Gambar SPBU: Tangki Menjerit, Sopir Merana

KEMARIN malam saya baru pulang dari perjalanan melintasi beberapa kabupaten. 

Di mana-mana pemandangannya sama: antrean kendaraan mengular di setiap SPBU. Dari kejauhan saya sempat mengira ada hajatan besar. Begitu mendekat, ternyata bukan. Para sopir cuma sedang berburu solar.

Entah sejak kapan mengantre BBM naik kelas menjadi olahraga nasional. Cabangnya bukan angkat besi, melainkan angkat sabar. Hadiahnya juga unik: kalau beruntung tangki terisi penuh, kalau apes pulang membawa wajah mappakereng-kereng na mappote-pote.

Rasanya lebih mudah menemukan durian montong harga murah daripada menemukan SPBU tanpa antrean.

Pengalaman pahit itu makin nyata saat saya ikut mengantre di sebuah SPBU di Maros kemarin subuh. 

Berjam-jam mobil hanya merayap sejengkal demi sejengkal, sampai akhirnya tinggal dua mobil lagi di depan saya. 

Dada mulai berbunga-bunga. Perasaan saya melambung, persis suporter yang tim kesayangannya baru mendapat hadiah penalti pada menit ke-90. Sebentar lagi tangki bakal penuh, batin saya sambil nyengir sendiri.

Tiba-tiba sopir truk di depan turun. Wajahnya kusut, langkahnya pelan, sorot matanya seperti dokter spesialis hewan hendak menyampaikan kabar hasil laboratorium. Ia mengetuk kaca mobil saya, lalu berkata santai, "Solar habis pak!".

Waduh!!!

Seketika harapan ambruk tanpa sempat mengucapkan istigfar. Bintang-bintang berputar di luar kepala.

Deretan doa sabar yang sejak tadi saya wiridkan mendadak berubah menjadi helaan napas panjang di dalam kabin. 

Rasanya seperti sudah berdiri paling depan di antrean prasmanan pesta, eh... panitianya malah mengumumkan, "Maaf, makanannya habis." Ambo cilaka

Sisa bahan bakar di tangki makin kritis. Jarum indikator seolah berubah profesi menjadi penceramah, terus-menerus mengingatkan agar segera bertobat... eh, segera mengisi BBM. 

Lampu indikatornya berkedip lebih rajin daripada notifikasi grup WhatsApp keluarga. Seolah-olah berteriak, "Cepat cari solar sebelum saya pensiun!"

Saya pun merayap pelan menuju Makassar dengan sisa BBM yang tinggal mengandalkan doa. Mata saya mendadak berubah profesi menjadi radar pencari SPBU. Untung tidak susah menemukannya. Sekarang saya tak lagi mencari papan SPBU. Cukup cari kerumunan truk yang mengular. Di situlah biasanya solar sedang diperebutkan.

Alhamdulillah, di depan Hotel Dalton masih ada SPBU buka 24 jam. Hati saya kembali berbunga. Siapa tahu rezeki isi tangki belum diserahkan kepada sopir lain. Dalam hati saya berdoa, semoga kali ini yang penuh bukan cuma harapan, tetapi juga tangki mobil.

Saya kembali mengambil nomor antrean untuk ketiga kalinya. Kalau antrean ini diberi kartu anggota, sepertinya saya sudah berhak mendapat diskon pelanggan setia.

Sesampainya di sana, saya malah disambut episode baru. Persis sinetron televisi. Satu masalah selesai, masalah berikutnya langsung muncul sebelum pemirsa sempat pindah saluran.

Sebuah truk takkancing mogok tepat setelah mengisi solar, persis di mulut jalur keluar SPBU.

Kalau mogoknya lima meter lebih jauh, mungkin tidak jadi pusat perhatian se-SPBU.

Sopirnya melambai-lambai meminta bantuan. Lucunya, yang dimintai tolong justru para sopir yang masih berpuasa solar di dalam antrean. 

Baru kali ini saya melihat orang belum menikmati rezekinya, tetapi tenaganya sudah lebih dulu disedekahkan.

Masyaallah, Di tengah sulitnya mencari solar, ternyata mencari orang baik masih jauh lebih mudah. 

Para sopir truk berdatangan tanpa dikomando, spontan mengulurkan tangan. Belum sempat bertanya asal kampung, apalagi pilihan politik, mereka sudah lebih dulu menyumbangkan tenaga.

Melihat pemandangan itu, saya yang kebetulan antre tepat di belakang truk ikut turun tangan. Maklum, sesama anak cucu Adam, sama-sama korban panjangnya antrean BBM.

Dalam sekejap suasana berubah heboh. Para sopir memasang kuda-kuda lalu serempak mendorong truk dengan wajah kepayahan. Badannya kelihatan