memiliki seorang ayah yang sedang berjuang menyelamatkan dirinya sendiri dari keterpurukan.
Bagi banyak orang, musibah seperti itu mungkin sudah cukup untuk menghancurkan seluruh semangat hidup. Tidak sedikit orang yang kehilangan arah ketika kehilangan pasangan hidup. Apalagi jika harus menghadapi keterbatasan fisik yang permanen. Namun justru pada titik terendah itulah Rozi menemukan cara pandang baru terhadap kehidupan.
Ia memilih bersyukur. Pilihan ini terdengar sederhana ketika diucapkan, tetapi sangat berat ketika dijalani. Bersyukur bukan berarti menolak kenyataan bahwa dirinya sedang menderita. Bersyukur bukan berarti menganggap kehilangan istrinya sebagai sesuatu yang ringan. Bersyukur dalam konteks ini adalah kemampuan melihat bahwa di balik musibah yang besar masih ada nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya.
Dia sadar, Ia masih hidup. Dia masih memiliki anak yang harus dibesarkan. Dia masih memiliki akal, ilmu, dan kesempatan untuk berkarya. Dia masih memiliki waktu untuk memberikan manfaat kepada banyak orang.
Paradigma inilah yang kemudian terbangun dan menjadi sumber energi baru dalam hidupnya. Alih-alih terus bertanya mengapa musibah itu menimpanya, ia memilih bertanya, apa yang masih bisa saya lakukan dengan kehidupan yang tersisa?
Pertanyaan inilah yang mengubah segalanya. Rozi tidak berhenti menjadi akademisi. Ia tidak berhenti belajar. Ia tidak menjadikan keterbatasan fisik sebagai alasan untuk mengubur cita-cita. Di tengah perjuangan membesarkan anak dan beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai penyandang disabilitas, ia tetap melanjutkan studi doktoralnya di bidang kedokteran hewan.
Perjalanan itu tentu tidak mudah. Menyelesaikan studi doktoral dalam kondisi normal saja sudah menuntut kerja keras yang luar biasa. Apalagi bagi seseorang yang harus menjalani kehidupan dengan status disabilitas, menghadapi luka batin karena kehilangan pasangan, sekaligus memikul tanggung jawab sebagai orang tua tunggal.
Namun sejarah selalu ditulis oleh mereka yang tidak menyerah pada keadaan. Tahun 2026 menjadi saksi dari keteguhan itu. Setelah bertahun-tahun berjuang, Rozi berhasil meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude. Lebih dari itu, ia lulus dengan indeks prestasi sempurna, 4,0. Sebuah capaian akademik yang luar biasa bagi siapa pun, terlebih bagi seseorang yang harus berjalan melewati begitu banyak ujian kehidupan.
Kisah Dr. Rozi, S.Pi, M.Biotech mengajarkan bahwa manusia sering kali lebih kuat daripada yang ia bayangkan. Yang menghancurkan seseorang bukan selalu musibahnya, melainkan cara pandangnya terhadap musibah tersebut. Ketika seseorang hanya melihat apa yang hilang, ia akan tenggelam dalam kesedihan. Tetapi ketika ia mulai melihat apa yang masih dimiliki, ia menemukan alasan untuk bangkit.
Kehidupan memang tidak selalu memberi apa yang kita inginkan. Kadang ia mengambil sesuatu yang sangat kita cintai. Kadang ia memaksa kita berjalan melalui jalan yang tidak pernah kita pilih. Namun selama masih ada napas, masih ada kesempatan untuk menulis babak baru yang lebih bermakna, maka tulislah sejarah hidup tersebut di lembaran-lembaran kehidupan.
Sungguminasa, 12 Juni 2026
Alat AksesVisi