Dalam banyak gedung modern seperti hotel, pusat perkantoran, atau bangunan komersial, kita sering menemukan sebuah pemandangan yang menarik sekaligus paradoks. Ruang-ruang yang luas dan indah disediakan untuk lobi, restoran, ruang pertemuan, dan berbagai fasilitas komersial. Semuanya ditata dengan sangat baik, artistik, dan representatif.
Namun ketika seseorang mencari tempat ibadah, sering kali ia diarahkan ke lorong kecil di sudut bangunan. Kadang berada di ruang sempit dekat tangga darurat, di belakang area parkir, atau di ruangan kecil yang nyaris tersembunyi. Tempat itu memang diberi label mushalla atau ruang ibadah, tetapi sering terasa seperti ruang tambahan yang dibuat sekadar untuk memenuhi kebutuhan minimal.
Fenomena ini mengundang sebuah pertanyaan reflektif, mengapa ruang untuk aktivitas komersial bisa begitu megah, sementara ruang untuk pengabdian kepada Tuhan sering ditempatkan di tempat yang sempit?
Padahal dalam kehidupan manusia, ibadah adalah aktivitas yang memiliki makna sangat mendasar. Ia bukan sekadar rutinitas religius, tetapi cara manusia menyambung kembali hubungannya dengan Yang Maha Kuasa. Di ruang itulah manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, menundukkan ego, dan mengingat bahwa di atas segala aktivitas hidup ada Tuhan yang menjadi pusat segala makna.
Menempatkan ruang ibadah di sudut sempit kadang terasa seperti simbol yang tidak disengaja tentang bagaimana manusia modern menempatkan Tuhan dalam kehidupannya, ada, tetapi sering berada di pinggiran.
Namun tidak semua tempat menghadirkan gambaran seperti itu. Di beberapa pusat perbelanjaan di Makassar misalnya, kita justru melihat pendekatan yang berbeda. Sebagian mall masih menyediakan ruang ibadah yang luas, bersih, artistik, dan sangat representatif. Mushalla tidak lagi terasa seperti ruang sisa, tetapi menjadi bagian penting dari desain bangunan.
Ruangnya nyaman, pencahayaannya baik, tempat wudunya tertata rapi, bahkan sering dilengkapi ornamen yang menenangkan. Ketika seseorang memasuki ruang itu, ia tidak merasa sedang berada di sudut bangunan, tetapi di tempat yang benar-benar dihormati sebagai ruang spiritual.
Inisiatif seperti ini patut diapresiasi. Ia menunjukkan bahwa modernitas dan spiritualitas tidak harus dipertentangkan. Bangunan komersial tetap bisa berkembang, tetapi pada saat yang sama memberi ruang yang layak bagi manusia untuk beribadah.
Karena pada akhirnya, keberadaan ruang ibadah dalam sebuah bangunan bukan hanya soal fasilitas teknis. Ia adalah simbol tentang nilai apa yang ditempatkan di pusat kehidupan.
Dalam refleksi yang lebih luas, fenomena ini sebenarnya tidak hanya berbicara tentang arsitektur bangunan, tetapi juga tentang arsitektur kehidupan manusia.
Banyak orang menempatkan hampir seluruh energi hidupnya pada pekerjaan, bisnis, dan berbagai urusan dunia. Waktu, pikiran, dan perhatian tercurah pada hal-hal yang bersifat material. Sementara hubungan dengan Tuhan sering hanya mendapatkan sisa waktu di sela-sela kesibukan.
Tuhan hadir dalam hidup manusia, tetapi kadang hanya di “lorong sempit” waktu dan perhatian.
Padahal dalam pandangan spiritual, hubungan dengan Tuhan seharusnya berada di pusat kehidupan, bukan di pinggiran. Dari kesadaran itulah lahir kejujuran dalam bekerja, kepedulian kepada sesama, dan keseimbangan dalam menjalani hidup.
Ketika manusia menempatkan Tuhan di tempat yang utama dalam hatinya, maka seluruh aspek kehidupan akan menemukan arah yang lebih bermakna.
Kita diajak untuk merenung kembali, di mana posisi Tuhan dalam kehidupan kita? Apakah Ia berada di ruang utama hati kita, atau hanya di lorong-lorong sempit yang kita sisakan setelah semua urusan dunia selesai? Karena sesungguhnya, Tuhan tidak membutuhkan ruang besar dari manusia. Tetapi manusialah yang membutuhkan ruang luas untuk selalu mengingat-Nya.
Jika dalam bangunan kita menempatkan rumah Tuhan di lorong sempit, jangan sampai dalam hati kita pun Tuhan hanya mendapat ruang yang tersisa.
Sungguminasa, 27 Ramadhan 1447 H
Alat AksesVisi