Dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad tidak memilih berlama-lama dalam kekhusyukan pribadi ketika ada urusan sosial yang mendesak. Beliau pernah mempercepat shalat karena mendengar tangisan anak, agar ibunya tidak gelisah. Beliau berdiri membantu para janda dan orang miskin, bahkan disebutkan lebih utama daripada i’tikaf yang panjang. Ketika ada jenazah lewat, beliau berdiri menghormatinya, sebuah isyarat bahwa kemanusiaan tidak kalah penting dari ritual. Ibadah dalam Islam tidak dipisahkan dari kepedulian sosial.
Terdapat sebagian orang yang rajin tahajud, fasih tilawah, suka puasa sunat, selalu fokus pada ritualitas personal, tetapi abai pada relasi sosial. Inilah yang kita maksud dengan “saleh di langit, asing di bumi.”
Ramadan sejatinya bukan hanya ujian hubungan vertikal (hablum minallah), tetapi juga hubungan horizontal (hablum minannas). Puasa melatih empati. Lapar yang kita rasakan seharusnya membuat kita peka pada mereka yang lapar sepanjang tahun. Jika ibadah tidak melahirkan solidaritas, mungkin ada yang terlewat dalam pemahamannya.
Dalam Al-Qur'an, keimanan berulang kali dirangkaikan dengan amal saleh. Artinya, iman tidak berdiri sendiri sebagai keyakinan batin, tetapi menuntut tindakan konkret. Bahkan dalam banyak ayat, kepedulian pada yatim dan miskin menjadi indikator kebenaran agama seseorang. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak membenarkan kesalehan yang hanya berhenti di sajadah.
Kesalehan simbolik saat ini dengan mudah terlihat dan mendapat pengakuan sosial. Foto tarawih, video tilawah, status tentang sedekah, semuanya bisa dipamerkan. Tetapi membangun sistem bantuan bagi tetangga yang kesulitan, mendamaikan konflik keluarga, atau menjaga keadilan di tempat kerja, itu kerja sunyi yang tidak selalu mendapat tepuk tangan. Di sinilah Ramadhan menguji ketulusan.
Tahajud itu mulia. Tilawah itu cahaya. Namun cahaya itu seharusnya menerangi sekitar, bukan hanya menghangatkan diri sendiri. Jika seseorang khusyuk di masjid tetapi kasar kepada pasangan, atau rajin bersedekah ke tempat jauh tetapi menutup mata pada penderitaan di depan rumahnya, maka ada jarak antara langit dan bumi dalam dirinya.
Momentum Ramadan ini sejatinya mengubah doa-doa dari sebatas diksi menjadi aksi. Mengubah zikir menjadi etika. Mengubah puasa menjadi pembelaan terhadap yang lemah. Kesalehan sejati bukan pada seberapa lama kita berdiri dalam shalat, tetapi seberapa jauh kita berdiri untuk keadilan dan kepekaan sosial.
Ramadan adalah momentum rekonsiliasi antara langit dan bumi. Ia tidak memerintahkan kita memilih salah satu, tetapi menyatukan keduanya. Langit memberi orientasi, bumi memberi ruang aplikasi. Tanpa langit, kita kehilangan arah. Tanpa bumi, kita kehilangan makna dan pijakan.
Tuhan tidak hanya mencari suara doa yang menggema ke langit, tetapi juga memperhatikan tangan-tangan yang bekerja di bumi. Dan sebaik-baik Ramadan adalah ketika kita tidak hanya dikenal saleh di hadapan Tuhan, tetapi juga dirindukan oleh manusia karena kebaikan.
Khairunnas anfauhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya)
Sungguminasa,7 Ramadhan 1447 H(*)
Alat AksesVisi