Menjadi santri di pondok pesantren ternyata tidak hanya soal menghafal tafsir, hadis, fikih, dan berbagai kitab kuning. Santri juga dibekali dengan berbagai keterampilan hidup. Pada waktu-waktu tertentu, kami diajarkan pertanian, perkebunan, perbengkelan, pertukangan, dan keterampilan lainnya. Maklum, santri harus dipersiapkan menghadapi kehidupan. Jangan sampai tamat mondok, tahunya hanya cara membaca kitab, tetapi ketika melihat cangkul malah mengira itu alat untuk mengukur panjang harakat.
Salah satu keterampilan yang paling berkesan bagi kami ketika mondok adalah bela diri sendeng. Bela diri ini identik dengan gerakan cepat dan pertarungan jarak dekat. Gerakannya tidak banyak basa-basi. Kalau sudah mulai bergerak, tangan dan kaki seperti sudah punya urusan masing-masing.
Kami dibimbing oleh seorang guru yang sangat kami segani, sebut saja berinisial “S”. Semoga Allah senantiasa merahmati beliau. Penampilan beliau benar-benar mencerminkan seorang pendekar. Badannya tegap, otot-ototnya berurat, kulitnya mengilap, dan sorot matanya membuat kami berpikir dua kali untuk bercanda ketika latihan.
Kalau Gatotkaca yang bertulang besi dan berurat kawat kebetulan lewat, mungkin ia akan berhenti sebentar, melihat beliau dari ujung kaki sampai kepala, lalu berkata dalam hati, “Wah, ini saingan saya!”
Latihan dilaksanakan dua kali seminggu. Setiap kali latihan, kami dikenakan iuran seribu rupiah per orang. Bagi kami waktu itu, seribu rupiah memang bukan jumlah yang terlalu besar. Tetapi ternyata, bagi santri, ada satu ilmu yang tidak pernah diajarkan di perguruan bela diri mana pun yaitu ilmu menghilangkan diri ketika ditagih iuran.
Pada latihan perdana, beliau dengan tegas mengingatkan kami agar bersungguh-sungguh. Kami cukup terkesan. Di balik wajahnya yang terlihat sangar, ternyata nasihat beliau tidak kalah lembutnya dengan seorang kiai.
Di sela-sela nasihatnya, beliau mengucapkan sebuah ungkapan yang sangat populer:
“Man jadda wajada.”
Barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan hasil.
Dengan penuh keyakinan beliau berkata,
“Kalau anak-anakku bersungguh-sungguh, kalian akan memperoleh banyak manfaat dengan belajar bela diri sendeng ini. Kalian tidak hanya akan mampu membela diri dari orang jahat, tetapi jasmani kalian akan sehat. Bahkan rohani kalian juga akan sehat.”
Kami mengangguk penuh semangat.
Dalam hati mungkin ada yang berpikir, “Wah, lengkap sekali. Badan sehat, jiwa sehat, bisa bela diri pula. Tinggal satu lagi: mudah-mudahan iuran juga sehat.”
Kemudian beliau menepuk dadanya dengan penuh keyakinan.
“Sepanjang hidup saya, tidak ada seorang penjahat pun yang bisa membuat saya lari. Perampok, pencuri, pembunuh, atau apa pun jenis orang jahatnya tidak akan pernah membuat saya lari. Saya hanya takut kepada Allah Swt.”
Kami semakin kagum.
Guru kami memang pendekar sejati. Penjahat tidak membuat beliau mundur. Perampok tidak membuat beliau gentar. Pencuri tidak membuat beliau berlari. Bahkan pembunuh pun tidak membuat beliau kehilangan keberanian.
Latihan pun dimulai.
Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Tanpa terasa, sudah sekitar enam bulan kami belajar di bawah bimbingan beliau. Jurus demi jurus sudah kami kuasai. Ada yang gerakannya mulai lincah, ada yang masih kaku, dan ada pula yang kalau disuruh menendang masih harus memastikan dulu bahwa kaki yang diangkat memang kakinya sendiri.
Jumlah santri yang ikut latihan tetap cukup banyak. Semangat latihan juga masih menyala.
Tetapi ada satu persoalan yang mulai mengkhawatirkan.
Iuran seribu rupiah mulai tersendat.
Ketika ditagih, alasan para santri mulai beragam.
“Uangnya belum dikirim dari kampung, Pung”
“Insyaallah kiriman datang minggu depan, Pung”
“Masih menunggu orang tua, Pung”
“Besok saya bayar, Pung”
Masalahnya, “besok” itu ternyata mempunyai umur yang sangat panjang. Besok datang, lalu berubah menjadi besok lagi. Begitu seterusnya.
Sampai suatu sore, setelah latihan selesai, kami melakukan cooling-down. Suasana agak santai. Napas mulai teratur. Keringat masih mengucur. Kami duduk sambil mendengarkan nasihat guru.
Namun sore itu ada yang berbeda. Beliau menarik napas panjang. Kemudian dengan suara berat, beliau berkata,
“Anak-anakku, santri yang saya cintai…”
Kami langsung memasang telinga. Mungkin beliau hendak mengajarkan jurus baru. Ternyata bukan. Beliau melanjutkan,
“Kalian telah memberi saya pelajaran yang sangat berharga.”
Kami semakin penasaran. Beliau diam sejenak, lalu berkata,
“Selama ini saya bangga mengatakan bahwa tidak ada seorang penjahat pun yang bisa membuat saya lari. Saya merasa kekuatan dan kelincahan saya dalam bela diri sendeng membuat saya tidak takut kepada siapa pun.”
Kami mengangguk. Beliau kemudian menundukkan kepala sedikit.
“Tetapi hari ini saya sadar…”
Kami semakin serius.
“Kalian, para santri, ternyata telah membuat saya terpaksa “melarikan diri” dari latihan ini.”
Kami terdiam. Mungkin ada yang mulai bertanya dalam hati,
“Siapa di antara kita yang memukul guru?”
Beliau kemudian melanjutkan,
“Bukan karena kalian kuat. Bukan karena jurus kalian hebat. Bukan pula karena saya kalah dalam bela diri.”
Kami semakin penasaran. Lalu beliau berkata dengan suara yang terdengar getir,
“Saya harus berhenti karena istri dan anak-anak saya juga butuh makan. Kalian mulai tidak lancar membayar iuran.”
Hening. Tidak ada jurus yang bisa kami keluarkan. Tidak ada tendangan yang bisa menyelesaikan persoalan. Tidak ada pukulan yang pantas diarahkan kepada siapa pun. Kami hanya bisa menundukkan kepala. Hari itu kami akhirnya memahami sebuah pelajaran yang jauh lebih dalam daripada sekadar teknik bela diri.
Selama ini kami mengira musuh terbesar seorang guru bela diri adalah perampok, pencuri, atau pembunuh. Ternyata, bagi seorang guru bela diri yang mencari nafkah dari keterampilannya, ada musuh yang jauh lebih sederhana tetapi sangat nyata yaitu kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda.
Memang guru kami pernah berkata bahwa tidak ada penjahat yang mampu membuatnya berlari. Tetapi ternyata bukan penjahat yang membuat beliau pergi. Tidak lancarnya iuran dari santri yang beririsan dengan kebutuhan keluarga membuat beliau akhirnya harus “LARI”
(Semoga Allah swt. senantiasa melimpahkan rahmat-Nya bagi guru kami “S” dan menjadikan ilmu yang beliau ajarkan sebagai amal yang tidak terputus).