Gambar Tanam Dulu Dirimu

 اِدْفِنْ وُجُودَكَ فِي أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نِتَاجُهُ  

“Kuburkanlah keberadaanmu di tanah khumul; sebab sesuatu yang tumbuh dari benih yang tidak ditanam, tidak akan sempurna buahnya.”

Hikmah ini, kembali hadir tadi malam, dalam pertemuan rindu dengan beberapa orang teman yang telah lama tak bersua. Banyak cerita dan hikmah kehidupan yang terbagi di depan kopi gula aren, malam itu. Salah satunya adalah hikmah ini. 

Dalam hidup, ada kalanya kita terlalu ingin segera terlihat. Ingin dikenal, dihargai, dianggap penting, bahkan kadang tanpa sadar ingin diakui sebagai orang yang paling berjasa. Kita ingin amal kita tampak, ilmu kita disebut, dan kontribusi kita dihitung. Padahal, dalam perjalanan ruhani, justru keinginan untuk “tampak” itulah yang sering menghalangi tumbuhnya keberkahan.

Ibn ‘Aṭha’illah As Sakandari mengajarkan satu hikmah yang sangat menggugah: kuburkanlah dirimu di tanah khumul (tersembunyi). Sebuah keadaan ketika hati tidak haus panggung. Ia tetap bekerja, tetapi tidak bergantung pada pujian. Ia tetap berjuang, tetapi tidak menggantungkan semangatnya pada sorotan manusia.

Mengapa harus “dikubur”? Karena sebuah benih tidak pernah menjadi pohon besar yang menjulang ke langit, kecuali setelah ia ditanam, masuk ke dalam tanah, tertutup, tak terlihat. Di sanalah akar mulai bekerja. Benih yang dibiarkan di permukaan mungkin tetap terlihat, tetapi tanaman seperti itu, akan tumbuh, namun cepat kering, mudah rusak, dan sulit menghasilkan buah yang matang, akan sulit menjulang ke langit. 

Amal yang lahir dari jiwa yang belum ditanam di dalam tanah, sering tampak besar, tetapi rapuh. Ia mudah goyah oleh kritik, mudah letih ketika tidak diapresiasi, dan mudah kecewa ketika orang lain lebih disorot. 

Hikmah ini terasa sangat relevan di zaman sekarang, ketika banyak orang berlomba untuk tampil sebelum terlebih dahulu menanam egosentrisme dirinya. Memang, kini kita hidup di masa ketika citra sering didahulukan daripada isi, pengakuan lebih dicari daripada kedalaman, dan sorotan lebih dikejar daripada keberkahan. Kita selalu berharap menjadi pohon yang menjulang, padahal akar belum kuat. Benih jiwa belum ditanam di bawah tanah tersembunyi. 

Barangkali, yang paling kita butuhkan bukanlah panggung yang lebih luas, tetapi tanah yang lebih dalam. Bukan nama yang lebih dikenal, tetapi hati yang lebih bersih. Bukan pengaruh yang lebih cepat, tetapi akar yang lebih kokoh. Sebab yang tumbuh dari kedalaman biasanya lebih tahan lama, lebih teduh, dan lebih bermanfaat.

Nampknya, tidak semua kebaikan harus segera terlihat. Tidak semua perjuangan harus segera dikenal. Ada amal-amal yang justru menjadi besar karena dikerjakan dalam diam. Ada orang-orang yang paling berpengaruh justru karena mereka tidak sibuk membesarkan dirinya. Karena itu, mungkin, hari ini kita tidak perlu bertanya, “Bagaimana agar aku terlihat?” Tetapi lebih penting bertanya, “Sudahkah aku benar-benar berakar?” Karena pada akhirnya, bukan yang cepat tumbuh yang sangat kita butuhkan, tetapi yang paling dalam akarnya dan paling matang buahnya. Asykurak, ya Habibi, Shaifullah, Muhaimin wa Cangkelo.

(*)