Gambar Santri dan Hidden Curriculum

Orang luar mungkin mengira pesantren hanya mengajarkan mengaji, menghafal al-Qur’an, membaca kitab kuning, belajar nahwu-sharaf, dan berbagai ilmu keislaman lainnya. Padahal, bagi orang yang pernah menjadi santri, pesantren sesungguhnya adalah “Universitas Ketahanan Hidup Versi Extreme”

Di sana santri belajar banyak hal yang tidak pernah diujikan dalam ujian semester.  Bagaimana bangun sebelum ayam berkokok (bagaimana mungkin ayam sempat berkokok saat kami bangun, tengah malam kami sudah diburu bangun tahajud, kecuali kalau ayamnya juga ikut tahajud), bagaimana memasak dan mencuci sendiri (persis lirik lagu Caca Handika yaitu Angka Satu), bagaimana sepuluh orang berbagi makanan sementara lauknya sebenarnya hanya cukup untuk lima orang (matematika kalkulus pun mungkin angkat topi lihat kelihaian bagi-baginya), bagaimana mengelola kepanikan menghadapi guru yang tiba-tiba menunjuk untuk membaca kitab gundul (bagaimana tidak panik, dalam lembaran kitab gundul di tangan santri itu terselip potongan koran berita piala dunia yang asyik dibaca), dan  sederet aktivitas lainnya yang apabila diakumulasikan melebihi 144 SKS yang harus diselesaikan seorang sarjana.

Itulah yang dalam bahasa akademik disebut hidden curriculum, kurikulum tersembunyi. Kurikulum yang tidak pernah tertulis, tetapi justru sering kali paling lama melekat dalam ingatan (kesan-kesan versi hidden kurikulum ini lebih kental mengisi ruang reuni alumni daripada kembali membahas isi Alfiyah Ibnu Malik, Fathul Muin, Tanwirul Qulub, dan yang lainnya)

Suatu hari, seorang santri mendapat giliran memasak. Masalahnya, ia terlambat bangun. Ketika santri lain sudah sibuk dengan aktivitas pagi, ia baru menyadari bahwa dirinya mendapat tugas menyediakan nasi, lauk dan sayur.

Pergi ke pasar sudah terlambat. Uang mungkin ada, tetapi waktu sudah tidak ada. Dalam situasi seperti itu, santri biasanya menemukan satu kemampuan yang sangat jarang diajarkan di sekolah formal yaitu kreativitas karena keterdesakan. Kami dulu di pesantren menyebutnya, aji kepepet (situasi kepepet memaksa kami menjadi kreatif layaknya lakon Sangkuriang yang diminta oleh Dayang Sumbi membuat danau dan perahu dalam waktu semalam) 

Santri tersebut melihat sekeliling. Nasi dan lauk ada tapi sayur yang tidak ada. Sementara dalam kehidupan santri, sayur adalah menu wajib yang hitung-hitung memperlancar tenggorokan menerima masuknya nasi dan lauk yang boleh jadi hanya sebutir telur dengan garam satu sendok supaya menjadi “super asin” dan tidak cepat habis. Saat itu, matanya tertuju pada tanaman bunga hias milik guru kami. Dipetiklah daun bunga hias tersebut kemudian dimasak menjadi sayur.

Ketika tiba waktunya makan, para santri yang sudah kelaparan langsung menyerbu. Mereka makan dengan lahap. Tidak ada yang bertanya terlalu banyak. Namanya juga santri yang lapar setelah energi banyak terserap dengan belajar siang malam. Dalam kondisi tertentu, standar gastronomi santri memang agak berbeda dengan standar restoran bintang lima. Sayurnya habis. Semua kenyang. Tetapi ada satu orang yang sejak tadi tidak ikut makan yaitu “sang koki”. Ketika semua sudah selesai makan, barulah ia mengambil bagiannya. Teman-temannya bertanya dengan nada penasaran:

"Kenapa dari tadi kamu tidak ikut makan?"

Dengan wajah polos ia menjawab bahwa ada sesuatu yang perlu mereka ketahui. Sayur yang mereka makan tadi bukan sayur biasa. Daunnya berasal dari bunga hias milik guru kami. Mendengar pengakuan tersebut, bukannya marah, para santri malah tertawa terpingkal-pingkal. Bukankah itu hidden curriculum? Yang berawal dari adanya kreativitas di sela keterbatasan lalu berujung pada adanya maaf di sela keusilan.

Tetapi pertanyaan berikutnya lebih menarik:
"Kalau kamu sendiri tahu daun itu dari bunga hias, kenapa tidak ikut makan dari awal?"

Jawabannya sungguh mencengangkan:
"Saya tunggu dulu efek sampingnya. Siapa tahu beracun."

Oh my God, yang sudah terlanjur makan sayurnya bagaimana kalau memang beracun? Soal efek sampingnya? Tunggu saja setelah lulus.”