Sore itu hujan turun tipis di Makassar.
Seperti biasa, pasien saya sudah sepi menjelang pukul enam sore.
Tapi ada satu pasien yang masih duduk di kursi paling ujung ruang tunggu, tidak bergerak, tidak memegang ponsel, hanya menatap lantai dengan pandangan yang jauh menembus lantai granit itu.
Ayu.
Usia dua puluh delapan tahun. Hamil ketiga. Usia kandungan enam bulan.
Saya mengenalnya sejak kehamilan pertamanya. Ia selalu datang dengan senyum yang lebih lebar dari pintu ruangan saya , sambil membawa camilan kecil, menanyakan kabar, tSeperti biasa, pasien saya sudah sepi menjelang pukul enam sore, tertawa dengan suara yang hangat. Setiap kunjungan, ruangan ini terasa lebih hidup.
Hari itu berbeda.
Saya duduk di depannya
"Ayu, ada apa?"
Ia tersenyum. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Tidak apa-apa, Dok. Bayinya sehat kan?"
"Bayinya sehat. Ibunya yang saya khawatirkan."
---
Barulah ia diam. Lalu, perlahan, seperti tembok yang terlalu lama menahan beban. Pun ia bercerita.
Suaminya meninggal lima minggu lalu.
Kecelakaan kerja. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Pagi itu suaminya masih mencium keningnya sebelum berangkat, masih berbisik pelan, "Doakan Ayah, ya." Siang harinya, telepon itu datang.
Ia menceritakannya dengan suara yang nyaris datar. Saya melihat tangannya menggenggam erat ujung bajunya. Tapi saya kira ia sudah terlalu sering menangis hingga air matanya memilih berhenti sejenak, membiarkan kata-kata yang berbicara.
Dua anak kecil di rumah. Ibunya yang renta, butuh obat rutin. Satu bayi dalam kandungan yang akan lahir ke dunia tanpa pernah melihat wajah ayahnya.
Dan ia sendiri , seorang perempuan dengan perut yang membesar, mencoba berdiri tegak di atas tanah yang baru saja longsor di bawah kakinya.
"Saya sudah hubungi beberapa orang, Dok," katanya pelan. "Yang dulu pernah saya bantu waktu mereka susah. Ada yang tidak membalas. Ada yang berjanji akan menghubungi kembali, tapi sampai sekarang belum ada kabarnya."
Dulu saya selalu membantu orang yang datang minta bantuan saya. Hanya saja di saat saya butuh, tak ada yang sudi membantu.
Ia menunduk.
"Saya tidak minta banyak. Saya hanya... tidak tahu harus ke mana lagi."
Air matanya menetes jatuh.
Saya tidak langsung menjawab.
Karena saya tahu, ada momen di mana manusia tidak butuh solusi. Mereka butuh seseorang yang benar-benar hadir.
Yang membuat saya tercenung bukan besarnya kesulitan yang ia hadapi. Saya sudah bertahun-tahun menjadi dokter kandungan dan saya terbiasa dengan berita berat, dengan air mata, dengan kondisi yang tidak mudah.
Yang membuat saya tercenung adalah caranya bercerita.
Tidak ada kepahitan dalam suaranya. Tidak ada dendam terhadap orang-orang yang menghindar. Hanya kelelahan yang dalam , kelelahan dari seseorang yang sudah terlalu lama menjadi tempat bersandar orang lain, dan kini harus belajar berdiri ketika sandarannya sendiri tiba-tiba tiada.
"Ayu," saya bertanya hati-hati, "kamu marah?"
Ia menggeleng pelan.
"Kecewa?"
Terdiam lebih lama.
"Iya. Tapi saya tidak mau menyimpannya lama-lama, Dok." Tangannya menyentuh perutnya, lembut. "Nanti bayinya ikut merasakan."
Saya hampir menangis mendengar itu.
Di usia kandungan enam bulan, baru lima minggu ditinggal suami, dengan dua anak kecil dan seorang ibu renta yang bergantung padanya, pikiran pertamanya tetap bayinya.
