Ada sesuatu yang aneh dalam peradaban manusia hari ini. Tokoh semakin banyak, tetapi teladan semakin sedikit. Nama-nama besar bertebaran di layar dan panggung dunia, namun hati manusia tetap mencari sosok yang benar-benar layak diikuti.
Kita hidup di zaman ketika manusia mudah dikenal, tetapi tidak mudah dipercaya, mudah dikagumi, tetapi tidak mudah diteladani.Padahal sejarah telah menghadirkan figur yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai teladan terbaik:لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.”(QS. Al-Ahzab: 21)
Jika teladan sempurna telah nyata hadir dalam sejarah, mengapa krisis keteladanan tetap terasa di setiap zaman?
Jawabannya seringkali bukan karena dunia kekurangan figur, tetapi karena manusia lebih sering memilih figur yang menghibur daripada figur yang membimbing. Popularitas sering menggantikan integritas. Sorotan kamera sering dianggap lebih penting daripada sorotan nurani.
Akhirnya, masyarakat mengenal banyak tokoh, tetapi tidak menemukan banyak panutan. Rasulullah SAW. pernah mengingatkan:إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”(HR. Ahmad)
Pesan ini sederhana, tetapi mengguncang, ukuran kehebatan manusia bukan kecerdasannya, bukan kekayaannya, bahkan bukan pengaruhnya, melainkan akhlaknya. Ketika akhlak tidak lagi menjadi standar utama, maka krisis keteladanan menjadi sesuatu yang tidak terelakkan.
Lebih dalam lagi, krisis keteladanan juga lahir dari jarak antara ilmu dan amal. Banyak orang mengetahui nilai kebaikan, tetapi tidak menjadikannya sebagai cara hidup. Al-Qur’an memberi peringatan keras:أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ“Mengapa kalian menyuruh orang lain berbuat baik, tetapi melupakan diri sendiri?”(QS. Al-Baqarah: 44).
Di sinilah letak tragedi moral manusia, kebenaran sering diketahui, tetapi tidak selalu dihidupi. Kata-kata tentang integritas mudah diucapkan, tetapi integritas sendiri membutuhkan keberanian, pengorbanan, dan kejujuran yang tidak selalu nyaman.
Para ulama dahulu memahami bahwa keteladanan bukan dibangun oleh pidato panjang, melainkan oleh konsistensi hidup. Hasan Al-Basri pernah berkata:لَيْسَ الإِيمَانُ بِالتَّمَنِّي وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَّقَهُ الْعَمَلُ“Iman bukan angan-angan, tetapi sesuatu yang menetap di hati dan dibuktikan oleh amal.”
Keteladanan sejati lahir ketika apa yang diyakini hati berjalan seiring dengan apa yang dilakukan tangan. Ketika seseorang tetap jujur saat tidak ada yang melihat, tetap adil saat memiliki kekuasaan, dan tetap rendah hati saat memiliki kelebihan, di situlah keteladanan menemukan maknanya.
Masyarakat sebenarnya tidak terlalu membutuhkan banyak tokoh besar, masyarakat membutuhkan banyak manusia yang hidup dengan nilai besar. Karena sejarah tidak hanya berubah oleh hadirnya figur luar biasa, tetapi oleh hadirnya generasi yang berusaha meniru nilai luar biasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengingatkan:وَحَاجَةُ النَّاسِ إِلَى القُدْوَةِ أَشَدُّ مِنْ حَاجَتِهِمْ إِلَى الكَلَامِ“Kebutuhan manusia terhadap teladan lebih besar daripada kebutuhan mereka terhadap kata-kata.”
Maka mungkin pertanyaan paling penting bagi zaman ini bukan lagi, “Di mana figur teladan itu?” ,Tetapi “Sudahkah aku menjadi bagian kecil dari teladan yang dunia rindukan?”
Karena krisis keteladanan tidak akan pernah selesai hanya dengan mencari tokoh yang sempurna, ia mulai berakhir ketika setiap manusia memutuskan untuk memperbaiki dirinya, diam-diam, konsisten, dan sungguh-sungguh, hingga kehidupannya sendiri menjadi pesan yang tidak perlu banyak kata.
#Wallahu A’lam Bish-ShawabSemoga Bermanfaat
Alat AksesVisi