Gambar Santri Melek Digital, Pilar Menuju Indonesia Emas 2045

Dulu, santri identik dengan sarung, peci, dan kitab kuning. Hari ini adalah hari santri setiap 22 Oktober ,ketiganya tetap melekat, tetapi ada satu tambahan: gawai di genggaman. Perubahan kecil ini menyimpan pertanyaan besar: akankah santri hanya menjadi pengguna teknologi, atau justru penggeraknya? Peringatan Hari Santri tahun ini menjawabnya dengan jelas: santri harus tampil menguatkan negeri, termasuk di ranah digital.

Dunia kini sedang bergerak cepat. Kecerdasan buatan, platform pembelajaran daring, dan media sosial telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berkomunikasi. Indonesia Emas 2045 menuntut generasi yang berpengetahuan luas, terampil, berkarakter kuat, dan mampu berinovasi. Santri, sebagai bagian penting dari generasi muda bangsa, tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perubahan ini.

Teknologi digital membuka pintu yang sangat lebar bagi santri untuk belajar dan berdakwah. Kitab-kitab klasik kini dapat diakses secara daring, kajian keislaman bisa diikuti dari mana saja, dan dakwah dapat menjangkau jutaan orang melalui satu unggahan. Santri yang kreatif dapat menghasilkan konten edukatif, video kajian singkat, desain grafis bernuansa islami, hingga membangun usaha berbasis teknologi.

Namun, setiap peluang selalu membawa tantangan. Ruang digital juga dipenuhi berita bohong, ujaran kebencian, penipuan, dan konten yang merusak akhlak. Tanpa literasi digital yang memadai, santri bisa terjebak menjadi penyebar hoaks atau korban kejahatan siber. Karena itu, kemampuan memeriksa kebenaran informasi, melindungi data pribadi, dan bermedia sosial secara santun menjadi keterampilan wajib bagi santri masa kini.

Menariknya, Islam telah lama menyiapkan pedoman untuk menghadapi banjir informasi. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Ayat ini sejatinya adalah fondasi literasi digital yang paling kokoh. Prinsip tabayyun mengajarkan agar setiap informasi diperiksa sebelum dipercaya, apalagi dibagikan. Di era ketika satu sentuhan jari dapat menyebarkan kabar ke ribuan orang dalam hitungan detik, ajaran ini terasa semakin relevan. Santri yang memegang teguh prinsip tabayyun akan menjadi penyaring informasi yang andal di tengah masyarakat. Tabayyun juga menuntut kebiasaan menahan diri: tidak tergesa-gesa membagikan tangkapan layar, judul provokatif, atau potongan video tanpa konteks. Kebiasaan sederhana ini, bila dilatih sejak di pesantren, akan membentuk karakter santri yang jernih berpikir dan tidak mudah terprovokasi.

Selain waspada, santri juga tidak cukup hanya cakap menggunakan teknologi. Santri harus mampu menjadi kreator: menghasilkan inovasi, menyebarkan konten positif, dan mengembangkan potensi lokal. Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Ausath, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' no. 3289)

Hadis singkat ini menjadi motivasi kuat agar kecakapan digital santri diarahkan untuk kemaslahatan. Website pesantren yang informatif, aplikasi pembelajaran Al-Qur'an, konten dakwah yang menyejukkan, hingga usaha kreatif berbasis pesantren adalah wujud nyata kebermanfaatan tersebut. Inisiatif Santri Matic yang diangkat Kementerian Agama pada Hari Santri 2026 menjadi contoh baik bagaimana literasi digital dan kreativitas santri dapat dikembangkan sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif.

Meski demikian, penguatan kompetensi digital tidak berarti meninggalkan tradisi pesantren. Justru nilai-nilai pesantren, seperti kedisiplinan, kejujuran, penghormatan kepada guru, dan pembiasaan akhlak mulia, menjadi modal berharga dalam memanfaatkan teknologi. Kemajuan digital tanpa akhlak hanya akan melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah. Sebaliknya, akhlak yang dipadukan dengan kecakapan teknologi akan melahirkan generasi yang unggul dan beradab.

Tentu saja, upaya mewujudkan santri melek digital tidak bisa dibebankan kepada pesantren semata. Pemerintah perlu memperluas akses infrastruktur teknologi hingga ke pesantren di pelosok desa dan pulau terpencil. Perguruan tinggi dapat berperan melalui pelatihan dan pendampingan. Masyarakat dan dunia usaha dapat membuka ruang kolaborasi bagi karya-karya santri. Para kiai dan ustaz pun memegang peran kunci sebagai teladan, membimbing santri agar teknologi digunakan untuk ilmu dan dakwah, bukan sekadar hiburan, pimpinan pondok pesantren Annahdlah makassar Prof.Dr.H. Afifuddin Harisah, Lc,M.Ag., beliau mengatakan bahwa  santri yang dulu sudah beda santri yang sekarang sudah saatnya melek digital.

Pada akhirnya, santri masa kini dituntut memadukan kedalaman ilmu agama dengan kecakapan teknologi. Dengan semangat belajar, kreativitas, kemandirian, dan akhlak mulia, santri bukan hanya siap menyongsong masa depan, tetapi juga turut membangun Indonesia yang maju, berdaya saing, dan berkeadaban pada 2045.

Santri melek digital, berakhlak mulia, berkarya untuk negeri, menuju Indonesia Emas 2045