Gambar T O P E N G

"Dok, saya boleh curhat?"

Saya mengangguk.

Mahasiswa itu duduk di depan saya. Anak yang pendiam. Selama beberapa semester saya mengajarnya, saya hampir tidak pernah mendengar suaranya di kelas. Ia datang tepat waktu, mengikuti kuliah dengan baik, lalu pulang. Tidak banyak bergaul, tidak suka menjadi pusat perhatian. Tipikal introvert.

Hari itu, raut wajahnya berbeda.

"Dok, saya sedang sedih dan bingung."

"Bingung kenapa?"

"Saya merasa tidak pernah punya masalah dengan siapa pun. Saya juga tidak suka ikut-ikut urusan orang. Tapi kenapa tetap ada yang tidak suka sama saya? Ada yang mengejek saya. Ada yang memelintir omongan saya. Yang paling bikin sedih, ada yang baik di depan, ternyata ngomongin saya di belakang."

Ia berhenti. Lalu menatap saya.

"Salah saya apa, Dok?"

Saya tidak langsung menjawab.

Pertanyaan itu terlalu sering saya dengar. Bukan hanya dari mahasiswa. Dari sejawat, sahabat, bahkan dari orang-orang yang usianya jauh lebih tua.

Lama-kelamaan saya menyadari, rupanya setiap orang pernah berada di titik itu. Titik ketika kita merasa sudah berusaha tidak menyakiti siapa pun, tetapi tetap saja ada yang tidak menyukai kita.

Saya hanya berkata pelan,

"Kamu sedang belajar tentang manusia."

Dulu saya juga berpikir hidup ini sederhana.

Kalau kita baik kepada orang, orang akan baik kepada kita.

Kalau kita jujur, orang akan menghargai kejujuran.

Kalau kita tidak mengganggu siapa pun, tidak akan ada yang mengganggu kita.

Ternyata tidak.

Hidup tidak sesederhana itu.

Ada orang yang memang tulus menyukai kita. Mereka hadir tanpa pamrih. Ikut senang ketika kita berhasil, ikut sedih ketika kita gagal.

Tetapi selalu ada kelompok yang lain.

Ada yang tidak suka karena iri.

Ada yang tidak suka karena salah paham.

Ada yang bahkan tidak tahu alasan mengapa ia tidak menyukai kita.

Dan yang paling melelahkan adalah mereka yang memakai topeng persahabatan. Di depan tersenyum, di belakang menyusun cerita. 

Di depan memuji, di belakang berharap kita jatuh.

Semakin bertambah usia, saya justru semakin hati-hati memberikan kepercayaan. Bukan karena ingin hidup dengan penuh kecurigaan. Tetapi karena saya belajar bahwa wajah manusia tidak selalu sama dengan isi hatinya.

Saya teringat kalimat Marcus Aurelius:

"The best revenge is not to be like your enemy."

"Balas dendam terbaik adalah tidak menjadi seperti musuhmu."»

Kalimat yang sederhana namun dalam. 

Jangan sampai karena bertemu orang yang licik, kita ikut menjadi licik.

Jangan sampai karena disakiti, kita merasa berhak menyakiti.

Jangan sampai karena dikhianati, kita kehilangan kemampuan untuk tetap tulus.

Mungkin orang-orang yang tidak menyukai kita sedang menjalankan perannya dalam hidup kita. Mereka memaksa kita belajar. 

Belajar untuk tidak haus validasi. Belajar memilih teman. Belajar mengenali karakter manusia. Dan yang paling penting, belajar menggantungkan nilai diri kepada Allah, bukan kepada penilaian manusia.

Sebelum mahasiswa itu pulang, saya hanya mengatakan satu hal.

"Kamu tidak perlu menghabiskan tenaga untuk membuat semua orang menyukaimu."

Karena itu tidak akan pernah terjadi!

Bahkan para nabi, manusia terbaik yang pernah berjalan di muka bumi, tetap memiliki orang-orang yang membenci mereka.

Ia tersenyum tipis.

Saya bernapas lega. Sepertinya ia sudah mulai paham.

Dan saya pun masih terus belajar.

Belajar menerima bahwa dunia ini tidak hanya hitam dan putih.

Ada satu hal yang selalu ingin saya jaga: 

jangan sampai hati saya berubah hanya karena hati orang lain sudah lebih dulu berubah.

Pada suatu masa,  yang akan Allah tanyakan bukan berapa banyak orang yang menyukai kita, melainkan bagaimana kita menjaga akhlak kita ketika berhadapan dengan mereka yang tidak menyukai kita.

Semoga bermanfaat.

Malino, 1 Agustus 2026