Di tengah bulan suci, dunia dikejutkan oleh kabar serangan besar-besaran Amerika Serikat, dan Israel terhadap Iran yang berujung pada wafatnya Ali Khamenei dan sebagian ada anggota keluarganya. Bagi sebagian orang, ini sekadar berita geopolitik. Tetapi bagi umat Islam, peristiwa seperti ini selalu mengguncang ruang batin kolektif, bagaimana mungkin negeri-negeri Muslim terus berada dalam pusaran konflik, tekanan, dan perpecahan?
Ramadhan seharusnya menjadi bulan rekonsiliasi, bukan hanya antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga antara sesama manusia. Namun realitas dunia Islam sering memperlihatkan potret yang retak. Umat yang memiliki kitab yang sama, Nabi yang sama, dan kiblat yang sama, sering terpecah oleh kepentingan politik, ideologi, mazhab, bahkan sentimen kebangsaan.
Ini bukan hanya soal teologi. Ini soal bagaimana identitas dibentuk dan dipertahankan. Identitas mazhab, organisasi, dan negara sering kali lebih dominan daripada identitas keumatan. Nasionalisme memang penting, tetapi ketika ia mengalahkan solidaritas kemanusiaan dan ukhuwah, ia berubah menjadi pagar yang terlalu tinggi.
Ironinya, kita begitu disiplin merapatkan saf dalam shalat, tetapi tidak cukup disiplin merapatkan hati dalam kehidupan sosial. Kita membaca ayat yang sama tentang persaudaraan, tetapi menafsirkannya dengan kacamata kelompok masing-masing. Kita mengutuk penjajahan dan ketidakadilan global, namun dalam ruang domestik kita masih gemar menyalahkan, membid’ahkan, bahkan mengafirkan saudara sendiri.
Persatuan bukan berarti menyeragamkan. Persatuan bukan menghapus perbedaan mazhab atau pandangan politik. Persatuan adalah kesediaan untuk menahan ego kelompok demi kemaslahatan bersama. Ia adalah kemampuan untuk berbeda tanpa bermusuhan.
Umat Islam tidak kekurangan jumlah, tidak kekurangan sumber daya, tidak kekurangan intelektual. Yang sering kurang adalah kelapangan hati. Kita mudah tersinggung, mudah bereaksi, mudah memvonis. Padahal Nabi mengajarkan kelembutan sebagai fondasi dakwah dan persaudaraan.
Peristiwa-peristiwa global seharusnya menyadarkan kita bahwa musuh terbesar umat bukan hanya kekuatan eksternal, tetapi juga rapuhnya solidaritas internal. Jika hati kita saling curiga, maka persatuan hanya slogan. Jika ukhuwah hanya muncul di mimbar, tetapi hilang di media sosial, maka Ramadhan belum benar-benar menembus jiwa.
Ramadhan adalah madrasah penyatuan. Kita lapar bersama. Kita berbuka bersama. Kita berdiri dalam tarawih bersama. Bukankah itu simbol bahwa perbedaan latar belakang tidak menghalangi kebersamaan?
Umat yang kuat bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling kokoh persatuannya. Jika kita tak mampu menghentikan badai dunia, setidaknya jangan kita ciptakan badai di antara sesama
Sungguminasa, 12 Ramadhan 1447 H(*)
Alat AksesVisi