Suatu sore saya berjalan santai bersama seorang teman, menikmati udara yang relatif tenang di sebuah area kota, di sektor lorong yg relatif tidak terlalu besar. Percakapan kami mengalir ringan, seperti orang yang sedang melepas penat setelah hari yang panjang. Tiba-tiba sebuah mobil melintas perlahan di depan kami. Kaca mobil itu gelap, sehingga sulit melihat siapa yang berada di dalamnya.
Secara spontan saya melemparkan senyuman, sebuah sapaan sederhana kepada orang yang bahkan tidak saya kenal.
Teman yang berjalan di samping saya tampak heran. Ia berkata, “Kenapa harus tersenyum? Kita juga tidak tahu siapa di dalam mobil itu. Dia juga tidak membuka kaca jendelanya. Kita bahkan tidak tahu apakah dia menoleh atau tidak.”
Saya tersenyum kembali mendengar komentarnya. Lalu saya menjawab dengan sederhana, “Saya tidak peduli apakah dia membuka kaca mobil atau tidak. Saya juga tidak tahu apakah dia melihat saya atau tidak. Tapi niat saya adalah menyapa orang lain dengan senyuman. Itu sudah cukup.”
Percakapan kecil itu sebenarnya mengandung pelajaran yang cukup dalam tentang cara manusia memandang kebaikan.
Banyak orang melakukan kebaikan dengan satu harapan agar kebaikan itu berbalas. Ketika mereka memberi salam, mereka berharap salamnya dijawab dengan hangat. Ketika mereka menolong orang lain, mereka berharap orang itu suatu hari akan membalas bantuan tersebut. Ketika mereka bersikap baik, mereka berharap diperlakukan baik pula.
Harapan itu wajar. Manusia memang memiliki naluri timbal balik. Tetapi jika setiap kebaikan selalu dihitung dengan balasan, maka kebaikan itu perlahan berubah menjadi transaksi.
Dalam banyak ajaran Islam, kebaikan tidak selalu diukur dari respon manusia, tetapi dari niat yang ada di dalam hati. Rasulullah bahkan menyebut bahwa senyuman kepada orang lain adalah sedekah. Sedekah yang sangat sederhana, tetapi memiliki nilai yang besar karena ia lahir dari niat untuk menyenangkan hati orang lain.
Senyuman yang tulus tidak selalu membutuhkan panggung besar. Ia bisa muncul di jalan, di pasar, di kantor, atau bahkan kepada orang yang tidak kita kenal sama sekali. Siapa tahu dengan senyum yang kita lemparkan membuat harinya tidak gundah.
Ramadhan sebenarnya adalah sekolah keikhlasan untuk mempraktikkan hal-hal seperti ini.
Puasa melatih manusia untuk melakukan sesuatu bukan karena dilihat orang lain, tetapi karena kesadaran spiritual di dalam dirinya. Menyapa orang lain dengan senyum, mendoakan orang lain meskipun mereka tidak mendoakan kita, atau berbuat baik tanpa berharap pujian adalah bentuk kecil dari keikhlasan itu. Kebaikan seperti ini sering tidak terlihat besar, tetapi justru di situlah nilai spiritualnya.
Bayangkan jika setiap orang menunggu balasan sebelum berbuat baik. Dunia akan menjadi tempat yang sangat kaku dan penuh perhitungan. Sebaliknya, jika manusia terbiasa menebar kebaikan tanpa menuntut balasan, maka kehidupan sosial akan terasa jauh lebih hangat.
Senyuman yang kita berikan kepada orang asing mungkin tampak sederhana. Kita tidak tahu apakah ia membalasnya atau tidak. Kita juga tidak tahu apakah ia sedang memperhatikannya atau tidak. Tetapi mungkin saja, pada saat itu, orang yang kita sapa sedang melalui hari yang berat. Dan mungkin saja, senyuman kecil itu menjadi cahaya kecil yang ia butuhkan.
Kebaikan yang paling indah bukanlah yang mendapat balasan cepat, tetapi yang tetap dilakukan meskipun tidak terlihat oleh siapa pun. Karena itu, tebarkanlah kebaikan seperti senyuman di jalan, mungkin tidak semua orang melihatnya, tetapi Tuhan selalu mengetahuinya.
Sungguminasa 24 Ramadan 1447 H
Alat AksesVisi