Bukan dirinya sendiri.
Bayinya!
Beberapa minggu kemudian, Ayu datang lagi untuk kontrol rutin.
Kali ini senyumnya sudah kembali. Tidak selebar dulu , mungkin tidak akan pernah selebar dulu lagi. Tapi nyata. Dan ada sesuatu di matanya yang sebelumnya tidak ada: ketenangan yang diperoleh dengan cara yang mahal.
Ia bercerita bahwa pertolongan datang dari arah yang tidak pernah ia duga.
Seorang tetangga tua yang jarang berbicara, tiba-tiba menitipkan beras dan lauk setiap dua hari tanpa diminta, tanpa banyak kata. Seorang rekan kerja almarhum suaminya yang tidak terlalu dekat, mengurus dokumen santunan kecelakaan kerja yang Ayu tidak tahu harus mulai dari mana. Seorang ibu dari teman sekolah anaknya, diam-diam membayar iuran sekolah dua bulan ke depan.
"Mereka tidak saya minta, Dok," katanya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tersenyum. "Mereka datang sendiri."
Saya bertanya pelan, "Kamu masih mau terus membantu orang lain, Ayu? Setelah semua yang kamu alami?"
Ia menjawab tanpa ragu.
"Iya, Dok. Tapi sekarang saya sudah tidak menghitung. Dulu, tanpa sadar, saya berharap, kalau saya baik kepada orang, nanti mereka akan baik juga kepada saya. Ternyata tidak selalu begitu."
Ia berhenti sejenak, memandang ke luar jendela yang masih basah sisa hujan pagi.
"Tapi kebaikan tetap kembali, Dok. Hanya tidak selalu lewat pintu yang sama tempat ia keluar."
Saya termenung lama setelah Ayu pulang hari itu.
Ada yang berbeda dari cara ia memahami hidupnya dibandingkan kebanyakan orang. Ia tidak memilih untuk menjadi keras setelah disakiti. Ia tidak memilih untuk menutup tangan setelah tangan itu diabaikan. Ia hanya... meluruskan niatnya. Memurnikan kebaikannya dari segala harap yang tersembunyi.
Dan saya pikir, itulah justru yang membuatnya kuat.
Bukan karena ia tidak merasakan sakit. Ia merasakannya! saya melihatnya sendiri, di genggaman tangannya yang erat, di senyum yang tidak sampai ke mata. Tapi ia memilih untuk tidak membiarkan rasa sakit itu menjadi penjara.
"Kebaikan yang paling mulia adalah kebaikan yang dilakukan tanpa mengingat-ingat dan tanpa mengharapkan balasan." (Imam Al-Ghazali)*
........
Saya sudah bertahun-tahun menemani perempuan-perempuan melewati momen paling rentan dalam hidup mereka — melahirkan, kehilangan, memulai. Saya kira saya yang selalu menjadi penyampai kabar, pemberi ketenangan.
Tapi Ayu mengingatkan saya:
Kadang pasien datang bukan hanya untuk diperiksa. Mereka datang untuk mengajarkan sesuatu yang tidak ada di buku kedokteran mana pun....
Bahwa kekuatan terbesar seorang manusia bukan kemampuannya bertahan dari kesulitan.
Tapi kemampuannya untuk tetap tegar, tetap bersangka baik, setelah mengetahui bahwa dunia tidak selalu membalas dengan adil.
Dan bahwa kebaikan yang tulus, yang tidak menghitung, yang tidak menuntut balasan , pada akhirnya selalu menemukan jalan pulang.
Hanya saja ia tidak selalu mengetuk pintu yang sama.
******
Ditulis dari ruang praktik, untuk mengingatkan diri sendiri bahwa pasien bukan hanya mengajarkan kita tentang penyakit, mereka juga mengajarkan kita tentang kehidupan.
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
(QS. Al-Insyirah: 6)
Alat AksesVisi