Gambar Sedikit, Asal Berkesinambungan

Sepuluh malam pertama Ramadhan telah berlalu. Ia datang seperti tamu agung, dan kini perlahan menjauh, meninggalkan jejak doa, lapar yang mendidik, serta air mata yang mungkin tak terlihat siapa pun selain Allah.

Pertanyaannya bukan sekadar: apa yang sudah kita lakukan?
Tetapi lebih dalam: apa yang telah berubah dalam diri kita?

Dalam tradisi populer umat Islam, sepuluh hari pertama Ramadhan sering disebut sebagai fase rahmat (kasih sayang Allah). Walau pembagian ini tidak secara eksplisit disebut dalam hadis sahih yang kuat, maknanya sejalan dengan spirit Ramadhan sebagai bulan penuh rahmat, sebagaimana ditegaskan dalam banyak riwayat.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan bahwa awal perjalanan spiritual adalah fase takhalli—mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela. Sepuluh malam pertama dapat dipahami sebagai proses pembersihan lahir dan batin: menahan amarah, menjaga lisan, dan melatih keikhlasan. Rahmat Allah turun bukan hanya pada mereka yang lapar dan dahaga, tetapi pada mereka yang bersungguh-sungguh memperbaiki niat.

Sementara itu, Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa Ramadhan adalah madrasah tarbiyah ruhiyah—sekolah pembinaan spiritual. Sepuluh hari pertama adalah masa adaptasi: tubuh menyesuaikan diri dengan ritme puasa, dan jiwa mulai dilatih untuk tunduk. Jika pada fase ini kita berhasil membangun disiplin shalat berjamaah, tilawah, dan sedekah, maka kita telah meletakkan fondasi yang kokoh untuk dua puluh hari berikutnya.

Secara psikologis, para pakar perilaku menyebut adanya fenomena initial motivation surge—lonjakan motivasi di awal sebuah komitmen baru. Ramadhan sering dimulai dengan semangat tinggi: masjid penuh, mushaf terbuka, tekad membuncah. Namun, tantangannya adalah konsistensi.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif mengingatkan bahwa amal yang dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit. Maka, berlalunya sepuluh malam pertama menjadi cermin: apakah semangat kita stabil, menurun, atau justru meningkat?

Jika ada kekurangan, jangan berputus asa. Ramadhan belum selesai. Justru muhasabah di titik ini adalah tanda kesadaran ruhani. Orang yang lalai tidak pernah merasa kurang.

Dikisahkan seorang sufi besar, Hasan al-Basri, pernah berkata:
“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dirimu ikut pergi.”

Suatu malam di awal Ramadhan, murid-muridnya melihat beliau menangis.
Mereka bertanya, “Apakah engkau takut tidak bertemu Lailatul Qadar?”
Beliau menjawab, “Aku menangisi hari yang telah pergi dan tak kembali. Jika hari itu berlalu tanpa peningkatan iman, maka aku telah rugi.”

Ada pula kisah tentang Rabi'ah al-Adawiyah. Ketika memasuki Ramadhan, beliau berkata, “Ya Allah, jika aku beribadah karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya.
Jika karena berharap surga, jauhkan aku darinya. Tetapi jika karena cinta kepada-Mu, jangan Engkau palingkan wajah-Mu dariku.” Bagi Rabi’ah, setiap malam Ramadhan adalah ruang cinta, bukan sekadar ruang pahala.

Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa nilai sepuluh malam pertama bukan pada hitungan matematisnya, tetapi pada kedalaman kesadaran kita.

Kini kita memasuki fase berikutnya—yang sering dimaknai sebagai fase ampunan. Jika sepuluh malam pertama adalah pembersihan, maka sepuluh malam kedua adalah pendalaman. Rahmat melahirkan harapan, dan harapan melahirkan kesungguhan untuk diampuni.

Bagi kita hari ini, mungkin pertanyaannya sederhana;  Apakah tadarrus kita bertambah? Apakah lisan kita lebih terjaga? Apakah empati sosial kita meningkat?

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang menumbuhkan kesadaran sosial. Lapar membuat kita merasakan derita yang miskin. Haus membuat kita ingat nikmat yang sering diabaikan.

Sepuluh malam pertama telah pergi—dan ia tak akan kembali hingga tahun depan, itupun jika kita masih diberi umur. Namun rahmat Allah belum tertutup. Ramadhan masih terbentang.

Mari jadikan sisa hari sebagai peningkatan kualitas, bukan sekadar pengulangan rutinitas. Jika awalnya kita berlari, jangan berhenti. Jika awalnya kita berjalan tertatih, jangan menyerah.

Karena sejatinya, Ramadhan bukan tentang siapa yang paling cepat memulai, tetapi siapa yang paling istiqamah hingga akhir.

Allah A’lam
Makassar, 28 Februari 2026