Manusia sering terjebak pada kecenderungan melihat perbedaan, bukan persamaan. Kita lebih peka terhadap hal-hal yang memisahkan daripada yang menyatukan. Apalagi jika perbedaan itu berada di wilayah teologis. Meskipun bukan pada ranah ushuliyah (pokok-pokok akidah), melainkan hanya pada wilayah dharuriyah atau furuiyah (cabang-cabang praktik), tetap saja ia kerap membesar menjadi sumber ketegangan. Dari sinilah perpecahan perlahan menemukan pintunya.
Islam mengajarkan bahwa perbedaan dalam cabang adalah keniscayaan ijtihad. Para sahabat berbeda dalam memahami detail, tetapi tetap bersatu dalam iman. Yang menjadi masalah bukan perbedaannya, melainkan cara menyikapinya.
Rasulullah saw pernah menegaskan sebuah prinsip fundamental persaudaraan. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dalam Shahih-nya, Nabi bersabda:
“Barang siapa yang shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka ia adalah Muslim. Ia berada dalam jaminan Allah dan Rasul-Nya. Maka janganlah kalian melanggar jaminan Allah terhadapnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar.
Pesannya sangat jelas. Indikator keislaman itu sederhana dan lahiriah, syahadat, shalat, kiblat, dan sembelihan. Selama itu ada, maka statusnya adalah Muslim dan berada dalam perlindungan Allah. Tidak ada ruang untuk saling mengganggu, apalagi mengafirkan.
Namun dalam realitas sosial, sekat-sekat justru sering kita bangun sendiri. Perbedaan qunut atau tidak, jumlah rakaat tarawih, metode zikir, tahlilan, maulidan, hingga pilihan mazhab fiqh, berubah menjadi identitas eksklusif. Kita lupa bahwa kiblat kita satu, kitab kita satu, Nabi kita satu. Ironinya, kita berdiri dalam satu arah saat shalat, tetapi memalingkan hati saat keluar dari masjid.
Identitas kelompok mamamg bisa lebih dominan daripada identitas keumatan. Ketika afiliasi mazhab atau organisasi menjadi simbol superioritas, ukhuwah menjadi rapuh. Perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan berubah menjadi alat fragmentasi.
Kita harus bertanya ke dalam diri terdalam, mengapa kita lebih mudah menemukan alasan untuk berdebat daripada alasan untuk berpelukan? Mengapa kita lebih sigap menjaga argumen daripada menjaga hati saudara?
Satu kiblat seharusnya cukup menjadi alasan untuk satu barisan. Satu syahadat seharusnya cukup menjadi dasar satu persaudaraan. Jika Allah masih memberi label “Muslim” kepada mereka yang bersujud ke arah yang sama, siapa kita hingga begitu ringan mencabutnya?
Jangan biarkan perbedaan cabang merobohkan akar persaudaraan.
Jangan jadikan furuiyah sebagai tembok yang memisahkan hati.
Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukan kemenangan dalam perdebatan, melainkan ketulusan dalam menjaga persatuan.
Sungguminasa, 11 Ramadhan 1447 H
Alat AksesVisi