Jika kita memperhatikan kehidupan rumah tangga selama Ramadhan, ada satu energi yang sering luput dari perhatian, padahal ia menjadi penopang utama suasana spiritual keluarga. Energi itu adalah energi perempuan, terutama para ibu di dalam rumah.
Sejak awal Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri, banyak rumah tangga dipenuhi aktivitas yang tidak pernah benar-benar berhenti. Menjelang waktu berbuka, dapur menjadi ruang yang paling hidup. Ada suara peralatan masak, aroma makanan yang mulai tercium, dan kesibukan menyiapkan hidangan untuk keluarga.
Ketika malam tiba dan anggota keluarga sudah beristirahat, aktivitas itu sering belum selesai. Sebagian ibu masih merapikan dapur, membersihkan rumah, atau mempersiapkan kebutuhan untuk sahur. Beberapa jam kemudian, ketika sebagian orang masih terlelap, mereka kembali bangun untuk menyiapkan makanan sahur.
Rutinitas ini berlangsung hampir setiap hari selama sebulan penuh.
Namun menariknya, semua itu sering dilakukan tanpa banyak keluhan. Ia berjalan seperti sebuah ritme alami dalam kehidupan keluarga. Banyak orang menikmati hidangan berbuka dan sahur tanpa benar-benar menyadari bahwa di baliknya ada kerja sunyi yang dilakukan dengan penuh kesabaran.
Di sinilah kita melihat satu sisi spiritualitas perempuan yang sangat khas. Spiritualitas tidak selalu hadir dalam bentuk ritual yang terlihat di ruang publik. Ia juga hidup dalam pekerjaan sehari-hari yang dilakukan dengan niat tulus. Bagi banyak perempuan, dapur bukan sekadar ruang memasak. Ia adalah ruang pengabdian, ruang kasih sayang, dan ruang di mana cinta kepada keluarga diwujudkan dalam bentuk yang sangat konkret.
Ketika seorang ibu menyiapkan makanan untuk keluarganya di bulan Ramadhan, ia sebenarnya sedang menjalankan sebuah ibadah sosial yang sangat dalam. Ia memastikan anak-anaknya dapat berbuka dengan tenang. Ia memastikan suaminya memiliki tenaga untuk beribadah. Ia memastikan rumah tetap menjadi tempat yang hangat bagi semua anggota keluarga.
Semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa pelayanan kepada keluarga juga merupakan bagian dari pengabdian kepada Tuhan.
Dalam banyak tradisi Islam, perempuan memang sering digambarkan sebagai penjaga kehidupan rumah tangga. Namun peran ini bukan sekadar fungsi domestik. Ia memiliki dimensi spiritual yang sangat kuat.
Kesabaran, ketelatenan, dan ketulusan yang ditunjukkan oleh banyak perempuan dalam menjalani peran itu adalah bentuk spiritualitas yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat nyata.
Ironisnya, dalam kehidupan modern, kerja sunyi seperti ini kadang kurang dihargai. Masyarakat sering mengagungkan prestasi yang terlihat di ruang publik, sementara pengorbanan yang terjadi di dalam rumah dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja.
Padahal banyak keluarga dapat menjalani Ramadhan dengan tenang justru karena ada perempuan yang menjaga ritme kehidupan di dalam rumah.
Spiritualitas tidak selalu harus tampil dalam bentuk ceramah, khutbah, atau kegiatan besar di masjid.
Ia juga hidup dalam kesabaran seorang ibu yang bangun lebih awal untuk menyiapkan sahur. Ia hadir dalam ketulusan seorang perempuan yang memastikan keluarganya dapat menjalani ibadah dengan nyaman.
Spiritualitas perempuan sering bekerja dalam kesunyian, tetapi dampaknya sangat luas.Mungkin karena itu banyak orang selalu merasakan suasana Ramadhan yang hangat ketika berada di rumah bersama ibu. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan. Seolah-olah rumah itu dipenuhi energi kasih sayang yang membuat semua orang merasa diterima.
Energi itu tidak lahir dari sesuatu yang besar, tetapi dari ketulusan yang dilakukan setiap hari. Ramadhan mengajarkan kita bahwa ibadah tidak selalu diukur dari seberapa terlihatnya ia di mata manusia, tetapi dari seberapa tulus ia dilakukan untuk kebaikan orang lain.
Sering kali cahaya Ramadhan di sebuah rumah tidak datang dari lampu yang terang, tetapi dari ketulusan seorang ibu yang menyalakan dapur sebelum fajar.
Sungguminasa 25 Ramadhan 1447 H
Alat AksesVisi