"Ibu... kenapa sih orang harus sekolah tinggi-tinggi?"
Pertanyaan itu datang dari putri saya, Alisha, yang masih duduk di bangku SD.
Saya menghentikan sejenak aktivitas, lalu menatap wajahnya.
"Menurut Alisha, untuk apa orang sekolah tinggi?"
Ia berpikir beberapa detik, lalu menjawab dengan polos.
"Supaya dapat gelar?"
Saya tersenyum. "Lalu?"
"Supaya dapat kerja yang bagus?"
Saya mengangguk.
"Lalu... supaya jadi orang penting? Punya jabatan? Biar dihormati orang?"
Saya kembali mengangguk.
Kemudian saya bertanya pelan,
"Kalau ada orang yang sekolah tinggi2 sampai luar negeri, gelarnya banyak, jabatannya tinggi, tapi suka menghina orang, tidak jujur, sombong, dan tidak amanah... menurut Alisha, apakah dia benar-benar berhasil?"
Alisha terdiam.
Beberapa saat kemudian ia menjawab pelan,
"Kayaknya... belum ya, Bu."
Saya tersenyum.
"Itulah yang sering dilupakan banyak orang."
Sekolah memang penting.
Ilmu juga sangat penting.
Gelar adalah sesuatu yang patut disyukuri.
Jabatan bisa menjadi jalan untuk memberi manfaat.
Tetapi semuanya akan kehilangan makna ketika tidak dibangun di atas akhlak.
Saya lalu berkata kepada Alisha,
"Nak, tujuan belajar bukan hanya supaya kamu pintar. Tapi supaya kamu tahu mana yang benar, mana yang salah. Membuat kamu lebih bijak dalam emnilai dan menyikapi sesuatu"
Karena sesungguhnya, orang yang berilmu belum tentu beradab.
Tetapi orang yang benar-benar beradab, akan tahu bagaimana menghormati ilmu.
Bukankah hari ini kita sering melihat kenyataan yang membuat hati miris?
Ada yang pendidikannya sangat tinggi, tetapi lisannya tajam melukai. Attitude berada di belakang panjangnya gelar.
Ada yang gelarnya berderet, tetapi kejujurannya hilang. Adabnya menguap.
Ada yang jabatannya tinggi, tetapi amanahnya rendah.
Namun, Ada pula yang pendidikannya sederhana, namun tutur katanya lembut, hatinya penuh kasih, dan hidupnya membawa manfaat bagi banyak orang.
Saat itulah saya teringat sebuah nasihat yang begitu indah:
"Ilmu tanpa adab ibarat api tanpa cahaya; ia bisa membakar, tetapi tidak menerangi."
Dan sebuah ungkapan yang selalu layak kita renungkan:
"Adab sebelum ilmu, karena ilmu tanpa adab akan melahirkan kesombongan, sedangkan adab akan mengantarkan ilmu menjadi keberkahan."
Lalu saya bertanya lagi kepada Alisha.
"Kalau nanti Alisha sudah besar, ingin jadi orang yang pintar atau orang yang baik?"
Ia tersenyum.
"Kalau bisa... dua-duanya, Bu."
Saya memeluknya.
"Itulah tujuan pendidikan yang sesungguhnya."
Bukan memilih antara ilmu atau akhlak.
Tetapi menjadikan ilmu yang melahirkan akhlak, dan akhlak yang menjaga ilmu.
Karena sehebat apa pun gelar yang disandang, orang akan lebih lama mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka.
Seperti kata bijak yang sangat dalam maknanya:
"Pendidikan menghasilkan orang yang pandai. Akhlak menghasilkan orang yang mulia."
Dan nasihat yang sering dinukil dari para ulama:
"Akhlak adalah buah dari ilmu. Jika ilmu tidak membuahkan akhlak, maka ada yang perlu diperbaiki dalam cara kita belajar."
Semoga anak-anak kita tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang cerdas dalam menjawab soal.
Tetapi juga menjadi generasi yang lembut lisannya, jujur perilakunya, rendah hatinya, kuat amanahnya, dan luas manfaatnya.
Dunia mungkin pada awalnya mengenal kita melalui gelar yang tertulis di belakang nama.
Namun manusia akan mengenang kita melalui akhlak yang kita tinggalkan.
Sebab tujuan tertinggi pendidikan bukanlah sekadar melahirkan orang-orang yang cerdas, melainkan membentuk manusia yang berilmu, beradab, dan berakhlak mulia.
#Ujung dari pendidikan, adalah akhlak.