Gambar Spiritualitas yang Membumi: Jejak Sufistik Syekh Yusuf al-Makassari

Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh perang, kebencian identitas, dan perebutan kuasa global, pemikiran para sufi terasa kembali menemukan relevansinya. Konflik Amerika Serikat dan Iran, misalnya, tidak hanya memperlihatkan pertarungan geopolitik, tetapi juga tragedi kemanusiaan yang menghancurkan kehidupan sipil. Ribuan orang kehilangan rumah, anak-anak menjadi korban perang, dan kemanusiaan perlahan terkikis oleh ambisi politik global. 

Dalam situasi seperti itu, warisan spiritual Syekh Yusuf al-Makassari menghadirkan pesan penting: agama seharusnya menjadi jalan menghadirkan kasih sayang, bukan legitimasi kebencian. Spiritualitas tidak boleh berhenti pada ritual individual, tetapi harus menjelma menjadi kesadaran kemanusiaan.

Melalui karya Zubdatul Asrar, Syekh Yusuf memperlihatkan bahwa tasawuf bukan sekadar pengalaman mistik yang menjauh dari dunia. Tasawuf justru merupakan proses penyucian batin agar manusia mampu hidup lebih bijaksana di tengah sesama. Jalan menuju Tuhan, dalam pandangannya, harus melahirkan akhlak sosial: menghormati manusia, merawat kehidupan, dan menghindari permusuhan.

Karena itu, jejak sufistik Syekh Yusuf sangat membumi. Ia tidak memandang spiritualitas sebagai pelarian dari realitas sosial. Seorang sufi bukan hanya orang yang rajin berzikir, tetapi juga pribadi yang menghadirkan keteduhan dalam kehidupan bersama. Kedekatan kepada Tuhan harus tercermin dalam kelembutan terhadap manusia.

Salah satu pesan penting dalam pemikiran Syekh Yusuf adalah pentingnya membersihkan hati dari egoisme spiritual. Dalam banyak konflik, agama sering berubah menjadi identitas yang keras. Orang merasa paling benar lalu kehilangan kemampuan melihat kemanusiaan orang lain. Akibatnya, agama tidak lagi menjadi sumber rahmat, tetapi sumber permusuhan.

Syekh Yusuf justru menempuh jalan sebaliknya. Ia menekankan bahwa perjalanan spiritual harus melahirkan kerendahan hati. Semakin dekat manusia kepada Tuhan, semakin sadar pula ia akan keterbatasan dirinya. Kesadaran inilah yang melahirkan sikap terbuka, toleran, dan tidak mudah menghakimi orang lain.

Dalam Zubdatul Asrar, tampak bahwa inti tasawuf bukan sekadar hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia. Spiritualitas sejati tidak diukur dari simbol-simbol kesalehan, melainkan dari kemampuan menghadirkan kedamaian sosial.

Pemikiran ini terasa sangat relevan di era modern ketika dunia mengalami krisis kemanusiaan. Perang tidak lagi sekadar menghancurkan bangunan, tetapi juga menghancurkan empati manusia. Orang lebih sibuk membela identitas politik dan mazhab daripada membela nilai kemanusiaan itu sendiri. Konflik global sering dibungkus dengan bahasa agama, keamanan, dan nasionalisme, padahal korban terbesarnya tetap manusia biasa. 

Di sinilah tasawuf Syekh Yusuf menawarkan alternatif moral. Ia mengingatkan bahwa agama kehilangan maknanya ketika gagal menjaga martabat manusia. Kesalehan individual tidak cukup jika tidak melahirkan kepedulian sosial.

Salah satu dimensi penting dalam pemikirannya adalah semangat hidup bersama dalam perbedaan. Walaupun teguh dalam keyakinan Islam, Syekh Yusuf tidak membangun spiritualitas yang eksklusif dan memusuhi kelompok lain. Ia memandang manusia sebagai ciptaan Tuhan yang harus dihormati.

Pandangan ini sering dikaitkan dengan spirit wahdatul adyan, yakni kesadaran bahwa kehidupan bersama di tengah perbedaan adalah bagian dari realitas kemanusiaan. Bukan berarti semua agama disamakan, tetapi manusia diajak menyadari bahwa kebencian atas nama agama hanya akan melahirkan kerusakan sosial.

Karena itu, tasawuf Syekh Yusuf bukan tasawuf yang pasif. Ia adalah spiritualitas etis yang berpihak pada perdamaian dan kemanusiaan. Jalan sufi bukan jalan melarikan diri dari dunia, tetapi jalan memperbaiki dunia melalui akhlak dan cinta kasih.

Hari ini, ketika dunia semakin terbelah oleh fanatisme identitas dan kepentingan geopolitik, pesan Syekh Yusuf terasa semakin penting. Dunia modern memiliki teknologi yang maju, tetapi sering kehilangan kebijaksanaan spiritual. Manusia mampu membangun senjata paling canggih, tetapi gagal menjaga belas kasih terhadap sesama.

Jejak sufistik Syekh Yusuf al-Makassari akhirnya mengajarkan satu hal mendasar: kedekatan kepada Tuhan seharusnya membuat manusia lebih manusiawi. Sebab agama tanpa kemanusiaan hanya akan melahirkan kekerasan, sedangkan spiritualitas yang membumi akan selalu menghadirkan kedamaian.

Jakarta, 11 Mei 2026