Bulan Ramadhan datang, dan bersama itu datanglah rutinitas yang penuh berkah: puasa. Tapi ada satu fenomena yang tak bisa dihindari, tertidur dengan alasan yang "berkualitas" selama berpuasa. Seakan-akan, tidur adalah ibadah paling berat yang harus dilakukan. Tidur menjadi aktivitas sakral yang mengundang seribu satu alasan, yang bagi sebagian orang, lebih menyenangkan daripada membaca Al-Qur'an atau berzikir.
"Saya Mengikuti Sunnah Tidur Siang!"
Ada saja orang yang menganggap tidur siang itu bagian dari sunnah. "Tidur siang itu kan, katanya, seperti beribadah," ujar seseorang yang tampaknya sangat serius menyandarkan kepala di atas meja. Bukan hanya tidur siang, bahkan tidur setelah sahur pun dianggap sebagai salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah. Wah, kalau begini terus, bisa-bisa kita semua keliru dalam memahami sunnah.
"Penting untuk Kesehatan!"
Mungkin, ini alasan yang paling berkelas. "Tidur itu penting untuk kesehatan," ujar mereka yang merasa perlu tidur lebih lama karena puasa. Konon, dengan tidur yang cukup, tubuh bisa meregenerasi diri dan mengurangi rasa lapar. Tapi ketika ditanya seberapa banyak mereka tidur, jawabannya bisa jadi lebih dari 12 jam. "Lho, bukannya puasa itu menahan lapar, bukan memperbanyak tidur?" Eh, sudah mulai bingung.
"Saya Memperdalam Khusyuk dengan Tidur"
Beberapa orang dengan percaya diri mengatakan bahwa mereka tidur untuk menjaga kekhusyukan. Seperti halnya salat yang harus dilakukan dengan penuh konsentrasi, tidur pun harus dilakukan dengan khusyuk. Bisa dibayangkan, tidur mereka itu seperti beribadah. Setiap gerakan tubuh yang digulung di atas kasur adalah proses spiritual. Ada rasa tenang, damai, dan hampir mencapai nirwana... setidaknya sampai adzan Maghrib berkumandang.
"Tidur Itu Biar Nggak Lapar"
Seperti halnya mencoba menunda lapar dengan mengunyah permen, tidur menjadi cara tercepat untuk menghindari godaan perut kosong. "Jangan sampai melihat makanan, nanti lapar," adalah ungkapan yang sering muncul. Jadi, dengan tidur, tubuh akan terjaga dari segala godaan, terutama yang berbentuk nasi goreng atau sambal terasi. Sebuah taktik bertahan hidup yang brilian.
"Tidur Itu Menghemat Energi"
"Kenapa beraktifitas saat bisa tidur?" kata mereka yang memilih menjadi manusia "kucing" selama Ramadhan. Dengan tidur, mereka bisa menghemat energi dan menghindari aktivitas yang dianggap membosankan. Seperti bekerja, belajar, atau bahkan sekadar berbicara dengan orang lain. Jika energi tidak terbuang untuk melakukan hal-hal yang tidak perlu, maka bukankah puasa menjadi lebih ringan?
"Tidur Membantu Menjaga Emosi"
Saat puasa, emosi bisa jadi seperti bahan bakar yang mudah terbakar. Tapi, ada yang berpendapat bahwa tidur bisa mencegah ledakan emosi akibat lapar. Jika puasa adalah ujian, maka tidur adalah solusinya. "Kalau saya tidur, saya nggak marah-marah," ujarnya dengan keyakinan penuh. Jadi, alih-alih berusaha sabar, mereka memilih tidur sebagai cara untuk menenangkan diri. Sepertinya ini adalah bentuk inovasi dalam memahami kesabaran.
"Tidur Itu Juga Bisa Berpahala"
Ada yang mengatakan tidur itu juga bisa jadi pahala jika dilakukan dengan niat yang benar. Tidur di siang hari saat puasa adalah "istirahat yang bernilai ibadah." Namun, tidur yang lama tidak cukup hanya dengan niat, harus juga dilengkapi dengan mimpi indah, mimpi menjadi lebih baik, mimpi mendapatkan surga, dan mimpi-mimpi lain yang lebih menyenangkan daripada menghadapi kenyataan.
"Tidur, Waktu Paling Nyaman"
Waktu terbaik untuk tidur adalah saat tubuh mulai lemas karena kurang makan dan minum. Ini adalah momen yang tepat untuk mendekatkan diri dengan kasur, peluk bantal, dan melupakan dunia sejenak. "Tidur saat puasa itu seperti berkah, apalagi kalau cuaca mendukung," tambah mereka yang tampaknya menikmati proses tidur seperti menikmati es krim di tengah terik matahari.
"Sahur Terlalu Pagi, Tidur Jadi Solusi"
Sahur yang terlalu pagi membuat sebagian orang merasa bahwa tidur adalah solusi terbaik. Jika harus bangun pukul 3 pagi untuk sahur, maka tidur setelah itu adalah kebutuhan utama. "Kalau sudah sahur, tidur lagi saja, supaya tenaga terjaga untuk ibadah malam nanti." Mungkin mereka berpikir bahwa tidur adalah cara terbaik untuk "recover" sebelum melanjutkan ibadah.
"Tidur Itu Kegiatan yang 'Bersih'"
Ada yang berpendapat, tidur adalah kegiatan yang "bersih". Tidak seperti makan, yang membuat mulut kotor atau beraktifitas fisik yang bisa membuat tubuh berkeringat. Tidur tidak menyebabkan seseorang merasa kotor secara fisik atau emosional. Tidak ada yang lebih murni daripada berbaring di kasur sambil berpikir bahwa tidur adalah salah satu bentuk ibadah selama Ramadhan.
"Tidur, Agar Tidak Tergoda Makanan"
Untuk beberapa orang, puasa adalah tantangan besar, terutama terhadap makanan. Alhasil, tidur menjadi strategi efektif untuk menghindari godaan yang datang dalam bentuk makanan. "Daripada terjebak dalam godaan takjil, lebih baik tidur saja," katanya dengan ekspresi penuh keyakinan. Sebuah solusi yang lebih cerdas daripada mencoba menahan lapar dengan mental yang lemah.
"Tidur Itu Penghilang Stres Ramadhan"
Ternyata, ada juga yang merasa bahwa puasa itu bisa membuat stres. Bagaimana tidak, perut lapar, tubuh lemas, belum lagi gangguan pekerjaan atau keluarga. Tidur jadi cara paling mudah dan efektif untuk menghindari stres. "Tidur itu, loh, bikin semua masalah hilang sejenak. Jadi, buat apa stres kalau bisa tidur?" Dan ketika terbangun, rasa lapar tak lagi mengganggu, dan stres pun entah ke mana.
Penutup:
Maka, di tengah segala alasan tidur yang kreatif, kita harus tetap ingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan tidur yang panjang. Ramadhan adalah tentang memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan menjalani hidup dengan kesabaran. Mungkin tidur bisa jadi bagian dari perjalanan itu, tapi jangan sampai tidur kita lebih panjang dari ibadah kita.
(*)
Alat AksesVisi